MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 47. Sisi lain Bian Pratama Hady


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Setelah selesai makan dengan keluarga nya, Varo segera memutuskan untuk pulang kerumahnya.


...💜💜💜💜💜...


Varo menatap Villia. Villia sedang marah untuk saat ini. Villia beranjak pergi tanpa mengatakan apapun kepada Varo.


Varo mengikuti Villia. Villia masuk kekamar aksesoris nya. Dia terdiam menatap dua tumpukan surat nota pembelian gelang dan kalung yang harganya selangit.


Villia mengambil gelang yang serupa dalam surat nota itu dan menunjukkan ke Varo.


"Aku membelinya di pasar loak."


"Apakah hari ini sudah terjadi sesuatu?" tanya Varo tak mengerti dengan maksud Villia.


Villia kembali menunjukkan nota gelang itu kepada Varo untuk kedua kalinya.


"Apa kamu tahu tentang nota gelang ini?"


"Tidak. Aku tidak tahu."


"Kamu benar - benar nggak tau atau hanya pura - pura nggak tau?" Villia terus menodong pertanyaan - pertanyaan kesuami nya itu.


"Nota gelang apa ini?"


"Bukankah ini nota gelang yang kamu berikan kepada Dhea? Dan aku sudah melihat Dhea memakai nya waktu di acara ulang tahun tempo hari. Jika aku sudah tak berarti untuk mu tinggal kan aku. Kamu tahu kan kalau gelang dan kalung itu sudah lama aku impikan untuk aku miliki. Dan lebih mirisnya lagi, kamu memakai kartu debit ku untuk membayar semua belanjaan mu itu, tanpa sepengetahuan ku. Tega kamu." ucap Villia dan kini bukan hanya mulutnya yang bicara tapi matanya pun turut bicara mewakili perasaannya saat ini.


"Aku tidak mengerti apa maksud mu?"


"Sudahlah lupakan saja."


Villia meletakkan kembali gelang itu kesamping kalungnya.


"Apa kamu yakin, kalau kamu baik - baik saja?"


Namun, Villia enggan untuk menjawabnya.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Villia


"Tentu. Aku sudah makan."

__ADS_1


"Makan dimana? Bersama siapa?" tanya Villia dengan pertanyaan sedetail mungkin. Varo mulai tak mengerti dengan istrinya itu. Jika selama ini Villia memilih cuek, acuh tak acuh tapi hari ini seperti ada yang berbeda dari sikap diam sang istri yang ditampilkan selama ini.


"Dirumah Mama."


"Apa yang kamu makan disana? Apa hanya ada kamu disana ataukah Dhea juga ada disana bersama kamu dan Mama?"


"Ada apa dengan mu?"


Villia tiba - tiba marah, "Kan aku hanya bertanya kamu makan apa disana. Kenapa kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ku?"


Varo mulai kesal, dia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya kemudian menghubungi Mama Widya.


"Hallo sayang ada apa?" tanya Mama Widya diseberang sana.


"Mah, tadi Varo makan dirumah Mama. Varo makan apa disana?"


"Makan kimchi sawi kesukaan kamu. Kenapa? Apa ada yang salah dengan makanannya?"


"Tidak ada yang salah. Bye ... bye." Varo mengakhiri telepon nya bersama sang Mama.


"Apa kamu yakin kamu baik - baik saja?" tanya Varo sembari menatap wajah Villia.


"Tidak. Untuk saat ini ... untuk saat ini, aku baik - baik saja. Tapi aku tidak memiliki keyakinan untuk itu."


"Apa maksudmu?"


Villia hendak melangkah pergi, namun Varo menahannya. Varo kemudian memeluk Villia.


"Kurasa aku kurang sehat hari ini." ucap Villia yang saat ini masih ada dalam pelukan sang suami.


"Jika kamu merasa kurang sehat, pergilah temui dokter. Dan kamu jangan suka berfikiran yang aneh - aneh tentang aku, karena aku hanya mencintaimu dan aku sangat menyayangimu tidak ada wanita yang lain dihati ku selain kamu, Mama dan Sameeya. Percaya pada ku sekali ini saja!"


Namun Villia tak menggubris kalimat Varo, malahan Villia semakin mempererat pelukannya.


...💜💜💜💜💜...


Keesokan harinya, Villia pergi menghadiri seminar healing talk Dokter Bian. Bian selain aktif di perusahaan, dia juga aktif di kedokteran.


Villia melihat orang - orang memasukkan kertas kedalam sebuah kotak yang ada di depan pintu.


Villia berjalan mendekati resepsionis dan resepsionis memberi Villia kertas dan pena.


"Silahkan tulis ke khawatiran mu di kertas ini!"

__ADS_1


Setelah menulis sesuai dengan perintah si resepsionis Villia kemudian memasukan kertasnya kedalam kotak kecil yang sudah di sediakan.


Seminar healing talk Dokter Bian di mulai.


"Orang yang terus selingkuh memiliki kecanduan lalu membentuk kebiasaan buruk. Ada cara untuk menghentikan semua itu sekaligus. Bercerai. Tepatnya. Tapi, bercerai setelah kamu mampu mandiri secara finansial."


Semua yang hadir disana memberi tepuk tangan untuk Dokter Bian.


"Haruskah kita mendengar kan beberapa kekhawatiran dari mereka yang datang hari ini?"


Dokter Bian mengambil secarik kertas di dalam kotak kemudian membacanya.


"Suamiku sempurna, suami yang hebat, suami yang manis, dan seorang pengusaha sukses dan terhormat yang sempurna. Tetapi dia memiliki wanita lain. Aku sangat bingung memikirkan sisi lain dirinya yang sebelumnya belum pernah aku pertimbangkan. Aku merasa seperti rumah tangga yang telah aku lindungi dengan begitu banyak usaha akan hancur dalam semalam.


Villia gugup mendengar Dokter Bian membaca tulisannya. Dokter Bian tiba - tiba saja menatap ke arah Villia.


"Kamu memiliki dua pilihan. Jangan mencoba mencari tahu dan mempercayainya sampai akhir. Atau mencari tahu dan temukan segalanya lalu mengakhiri untuk selamanya. Terserah keputusan yang mana yang akan kamu ambil. Suamimu? Kebahagiaan mu? Orang lain? Jangan khawatir tentang apa yang mereka pikirkan. Menjalani kehidupan dimana kamu membuat dirimu bahagia dari pada orang lain akan menjadi hidup tanpa penyesalan. Harap ingat itu.


Seminar selesai. Dokter Bian mengajak Villia keruangan nya. Dokter Bian menyuguhkan Villia teh hangat.


"Apa kamu menyukai seminar nya?" tanya dokter Bian.


"Aku sangat menyukainya."


"Apa kamu menyukai solusi yang aku sarankan?"


Villia kaget, "Apa maksud mu?"


"Kenapa ekspresi mu seperti itu? Solusi yang aku berikan kepada orang yang kekhawatiran nya aku bacakan dengan lantang bagaimana itu?"


"Entahlah, kau mengatakan kepada mereka untuk menjalani hidup untuk diri mereka sendiri, tapi siapa yang tidak tahu itu? Tetap saja, tidak ada yang bisa hidup seperti itu."


"Kenapa tidak?" tanya Dokter Bian sembari menatap pasien dihadapan nya itu yang tak lain adik ipar nya sendiri.


Villia menghirup udara segar kemudian mengeluarkan nya secara perlahan, "Hidup untuk diri sendiri ... sulit untuk mengetahui apa itu sebenarnya. Aku tidak bisa memisahkan keluargaku dari hidup ku sendiri."


"Itu pemikiran umum untuk wanita yang sudah menikah."


"Itu dilema." ucap Villia sembari membasahi tenggorokan nya dengan teh buatan Bian.


Tiba - tiba terlintas ide konyol dibenak Bian untuk menggoda wanita yang pernah dulu dia cintai namun cinta mereka harus kandas ditengah jalan lantaran sang adik yang lebih dulu meminang sang pujaan hati. Sejak saat itu, Bian tertutup dari wanita dan hari - hari nya dia gunakan untuk terus belajar dan bekerja hingga dia bisa sampai pada titik ini. Bukan hal yang mudah untuk Bian lewati hingga bisa seperti sekarang ini. Jatuh bangun dalam sebuah hubungan bagi dia itu sudah hal biasa.


"Bisakah aku bertanya sesuatu? Kenapa bukan aku? sebagai suami mu, kenapa bukan aku?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Villia yang benar - benar tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Bian barusan.


"Maksud ku, aku selalu penasaran kenapa bukan aku yang kamu cintai? Kenapa bukan aku yang menikahi kamu? Apa alasannya?"


__ADS_2