MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 52. Kecewa 2.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Saat ini, mereka sedang berbaring di atas ranjang. Mereka baru saja selesai melakukan hubungan terlarang seperti hari - hari sebelumnya.


"Ngomong - ngomong apa yang terjadi dengan paman ku? Dia bukan tipe orang yang mudah menyerah."


...Flashback...


Varo mendekati Pak Dimas yang sedang menunggunya diruangannya malam acara pelantikan itu.


"Pak Dimas?" tanya Varo.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Karena kamu sangat sibuk, aku akan langsung ke intinya. Jika aku membuka mulutku, kamu pasti tahu kan? Apa yang akan terjadi denganmu?"


"Kontrak. Aku akan memberikan nya padamu."


Pak Dimas kaget, "Apa?"


"Mari kita perbaharui kontrak nya!"


...Flashback end...


"Sudahlah kamu tidak usah memikirkannya lagi. Aku sudah membereskan semuanya. Itu berjalan dengan sesuai yang telah di rencakan. Dia tidak akan menggangu mu lagi."


"Itu melegakkan. Kamu sekarang telah mencapai segalanya."


"Belum."


"Itu masih belum cukup untuk mu?" tanya Dhea.


"Aku ingin menjadi ketua. Aku ingin menjadi yang teratas. Menjadi orang yang kedua bukanlah hal yang aku inginkan."


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada mu. Aku ingin kita memiliki bayi. Bukan, aku ingin kita memiliki anak."


Dhea lantas berusaha meyakinkan Varo, jika di kemudian hari mereka memiliki anak Dhea tidak akan merepotkan Varo atas bayi itu.


"Aku akan membesarkan bayi kita sendirian. Aku sangat menginginkan bayi. Aku ingin anak dari mu."


Varo tidak setuju.


"Jika kamu bertindak seperti ini, aku bisa saja meninggalkan mu."


Varo memeluk Dhea.


"Aku sangat membutuhkan mu. Jangan pikirkan yang lain."


"Aku tahu ... aku tahu ... tapi ...." ucapan Dhea terputus.


Varo menatap Dhea.


"Nanti setelah waktu berlalu. Nanti setelah aku mendapatkan semua yang aku inginkan. Lakukan apa yang kamu inginkan. Dan kamu juga harus melakukan apa yang aku inginkan."


Dhea kecewa, tapi dia hanya bisa mengiyakan ucapan Varo.


Varo memeluk Dhea, dan ponsel Varo tiba - tiba berdering. Dari Villia. Varo melepas pelukannya dan mengangkat telepon Villia.


"Istriku."

__ADS_1


"Kamu ada dimana?" tanya Villia.


"Aku sedang diluar bersama teman - teman ku. Kenapa kamu belum tidur?"


"Ayo pulang sekarang!"


💜💜💜💜💜


Varo tiba di halaman rumah. Varo berjalan menuju teras rumahnya. Kemudian Varo mendengar bunyi klakson. Dia menoleh dan melihat di dalam mobil ada Villia. Varo pun mendekati mobil Villia. Villia menyuruh Varo masuk. Setelah Varo masuk, Villia melajukan mobilnya. Villia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Varo terkejut dan meminta Villia untuk mengurangi kecepatan mobilnya tapi Villia tidak perduli dengan itu.


"Apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Varo yang saat ini wajahnya sudah pucat pasi dan mempererat pegangan tangan di mobil.


Bukannya mengurangi kecepatan, Villia malahan menambah kecepatan mobilnya.


Varo marah, dan meneriaki Villia.


"Villia."


Barulah Villia menepikan mobilnya.


"Dhea."


Villia menatap Varo dengan tatapan marah


"Bagaimana mungkin kamu bisa membohongi ku, kamu sudah mengkhianati aku. Mengkhianati perkawinan kita."


Varo terkejut mendengar kata - kata Villia. Villia lantas turun dari mobil kemudian Varo menyusulnya.


Varo terus saja berbohong.


"Aku tidak tahu apa yang kamu dengar. Tapi, ku harap kamu bisa mempercayai ku kalau aku sudah tidak ada hubungannya dengan Dhea. Aku sudah putus dengan Dhea. Di hati ku hanya ada kamu."


Villia tertawa kesal, "Sampai kapan kamu akan menyembunyikan nya dari ku? Sampai kapan kamu akan membohongi ku."


Villia emosi, "Aku melihat kalian berdua bersama di pelantikan dengan mata ku sendiri di tangga..."


Varo terkejut.


Varo lalu menjelaskan, "Bukan kah Dhea adalah karyawan ku juga dan merupakan asisten pribadiku. Kami bertemu malam itu karena ada urusan pekerjaan yang memang harus kami selesaikan saat itu juga. Itu seperti pertemuan yang tak disengaja dan sama sekali tidak memiliki arti apa - apa."


"Berhentilah beralasan."


"Kamu tahu berapa banyak wanita yang mencoba merayuku, tapi bagiku semua wanita itu biasa - biasa saja. Hanya kamu di hatiku satu - satunya wanita yang aku cintai dan sayangi. Dan aku memberi ruang kepada Dhea, aku tahu kalau itu merupakan satu kesalahan."


"Hanya satu kesalahan? Apa aku harus memujimu?" ucap Villia


"Tentu saja, seharusnya aku tidak bertemu dengannya. Aku seharusnya tidak melakukan nya. Tapi wanita itu benar - benar tidak berarti apa - apa bagi ku. Kami sudah tidak memiliki hubungan khusus." ucap Varo membela diri.


"Kamu ingin, aku mempercayaimu lagi?"


"Maafkan aku, aku mengaku salah. Akan aku akhiri dengan nya. Semuanya selesai dengan mengakhiri. Jadi, Villia tolong percaya pada ku."


"Tidak. Aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi. Tidak! Aku tidak akan mempercayaimu lagi."


"Kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu?"


"Cinta?" tanya Villia.


"Selingkuh hanyalah hal sesaat. Itu berlalu dan tidak berarti apa - apa. Ini hanya ... sesuatu yang hanya akan berlalu begitu saja." ucap Varo.


"Apa kamu mencoba membenarkan tindakan mu sekarang? Kamu benar - benar menjijikan."

__ADS_1


Villia hendak pergi namun di tahan oleh Varo.


"Aku pasti sudah gila. Maafka aku. Sayang, tolong tenang dan dengarkan aku."


Tapi Villia sudah tak ingin mendengar apa - apa dari Varo. Varo hanya bisa diam menatap kepergian Villia.


Villia sudah di rumah. Villia sudah berada di dalam kamarnya. Dia sedang melamun. Varo baru saja tiba di rumah. Dia mau masuk ke kamar tapi dia terkejut karena pintu di kunci Villia.


Akhirnya, Varo pergi keruang kerjanya.


Pagipun tiba. Villia tidak tidur semalaman. Dia duduk didepan jendelanya semalaman. Tak lama kemudian Villa berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama kemudian, Villia sudah selesai dengan mandinya dan dia pun telah selesai mengenakan pakaiannya dan sudah merias dirinya.


Villia pergi meninggalkan rumah. Ternyata Villia pergi ke apartemen Dhea.


Dhea mengajak Villia masuk. Villia melihat lukisan yang tergantung di dekat lampu.


Astaga, itu lukisan wajah sang suami. Villia duduk di sofa ruang tamu.


Lalu Dhea datang dengan membawa dua buah teh lalu meletakkan nya di atas meja.


"Angin apa yang membawa mu kemari sepagi ini?" tanya Dhea kemudian duduk di sofa yang sama dengan Villia.


Villia menyesap teh nya, lalu Villia bertanya awal mula dia bertemu dengan suaminya.


...Flashback...


Saat itu, dia di lempar keluar oleh pamannya dari rumahnya sendiri dan dari perusahaan yang dibangun oleh orang tua Dhea. Lalu Pak Dimas mencengangkram kerah baju Dhea dan wajah Dhea babak belur.


Itu terjadi sekitar empat tahun yang lalu.


Orang tua ku membangun perusahaan itu dengan darah dan keringat mereka.


"Ini bukan milik mu. Kamu tidak berhak untuk memiliki dan menjualnya." ucap Dhea mempertahankan surat rumah dan perusahaan yang masih ada ditangan Dhea yang pada saat itu masih berusia belasan tahun.


"Kamu menyerahkan nya padaku dengan menandatangi dokumen."


"Kamu memaksaku untuk menandatangani nya. Aku akan menuntut mu dan mendapatkan hak ku kembali."


"Apa? Menuntut? Kamu pasti ingin mati. Bagus jika itu yang kamu inginkan, aku akan membunuhmu."


Pak Dimas mengambil kayu dan hendak memukul Dhea. Tapi dihentikan Varo yang tiba - tiba saja datang.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Varo.


Pak Dimas kaget melihat Varo, dia pun segera berlari pergi. Dan Dhea di bawa oleh Varo pulang kerumahnya. Dhea dan Varo sempat menjalin asmara tapi kandas di tengah jalan lantaran Dhea pergi keluar negri untuk melupakan kenangan pahitnya bersama keluarganya yang kini telah tiada. Hingga akhirnya Dhea menikah dan resmi menyandang status janda kemudian datang kembali dan masuk kembali ke hati sang mantan dan keluarga sang mantan.


...Flashback end....


"Aku bertemu dengannya ketika keadaan ku sulit. Ketika itu sulit untuk kami lalui berdua." ucap Dhea.


"Ketika sulit bagi kalian berdua?" ucap Villia mengulang kalimat Dhea.


"Kami bertemu satu sama lain sejak beberapa bulan terakhir ini."


"Kalian sudah bertemu selama beberapa bulan terakhir ini?"


"Ya."


"Apa yang dia katakan sehingga sulit baginya?"


"Mungkin tekanan untuk menjadi sempurna. Bahwa dia tidak bisa mengecewakan istrinya yang sempurna bagaimana pun caranya. Dia bertindak seperti membantunya diam - diam. Tapi, pada akhirnya dia adalah ratu sombong yang menjadikannya boneka. Semua yang dia miliki saat ini adalah berkat bantuan istri nya. Dia memberitahuku, bahwa dia bisa bernafas dengan lega dan nyaman karena dia telah bersama ku. Dia sangat menyedihkan."

__ADS_1


Villia syok mendengar penuturan Dhea. Tak ingin mendengar nya lagi Villia pamit undur diri.


__ADS_2