
...Assalamualaikum...
...****************...
Ibu - ibu itu masuk kedalam cafe dan berkumpul disana. Dhea datang dan meminta segelas air putih. Weni rese, dia merebut air yang hendak di minum Dhea.
"Kenapa airnya terasa hangat tidak enak?" ucap Weni sembari menatap Dhea dengan tatapan tidak senang.
Lalu Weni memanggil manager kafe itu. Manager itupun datang.
"Apa jenis penyaring tamu yang kafe ini lakukan?" tanya Weni sembari melirik Dhea dan kalimat itu bermaksud untuk menyindir Dhea.
"Apa ada masalah?" tanya manager kafe tak mengerti dengan maksud tamunya itu.
"Siapa yang peduli jika fasilitas mewah ketika kamu membiarkan siapa saja masuk sebagai tamu kafe ini? Apa bedanya kafe - kafe yang ada diluar sana? Yang ada di lingkungan norak?"
"Maaf, saya tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan?" ucap manager itu ramah.
"Kamu harus berhati-hati dalam menerima tamu dan hanya menerima tamu yang layak masuk kekafe ini. Jangan mentang - mentang karena semua orang mampu bayar jadi bisa masuk kekafe ini seenaknya."
"Maaf bu kafe ini berlaku untuk semua orang, selagi mereka berniat baik masuk kesini kenapa kami harus pilih - pilih tamu." ucap manager itu lagi.
"Wooowww lalu bahkan jika seseorang itu wanita kotor yang masuk sebagai tamu kafe ini?"
Dhea kesal, diapun menatap Weni dengan tatapan yang mengerikan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat? Apa?" ucap Weni.
Mira datang dan melerai mereka.
"Kurasa kamu merasa bersalah tentang sesuatu?"
"Cukup." ucap Mira merelai perdebatan mereka berdua.
"Sebaiknya kamu segera tinggalkan tempat ini, dari pada kamu disini hanya akan membuat malu dirimu sendiri!" ucap Mira sembari menepuk pelan bahu Dhea.
"Kamu tau tidak kalau wanita ini wanita simpanan? Kamu bahkan tidak tau wanita yang kamu bela ini wanita yang seperti apa?" ucap Weni balik memarahi Mira.
Ketika Mira ingin membawa pergi Dhea dari sana, tiba - tiba seorang wanita yang datang dengan sengaja menabrak dan menumpahkan kopi di baju Dhea. Sontak Dhea menjerit kepanasan, Mira segera membuka tasnya lalu mengeluarkan tissu dari dalam tasnya dan berusaha membantu Dhea untuk mengeringkan pakaiannya yang basah akibat ketumpahan kopi.
Wanita itu pura - pura minta maaf dan menyesal dengan apa yang baru saja terjadi.
Mira mencemaskan Dhea.
"Apa kamu baik - baik saja? Apa kamu mengalami luka bakar? Apa perlu aku antar kerumah sakit?" ucap Mira yang masih sibuk dengan membersihkan baju Dhea yang kotor dan basah.
"Aku baik - baik saja." ucap Dhea sembari membersihkan pakaiannya yang basah.
Mira menatap Dilla dan Weni sembari memarahi mereka berdua.
"Kalian ini kenapa?"
__ADS_1
Selepas berucap seperti itu Mira pergi membawa Dhea keluar dari dalam kafe.
Weni menuju mobilnya sambil bicara dengan seseorang di telepon.
"Dia sangat kasar! Dia cantik! Tapi wanita seperti itu..."
Dhea datang, Weni segera menyudahi teleponnya. Dhea melototi Weni.
"Ada apa?" tanya Weni.
Dhea tiba - tiba membuang tasnya keaspal, dia mencopot heelsnya dan hendak memukul Weni. Weni ketakutan. Dhea tersenyum evil, lalu dia melayangkan heels nya kespion mobil Weni. Dhea melempar spion mobil Weni dengan kuat - kuat
Weni terkejut setengah mati.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?" ucap Weni tak terima spion mobil nya dirusak Dhea.
"Apa kamu menyerang ku tanpa mengaharapkan serangan balik dari aku?" ucap Dhea yang kini sudah memojokkan Weni.
Weni mulai kesal kepada Dhea. Kemudian Dhea melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak mengenalmu, aku tidak pernah mengusik kehidupan mu, kenapa kamu sudah mempermalukan aku di depan umum? Apa urusan mu jika aku selingkuh dengan suami orang? Apa kamu akan memberi tahu semua orang tentang ini juga?"
Dhea kemudian melepas heelsnya yang satu lagi. Dia menggertak Weni, seolah - olah ingin memukul Weni dengan heels satu nya. Weni tiba - tiba menegang. Dhea membuang heelsnya dengan santainya.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan."
__ADS_1
Dhea kemudian memungut tasnya, lalu beranjak pergi. Dia berjalan tanpa alas kaki.
Dhea saat ini sedang duduk di halte yang tak jauh dari kafe, sembari meneguk minumannya yang sebelumnya sudah dia beli dijalan waktu menuju kehalte. Dhea ingin menghubungi Varo, tapi niat itu diurungkan. Dia terdiam menatap ponselnya yang sedari tadi diam tak ada masuk notifikasi apapun.