MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 26. Nasehat Ayah .


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Sudah seminggu Villia berada di rumah orang tuanya sembari menenangkan diri dari Mama mertua dan ipar nya yang toxic itu.


"Ehemmmm..."


Suara deheman itu mengalihkan perhatian Villia. Villia pun menoleh keasal suara itu.


Sembari tersenyum, "Papa."


Papa Ibrahim berjalan mendekat, kemudian duduk disamping putrinya itu, "Papa mengerti perasaan mu dan Papa bukan niat untuk mengusirmu dari rumah tapi bukankah setiap masalah ada solusinya jika di cari bersama - sama. Dan sudah saatnya kamu kembali kerumahmu, tak baik berlama-lama disini mendiamkan suamimu. Kamu pasti tau kan jika bercerai dalam agama kita sangat di beci tuhan, jadi jika masih bisa di perbaiki kenapa tidak." ucap Papa Ibrahim menasehi putrinya itu.


Ya, Villia sudah menceritakan semua permasalahan rumah tangganya kekedua orang tuanya. Villia tidak tau harus mengadu kemana lagi jika tidak kepada kedua orang tuanya itu. Villia merasa sedikit lega setelah mencurahkan segala unek - unek di hatinya kepada kedua orang tuanya.


"Villia tidak mau pulang. Villia ingin disini saja. Lagi pula Mas Varo tidak lama lagi akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya karena Villia hingga hari ini belum bisa memberikan mereka keturunan."


"Sayang, soal keturunan mungkin masih bisa di tempuh dengan berbagai cara agar kamu bisa memilikinya. Sekarang tekhnologi semakin canggih. Misalnya saja bayi tabung atau adopsi anak. Setiap pasangan menginginkan pernikahan yang sakinah, mawadah dan warohmah. Menikah bukanlah hal perkara yang mudah untuk dijalani. Setiap pasangan punya cara tersendiri untuk menjalani pernikahannya. Menikah juga tak hanya usai akad nikah, namun masih ada perjalanan panjang. Menjalani dan mempertahankan pernikahan pun perlu perjuangan. Begitu pun dengan keputusan bercerai, perlu pertimbangan lama dan sangat matang kenapa kamu dan pasangan sudah tidak cocok lagi. Di balik semua itu, selagi kamu dan suami mu belum resmi bercerai, maka masih ada kesempatan untuk kembali bersama. Kamu dan dia sama-sama berkomitmen untuk saling berjuang dalam pernikahan ini." ucap Papa Ibrahim menasehi putrinya.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Sedangkan Papa tau kan kalau Mas Varo itu anak Mami, anak yang nggak bisa untuk menolak permintaan orang tuanya termasuk menikahi wanita itu yang tak lain adalah mantan nya sendiri. Belum lagi uang yang setiap saat diminta oleh Mama Widya dan Sameya yang di gunakan untuk memenuhi ambisi buruk mereka."


"Papa tahu dan mengerti perasaan mu. Papa tahu kalau dalam hal ini sangat membuat kamu marah dan kesal. Tapi, kamu juga harus ingat dan jangan sampai lupa, dia tetaplah anak untuk orang tuanya. Dia tetap milik Ibu dan Ayah yang perlu di hormati dan di jaga. Dari pada mencoba menjauhkan keluarga dan Ibunya, lebih baik kamu menentukan perilaku apa yang pantas untuk di toleransi dan perilaku mana yang nggak pantas untuk di toleransi. Ini juga demi kelangsungan rumah tangga yang harmonis. Dan ingat jangan pernah mencoba mengubah perilaku Ibu mertuamu, karena kamu tidak akan pernah menang. Solusinya kamu harus tetap ramah dan menghormati nya."


"Semua perilaku Mama dan Adik ipar Villia tidak ada yang perlu di toleransi. Mereka sudah kelewat batas Pah, mereka mengambil semua nya dari Villia."

__ADS_1


Ketika mereka sedang sibuk saling bertukar pikiran, Mama Divya datang membawa nampan berisi teh sore serta cemilan lalu duduk bergabung dengan suami dan putrinya itu.


"Sepertinya ada perbincangan serius, Mama kepo nih." ucap Mama Divya sembari tersenyum.


Namun tak ada yang menggubris pertanyaan sang Mama.


"Cobalah untuk memaafkannya, jangan terlibat dalam argumen, dan fokus pada hidup kamu sendiri. Pelajaran yang bisa kita petik dari hubungan yang sulit adalah menemukan diri kita kembali dan membangun hubungan dengan diri kita sendiri. Lepaskan perasaan marah dan kesal, ciptakan kehidupan yang dapat bekerja positif untuk kamu, sehingga kamu tidak terjebak dalam sakit hati." ucap Papa Ibrahim kemudian.


"Diminum dulu tehnya!" ucap Mama Divya.


Mereka pun menikmati teh sore bersama keluarga kecilnya itu.


"Vill, sebelum nya Mama minta maaf. Bukan Mama mengusir mu dari rumah, tapi bukankah sebaiknya kamu pulang kerumah mu sendiri. Tak baik ada masalah dengan suami tapi main kabur - kaburan. Maaf, Mama menelpon suami mu untuk datang menjemput mu kesini." ucap Mama Divya sembari meletakkan kembali gelasnya di atas nampan.


Mata Villia terbelakak dan hampir saja tersedak tehnya, tak percaya dengan ucapan sang Mama.


...****************...


Mata Varo langsung tertuju kepada sosok wanita cantik yang sudah dia nikahi dua tahun lamanya. Dia adalah Villia Caroline Ibrahim. Varo sudah berada di rumah mertuanya.


"Silahkan duduk!" sapa Papa Ibrahim.


"Assalamualaikum Villia." ucap Varo sembari menatap Villia dengan sangat dalam.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Villia tak percaya.

__ADS_1


Varo mencoba duduk berdekatan dengan sang istri tapi Villia malah bergeser dan membuat jarak semakin besar di antara mereka.


"Aku ingin menjemput kamu pulang. Ayo kita kembali kerumah kita." ucap Varo penuh harap.


"Aku mau tinggal disini dulu."


"Mama yang nelepon suamimu suruh dia jemput kamu disini."


"Kenapa Ma? Villia masih mau disini." Villia merengek.


"Kamu bukan anak manja lagi Vill yang kalau ada masalah kamu selalu kabur ke rumah orang tuamu. Sekarang kamu sudah punya suami. Apapun masalahmu silahkan diselesaikan bersama. Ikutlah dengan suamimu. Nggak baik seorang isteri meninggalkan suaminya sendiri. Selesai kan masalah kalian dirumah kalian." ucap Mama Divya bijak.


"Tapi, Ma..." ucapan Villia terhenti karena dipotong Papanya.


"Kamu nggak usah cerita apa - apa tentang permasalahan apa yang kamu hadapi antara kamu dan suamimu. Kamu jaga saja sebagai rahasia kalian berdua. Sekarang kamu berkemas lalu ikut pulang." potong Papa.


"Iya sayang, kamu ikut suamimu pulang ya. Mama sedih lihat kalian kayak gini." ucap Mama Divya.


Varo terus saja menatap istrinya. Menerka apa reaksi Villia selanjutnya. Varo memperhatikan tangan Villia yang tak bisa diam, jari - jarinya di remas satu sama lain. Varo mencoba memegang tangan Villia. Spontan Villia ingin menariknya namun Varo memegangnya cukup erat hingga Villia mengalah.


"Ayo kita pulang, kita selesaikan semuanya dirumah." ajak Varo dengan manis.


Varo lalu berdiri kemudian membatu Villia berdiri. Varo terus saja memegang tangan Villia tak mau di lepaskan.


"Ma, Pa kita pamit dulu ya. Maafin Varo ya." ucap Varo meminta maaf lalu salim kepada Mama dan Papa mertuanya itu.

__ADS_1


"Iya, Papa maafin. Jaga Villia baik - baik ya." ucap Papa Ibrahim.


"Belajar memaafkan kesalahan suami tidak membuat istri kalah." ujar Papa kali ini kepada Villia.


__ADS_2