MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 61. Berduka.


__ADS_3

...Assalamualaikum....


...****************...


Keluarga Villia baru saja di rundung duka. Villia baru saja mendapat kabar bahwa Ayahnya meninggal dunia. Tangis pecah Mama Divya mendengar kabar suaminya telah tiada.


"Kita tidak bisa meninggalkan ayah seperti itu."


"Dimana jasadnya?"


"Di fasilitas penyimpanan mayat di kanada."


"Aku perlu melihat nya dengan mata kepala ku sendiri. Aku akan pergi kesana dan membawa Ayah kembali kerumah."


"Ya, Mama. Bawa ayah pulang kembali kerumah. Sementara Mama membawa kembali, Villia akan melindungi VCI."


Mama Divya langsung menatap Villia.


"Melindungi? Apa maksudmu?"


"Posisi ketua. Ini adalah posisi penting yang tidak bisa Mama biarkan kosong bahkan untuk sesaat. Villia akan mengisi kekosongan itu dengan bertindak sebagai ketua mewakili Ayah. Jadi, jangan khawatir disini Villia tidak sendiri. Ada Bian dan Ketua sementara."


Karena itulah Villia kembali kekantor bersama Direktur Bian dan Wakil direktur Yoana.


Mereka bertiga berjalan menuju ruang rapat.


Varo terkejut dengan kedatangan Villia, Bian dan Yoana.


"Direktur Alvaro Marcello Hady, anda boleh berhenti sekarang." ucap Villia.


"Dia telah mengangkat putrinya, Villia Carolin Ibrahim sebagai ketua VCI untuk bertindak sebagai pimpinan."


Varo terkejut.


Villia beranjak mendekati Varo. Varo turun dari podium dan menghampiri Villia.


Villia berbisik, "Aku tahu apa maksudmu mengadakan rapat dewan direksi darurat. Hentikan rencana konyol mu sekarang juga."


Villia tersenyum menatap Varo.


Villia kemudian naik ke podium.


"Meski hanya sebentar, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk VCI sebagai pimpinan."


Varo menatap kesal Villia. Villia turun dari podium dan berjalan kearah Varo.


"Mohon untuk kerja samanya." ucap Villia sembari mengulurkan tangan, Varo terdiam sejenak menatap kesal Villia sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Villia.


Varo menyusul Villia keruangan barunya.


"Aku tidak pernah menyangka kalau kamu adalah pemilik perusahaan ini, berarti orang - orang yang kamu pekerjakan selama ini siapa?" tanya Varo.


"Papa ku adalah ketua VCI, Ibu ku adalah wakil VCI. Sekretaris Papa adalah aku, sekretaris ibu ku adalah Bian."


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan kembali bekerja."


"Tapi, dimana Mama?"


"Sedang menjemput Papa."


"Apa maksudmu?"


"Papa ku meninggal di Kanada."


Varo terkejut, "Papa meninggal? Jadi, Mama pergi ke Kanada?"


"Ya."


Varo kemudian duduk di sofa.

__ADS_1


"Apa maksudmu di ruang rapat tadi? Rencana konyol apa yang kamu maksud?"


Villia duduk di depan Varo.


"Jangan kamu pikir aku tidak tau dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Aku sudah mendapatkan semua bukti - bukti kecurangan mu."


"Bukti?"


"Ya bukti, di dalam USB itu nama kamu jelas - jelas di sebutkan. Apa kamu perlu penjelasan lebih lanjut?"


Varo menyangkal, "Itu bukan aku."


Sembari tersenyum, "Tunggu pembalasan ku, bukti akan segera aku dapatkan untuk membuktikan kalau kamu sudah melakukan kecurangan dalam berbisni." ucap Villia dalam hati.


❤️❤️❤️❤️❤️


Beberapa hari kemudian.


Ponsel Villia tiba - tiba berdering. Telepon dari Yohana. Villia kaget mendengar Ibunya masuk rumah sakit karena stroke otak.


Yohana memberikan ponselnya kepada Mama Divya yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Aku baik - baik saja."


Villia berdiri, "Mama."


"Karena tidak terlalu serius, kamu tidak perlu khawatir. Itu sesuatu yang umum yang sering terjadi pada orang tua. Sekretaris ku membawa ku kerumah sakit di saat yang tepat dan aku akan segera menjalani operasi. Dan aku sedang dalam pemulihan. Tidak ada yang serius."


"Villia akan pergi kesana."


"Aku akan kembali kerumah dalam waktu dekat. Kamu tidak perlu kesini. Ini hanya akan merepotkan kamu. Aku harus di periksa dokter. Aku tutup telepon nya."


"Ada apa?" tanya Bian.


"Mama masuk rumah sakit karena stroke otak."


Bian kaget, "Mama masuk rumah sakit?"


Percakapan mereka tak sengaja di dengar oleh Diana.


Dia pun segera ke ruangan Direktur untuk memberitahu nya.


"Bian sedang dalam perjalanan menuju Kanada."


"Kenapa tiba - tiba? Apa ada masalah."


"Ini resmi perjalanan bisni. Tapi ..."


"Tapi, apa?"


"Aku baru saja menerima telepon rahasia dari manager cabang Kanada dan mereka mengatakan bahwa ibu wakil ketua pingsan karena stroke otak. Untungnya sekarang sudah baik - baik saja setelah mendapatkan penanganan medis lebih awal."


Varo lantas memikirkan sesuatu.


"Diana?"


"Ya?"


"Katanya perusahaan yang ada di Filipina sudah siap jalan kan?"


"Ya, atas perintah anda."


"Beritahu mereka untuk segera mulai mengoperasikan nya."


"Ya mengerti."


Diana beranjak pergi.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


Weni dan Mira sedang duduk di kantin. Mereka baru habis nyalon dan bahkan mereka masih mengenakan kostum salon.


"Apa kamu sudah mendengar rumot?" tanya Weni sembari memainkan ponselnya.


"Rumor apa?"


"Ayah Villia meninggal dunia, dan Ibunya masuk rumah sakit karena stroke."


"Villia pasti sangat terpukul."


Cristina baru datang dan langsung bergabung dengan mereka.


"Benar. Tapi, bukan itu yang mengejutkan. Ada hal yang lain yang lebih mengejutkan."


"Hal apa yang lebih mengejutkan?"


"Kalian berdua benar - benar nggak tau? Semua orang juga tahu apa rumor yang sedang beredar."


"Jadi, apa rumor nya?"


"Villia dan Varo, sama - sama berselingkuh."


"Itu tidak mungkin." ucap Mira.


"Selama ini pernikahan mereka baik - baik saja kok." ucap Cristina.


"Kamu selalu bisa mengetahui segalanya, kecuali apa yang ada di dalam hati seseorang."


"Memang benar apa yang kita lihat, belum tentu sesuai dengan kenyataannya."


"Tetapi siapa kekasih - kekasih mereka?"


"Aku tidak begitu yakin siapa kekasih Varo. Tapi tenang kekasih Villia katanya sih seorang dokter."


Weni dan Mira yang sudah mengenal Adrian, hanya menunukkan ekspresi biasa saja.


Cristina bingung, "Kenapa ekspresi kalian biasa saja?"


"Adrian adalah sahabat nya Villia. Bagaimana pun itu, itu rumor nggak benar."


❤️❤️❤️❤️❤️


Perusahaan yang ada di Filipina sedang mengalami kekacauan. Semua karyawan mogok kerja. Semua karyawan menuntut kenaikan gajih sampai mereka pensiun. Ini semua ulah Varo.


Villia sibuk mencari jalan keluar bersama petinggi perusahaan lainnya yang masih ada di pihaknya.


"Pertama, rekrut perusahaan yang dapat di ganti dengan mengerahkan semua tim luar negeri. Jika Filipina tidak memungkinkan, cari tahu apakah perusahaan yang ada Vietnam bisa kita gunakan. Sekarang Jo, saya rasa anda harus pergi dan melihat situasi nya secara langsung dan menghadapi karyawan perusahaan yang mogok."


"Baik saya mengerti."


❤️❤️❤️❤️❤️


Keesokan harinya......


Villia menemui Adrian.


"Aku kebetulan punya teman dokter waktu aku di Boston medical university dimana ibu mu di rawat.


Jadi, aku bertanya padanya, bagiamana kondisi Tante Divya saat ini. Memang benar dia dalam bahaya, tetapi mereka telah menandatangani nya dengan cepat, dan operasi berjalan dengan lancar, tapi dia belum bisa naik pesawat jadi perjalanan pulang nya di tunda dulu. Kamu tidak bisa mengganggap enteng kondisi nya, dia perlu istirahat total."


"Ok, aku mengerti."


"Bagaimana kabarmu? Apa pekerjaan mu di perusahaan bisa kamu selesaikan dengan baik?"


"Itu berantakan. Pekerjaan rumah dan kantor, aku tidak menyadari kalau aku kurang kompeten."


"Kamu bukan kompeten, itu hanya saja karena kamu sudah lama tidak bekerja. Tentu saja, sesuatu yang baru saja kita mulai tidak akan langsung berjalan mulus. Pekerjaan "Tidak kompeten" tidak cocok untuk Villia yang habat."


Villia tersenyum, "Satu - satunya teman ku yang memahami ku adalah sahabat ku yaitu kamu."

__ADS_1


Note : Varo benar - benar niat yeee mau manghancurkan Villia dan merebut kembali VCI😂😂. Setelah ini kejutan apa ya yang akan Varo dan Dhea buat untuk menghancurkan Villia dan merebut kembali VCI... tunggu part selanjutnya..... terimakasih


__ADS_2