MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 41.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Sekarang Villia dan Varo sudah berada di halaman belakang kantor. Mereka terlihat seperti pasangan yang romantis, sementara Dhea yang saat ini berdiri sendirian tak jauh dari mereka hanya bisa mencibir akan kemesraan mereka berdua.


Villia dan Varo duduk disekitaran kolam renang sembari menikmati serangkaian acara yang sejak tadi sudah dimulai.


"Hai kalian disini juga?" ucap Weni.


Villia menoleh, "Hai Wen, apa kabar?"


"Baik, seperti yang kamu lihat."


Varo kemudian menoleh ke arah sang istri, "Sayang aku tinggal sebentar ya, kalian ngobrol aja dulu." ucap Varo kemudian melangkah pergi dan menghilang dibalik kerumanan lautan manusia.


"Oh iya kita duduk disana yuk!" ucap Weni sembari menunjuk bangku yang ada di pojokan itu.


Mereka pun berjalan bersama - sama menuju bangku yang di maksud. Setelah tiba disana Villia melihat pantulan tubuhnya di kaca jendela. Sesaat Villia tertegun menatap pantulan dirinya di dalam kaca tersebut.


"Apa aku gendutan ya?"


Weni berjalan mendekat dan ikut menatap pantulan Villia didalam kaca jendela.


"Kulit tubuhku juga sangat kusam."


"Aku tahu itu, makanya kamu harus selalu menjaga wajah dan tubuh mu agar tetap cantik dan awet muda. Sekarang banyak pelakor yang berkeliaran."


Acara demi acara telah selesai dilaksanakan, tibalah acara di selanjutnya yaitu berdansa dengan pasangan masing - masing. Villia bingung karena dia tidak tau kemana Varo perginya. Sementara Villia ingin sekali ikut berdansa walaupun dia tidak terlalu pandai dalam berdansa tapi setidaknya ini untuk menghormati stafnya yang sedang ulang tahun makanya dia akan berpartisipasi dalam acara berdansa.


"Ya sudah aku kesini dulu ya." ucap Weni sembari berlalu pergi meninggalkan Villia.


Ketika sedang kebingungan, tiba - tiba Bian datang dan membawa segelas air putih di tangannya.


"Pasangan anda ada disini."


Villia kaget, kenapa Bian yang datang.


"Aku pikir kamu sedang sibuk. Apa kamu melihat Varo?"


"Aku melihatnya disana sedang bersama Dhea. Aku yang akan menemani mu, aku tidak ingin kamu sendirian."


Mereka mulai berdansa.


...💜💜💜💜💜...


Setelah menghadiri acara ulang tahun rekan satu kerjanya, Villia memutuskan untuk langsung pulang tapi bukan pulang kerumahnya melainkan pulang ke rumah orang tuanya. Setiap akhir pekan Villia akan meluangkan waktunya untuk makan bersama kedua orang tuanya.


Villia, Bian dan keluarga Pak Ibrahim makan malam bersama.


"Mah, makan bersama tiap akhir pekan bagaimana kalau melakukan nya sebulan sekali?"


"Apa susahnya makan bersama keluarga seminggu sekali?"


Mama Divya lalu membahas soal pekerjaan.

__ADS_1


"Dengar - dengar kesepakatan dengan direktur PT Mawar Merah belum menemukan titik terang. Apa benar begitu?"


"Baru akan diadakan pertemuan Minggu depan." ucap Bian.


"Kenapa kamu belum mengambil alih semuanya? Hal - hal penting harus ditangani olehmu secara langsung."


"Varo telah bertanggungjawab atas itu dan memiliki pengetahuan substansi dalam masalah ini." ucap Bian.


Mama Divya menatap tajam kearah Bian.


"Aku akan melakukan pertemuan sendiri kalau begitu secara diam - diam."


Mama Divya kemudian memanggil asisten rumah tangga nya.


"Cuaca malam ini sangat bagus, bagaimana kalau hidangan penutup kita makan diluar?"


"Baik Nyonya."


Assisten rumah tangga itu pun pergi kebelakang mempersiapkan segala kebutuhan majikan nya.


Mama Divya beranjak pergi dari tempat duduknya menuju ruang kerjanya.


Baru saja tiba disana, Villia datang menyusulnya dengan membawakan beberapa cemilan di tangannya kemudian meletakkan diatas meja.


"Aku mengatakan kepada mereka untuk mengatur meja di taman. Mengapa cemilan - cemilan ini kamu bawa kesini?"


"Villia mau pulang."


"Kenapa buru - buru sayang, makan penutup sebentar lagi selesai di sajikan."


Kemudian Villia beranjak pergi.


...💜💜💜💜...


Weni baru saja menyelesaikan joggingnya. Melihat Villia sedang lagi menyiram tanaman. Weni ragu tapi pada akhirnya tetap mendekati Villia.


"Bagaimana kabar suami mu pagi ini?" tanya Weni sembari tersenyum.


"Apa maksudmu?"


"Yah aku hanya ingin tahu saja, apa semuanya baik - baik saja?"


"Seperti apa?"


"Tidak apa - apa jika tidak ada. Hari ini kamu punya kesibukan nggak?"


"Memang nya kenapa?"


"Aku ingin mengajak kamu ke spa hari ini. Mari mandi uap supaya kerutan - kerutan yang ada di wajah menghilangkan."


"Baiklah."


Weni kemudian pergi. Villia bingung dengan pernyataan Weni.


...💜💜💜💜💜...

__ADS_1


Hari ini Dhea, Sameya dan Mama Widya berencana untuk pergi perawatan diri di salon yang pernah mereka datangi sebelumnya.


Saat ini Dhea, Sameya dan Mama Widya begitupula dengan Villia dan Weni sudah berada di salon. Dhea, Sameya dan Mama Widya melihat Villia dan Weni sedang berendam air hangat.


"Mereka sangat akrab." ucap Dhea sembari terus saja memandangi Villia dan Weni dari kejauhan.


"Mereka terlihat seperti saudara." Sameya menimpali.


"Ayo pergi!" ucap Mama Widya sembari melangkah pergi.


Saat ini Dhea dan Mama Widya sudah duduk ditaman yang ada di salon itu sembari menikmati teh dan pemandangan alam bebas.


"Cuacanya sangat bagus hari ini." ucap Dhea sembari menghisap teh nya.


Mama Widya tercengang melihat leher Dhea yang menurut nya sangat lah halus dan tidak memiliki kerutan sama sekali.


"Dhea, bagaimana kamu tidak memiliki satupun kerutan di lehermu?"


Dhea kemudian menunjukkan rahasianya. Dia mengeluarkan pelembab dari dalam tasnya dan memakai nya di leher.


"Apa itu?" tanya Mama Widya.


"Ini pelembab yang Dhea gunakan. Mengingat usia kita, kita harus rajin dan menjaga diri kita sendiri dan menggunakan apa yang kita butuhkan. Cobalah."


Dhea memberikan pelembab lehernya kepada Mama Widya, Mama Widya menerimanya lalu mencoba nya.


Mama Widya terkejut, "Ini sangat melembabkan."


Sameya datang, lalu Dhea bergegas menuangkan teh ke cangkir. Sameya duduk di samping Dhea. Dhea memberikan cangkir teh ke Sameya. Sameya mengambil teh dari tangan Dhea. Saat itulah Sameya melihat gelang Dhea.


"Gelang itu?"


Sameya kemudian melihat keleher Dhea, perhiasan yang Dhea gunakan sangat cantik.


"Kalung dan gelang mu satu set ya?"


Dhea tersenyum mendengar nya kemudian mengangguk.


"Dimana kamu membeli gelang dan kalung itu?"


Dhea pun teringat siapa yang memberikan gelang dan kalung itu.


"Varo. Kemarin malam hari ulang tahun Dhea dan Varo menghadiahkan ini untuk Dhea."


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kemarin malam hari ulang tahunmu? Kan Mama bisa buatkan kamu kue ulang tahun atau paling tidak Mama akan siapkan kado ulang tahun mu."


"Tidak apa - apa Mah, kalung dan gelang ini pun terasa lebih dari cukup."


"Ok terima kasih. Sebagai gantinya, aku akan mentraktir mu makan siang."


Mama Widya mentraktir Dhea makan siang disebuah restoran yang sangat mahal sebagai kado ulang tahunnya.


"Katanya di restoran ini sangat terkenal dengan roti iga panggang. Cobalah, ini sangat enak."


Dhea dan Sameya kemudian mencobanya.

__ADS_1


"Mah, gelang ini sangat berharga dan Mama sudah mentraktir Dhea makan siang yang begitu mahal. Terimakasih Mah."


__ADS_2