
...Assalamualaikum...
...****************...
Sudah berbulan - bulan lamanya Dhea pergi meninggalkan Varo tanpa berkirim kabar. Varo tiap hari datang ke apartemen Dhea tapi Dhea sudah pergi dan apartemen pun sudah kosong. Lalu Varo melihat surat Dhea tergantung di dekat lampu.
"Aku akan pergi, jadi bertahanlah untuk tidak merindukan aku."
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari ini Villia berencana pergi menembak bersama Adrian. Villia mengajak Adrian karena Bian sedang sibuk di kantor.
"Bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya Adrian.
"Aku jauh lebih baik sekarang."
"Aku senang. Tapi, Villia jika itu untuk dirimu sendiri itu satu hal. Tapi jika untuk orang lain, jangan pernah menahan semuanya."
"Aku tahu apa yang kamu coba untuk katakan. Tapi, apakah aku harus menahannya jika pada akhirnya semua akan sama saja."
"Kamu wanita kuat. Aku percaya kepadamu. Kamu bisa melewati semuanya."
💜💜💜💜💜
Villia sedang bersantai didepan rumahnya. Dia menjalani kehidupan nya dengan tenang. Tiba - tiba Bian menelepon nya.
"Kejutan apa yang akan kita siapkan untuk Ibu wakil ketua Minggu depan?"
Villia terdiam masih memutar otaknya.
"Kita belum pernah melakukan perjalanan keluarga. Bagaimana kalau kita pergi ke vila?"
"Baiklah."
Besok nya mereka semua pergi liburan ke vila. Mama Widya, Sameya datang bersama Dhea. Mereka baru saja tiba. Tidak lama mereka sampai, Villia dan Varo juga tiba di Villa. Begitu melihat siapa yang datang bersama Mama Widya dan Sameya Varo dan Villia kaget. Dhea menyapa mereka semua. Dhea menatap Villia dan Varo bergantian.
"Mama rasa tidak perlu Mama perkenalkan dengan kalian wanita yang berdiri di samping Mama ini." ucap Mama Widya.
"Bagaimana kabar mu kakak ipar?" ucap Dhea menyapa Villia.
Villia syok. Dia bahkan hampir terjatuh. Varo langsung memegangi Villia.
"Ini tidak mungkin." ucap Villia lirih sembari memegang pelipisnya yang terasa sakit.
"Tunggu disini!"
Varo hendak masuk kedalam menyusul Dhea tapi di tahan Villia.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Kita tidak bisa diam. Beraninya dia...."
Villia marah, "Apa kamu gila? Jangan merusak hari bahagia Mama ku."
Varo terdiam.
"Untuk saat ini tetap tenang." ucap Villia.
Semua keluar dari dalam Vila untuk menyambut Mama Divya yang baru tiba bersama Bian.
Bian mengajak Mama angkat nya itu masuk kedalam Vila. Semua duduk bersama. Dhea menatap Villia. Dia bilang kalau dunia ini sangat kecil luar biasa bisa bertemu kembali, sungguh menakjubkan.
"Ini adalah takdir yang luar biasa yang kita miliki. Aku benar - benar khawatir dan gugup tentang bagaimana membuat kesan yang baik kepada kakak ipar."
__ADS_1
Villia diam saja mendengar kan ocehan Dhea.
"Kakak ipar maafkan aku karena aku pindah kerumah Mama tanpa mengucapkan selamat tinggal." ucap Dhea kemudian.
"Jadi begitu?"
"Iya."
Villia berusaha menahan diri.
Bian menatap Villia yang diam saja.
"Adik ipar." panggil Bian.
Villia menatap Bian dan berusaha tersenyum.
Dhea memperkenalkan diri kepada Mama Divya.
"Seharusnya saya memperkenalkan diri lebih awal."
"Ini juga perkenalan." ucap Mama Divya.
Varo menatap Dhea, "Apa kamu merasa tidak nyaman? Pertemuan pertama dengan Mama mertuaku adalah liburan keluarga."
"Semuanya untuk pertama kali terasa canggung dan tidak nyaman."
Sameya memegangi perutnya yang merasa keroncongan, "Mama, kakak, Tante kapan kita makan?"
"Oh ya, mari makan." ucap Varo mempersilahkan tamu - tamu nya makan.
Selesai makan bersama mereka menikmati hidangan penutup, buah segar yang sudah di Potong oleh Villia yang di bawa dari rumah. Varo kesal melihat Dhea akrab dengan Bian. Varo pamit kedapur.
Dia bilang mau ambil wine. Di dapur, Varo mengambil wine. Tapi, kemudian menatap kearah luar. Varo menuangkan wine untuk semuanya sambil kesal menatap Dhea.
Jika anggur ini sudah di buka berarti kamu adalah tamu yang sangat spesial."
"Jangan melebih - lebihkan."
"Aku sudah mencoba anggur ini sebelum nya." ucap Dhea.
Bian terkejut, "Kapan?"
"Mama Widya yang membagi anggur itu kepada ku."
Dhea lalu mencoba potongan buah apel, "Buah apel ini sangat enak. Ini pasti dari buah apel pilihan."
Villia makin kesal dengan tingkah Dhea.
"Aku akan pergi mencuci piring." ucap Villia sembari membersihkan piring - piring kotor di atas meja.
Villia buru - buru membawa piringnya kedapur. Di dapur Villia berusaha menenangkan diri. Bian menyusul Villia kedapur. Lalu Bian membantu Villia mencuci piring.
"Adek, apa hari ini ada sesuatu yang terjadi? Hari ini kamu terlihat sedikit kurang sehat." tanya Bian berhati - hati.
Villia menatap Bian dan berusaha tersenyum.
"Tidak. Aku baik - baik saja. Mungkin aku harus memakai lipstik sedikit berwarna."
"Kamu sudah bekerja keras menyiapkan makanan untuk hari ini."
"Kembalilah dan segera habiskan makananmu!"
Tapi, Bian tetap pada tempatnya.
__ADS_1
Villia mulai menelungkup kan piring. Tiba - tiba salah satu piring di tangan nya terjatuh dan mengenai tepat kaki Villia.
Bian langsung mengambil tissue dan berusaha menghentikan darah di kaki Villia.
"Kamu berdarah."
Tak lama kemudian Varo dan Dhea datang.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Varo.
Villia sok cemas, "Bagaimana ini? Kamu berdarah banyak."
"Pertama, mari kita pergi keruang sakit." ucap Varo.
"Aku baik - baik saja. Luka ini belum luka seberapa."
"Pertama, masuk kah dulu kita bersihkan lukamu di dalam."
Villia menatap kesal Dhea.
Varo membawa Villia masuk. Villia pun pergi dan menyenggol badan Dhea.
Saat ini Dhea ada di kamar mandi. Dia sedang mencuci tangan. Lalu Villia datang.
"Kamu tidak punya sopan santun, masuk tanpa mengetuk."
Villia mencengkram kedua bahu Dhea.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berencana untuk menyiksa ku?"
"Aku sudah memberitahumu sebelumnya kalau aku bisa memiliki keluarga sendiri."
"Apa?"
"Kenapa? Apa aku tidak bisa memiliki keluarga?"
"Dengar kan aku baik - baik, Dhea. Aku memperingati mu jauhui keluarga ku!"
Dhea balik mencengkram Villia.
"Tidak, Villia. Ini giliranmu untuk mendengarkan aku sekarang. Atau harus kah aku menceritakan semuanya kepada orang yang ada di sini sekarang bahwa aku adalah simpanan Varod dan aku pernah mengandung anaknya.".
Dhea ingin pergi tapi di tahan Villia.
"Tidak apa - apa jika kamu ingin menyiksa ku. Tapi, jangan main dengan keluarga ku."
"Sepertinya kamu memahami situasi."
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Varo masuk kamar, dia ingin mendekati Villia tapi di larang Villia.
"Apa kamu berfikir aku tidak menemui waktu yang sulit? Aku juga kesulitan. Tapi, kita harus berjuang dan memenangkan ini."
"Berjuang bersama? Untuk apa? Demi siapa?"
"Jelas untuk keluarga kita."
"Siapa yang memulai semua ini? Kenapa aku harus menjadi bagian dari pertarungan yang sangat menjengkelkan ini."
"Apa kamu akan terus membuat ku merasa tidak nyaman? Bukan kah Dhea dan Mama sebelumnya sudah saling mengenal. Aku pasti akan mengakhiri dengannya seperti janji ku padamu."
"Janji? Apa kamu tidak ingat janji pernikahan kita? Janji untuk setia satu sama lain. Apa itu tidak berarti apa - apa. Kamu harus membayar untuk apa yang telah kamu lakukan. Tapi aku, kenapa harus aku menanggung semua ini? Kenapa? Kenapa? Kenapa?" ucap Villia.
__ADS_1
Note : Mohon bersabar sejenak..... ya. terimakasih untuk yang sudah memberikan like dan komentar 🙏🙏