
...Assalamualaikum...
...****************...
"Jadi Mama mau pinjam uang gitu?"
"Masa pinjam? Ya jangan sampai pinjam dong, kalau bisa di kasih. Kenapa nggak?"
"Jaman sekarang mana ada yang gratis Mah."
"Kita jadikan suami istri. Harta bisa di bagi dua. Iya kan?"
"Ha, mereka mau nikah?"
Villia bagai tersambar petir mendengar nya. Dada Villia mendadak sesak. Menikah? Apa benar Mas Varo akan menikah lagi? Villia segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka.
"Mah siapa yang mau menikah?" tanya Villia berusaha tenang.
Mama mertua dan Sameya saling melempar pandang. Mereka tidak menyangka pembicaraan mereka didengar oleh Villia.
"Kamu nguping?" ucap Mama mertua balik bertanya.
"Villia nggak sengaja dengar pembicaraan Mama dnegan Sameya. Memangnya siapa yang mau nikah? Bukan Mas Varo kan?"
Mama mertua menghela nafas kasar.
"Seandainya Mas Varo menikah lagi memangnya kenapa? Kan tidak dilarang agama. Jika itu harus terjadi, kamu harus terima."
Villia tak dapat menahan laju air matanya, sakit hati rasanya mendengar penuturan sang Mama mertua. Villia tak dapat berkata apa - apa lagi. Villia berdiri dan masuk kekamar nya.
"Dasar lebay." cemooh Sameya.
__ADS_1
Villia mengurung diri dikamar, sembari menunggu Mas Varo pulang dari mengantar pulang Dhea. Villia akan meminta penjelasan dan handphone nya dihubungi sejak tadi tapi tidak aktif - aktif.
Mas Varo pulang setelah malam sudah agak tinggi. Villia menunggu dikamar.
"Villia, kamu kenapa? Kok tumben diam saja?" tanya Mas Varo.
Villia hanya diam dan menggeleng kan kepala.
"Ada apa sih?" tanya Mas Varo sembari berganti pakaian.
"Ngapain mantanmu tadi pagi kesini?" ujar Villia pelan.
Mas Varo terdiam.
"Mau apa dia kesini, Mas?"
"Dia mau bertemu Mama dan Sameya. Katanya kangen sudah lama nggak bertemu."
Mas Varo terdiam. Villia berharap dia kaget mendengar nya dan berkata tidak, tetapi dia malah menunduk.
"Mas kok diam? Apa benar yang dikatakan Mama?"
Mas Varo menghela nafas. Dia menunduk, seperti hendak merangkai kata-kata yang sulit diungkapkan.
"Mas jawab?" tegas Villia tak sabar.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Villia. Villia merasa jawaban Mas Varo akan mengguncangkan dunia Villia.
"Villia, dengarkan dulu penjelasanku! Mama memang menyuruhku untuk menikah dengannya. Tapi percayalah, aku akan tetap sayang kamu dan mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku dan hanya kamu istri ku satu - satu nya didunia ini."
Ya Allah, tega sekali Mama Widya. Mas Varo kan sudah punya Villia, tapi mengapa masih mencari jodoh untuk dia.
__ADS_1
"Alasan Mama apa Mas? Lalu kamu nerima begitu saja?"
"Aku juga bingung."
"Bingung? Mas anggap aku ini apa? Aku ini istrimu, kan kamu bisa menolak tawaran Mama."
"Villia tenang dulu." ujar Mas Varo sembari menarik Villia kedalam pelukannya, tapi Villia menghindari itu.
"Tenang bagaimana maksudnya? Kamu memang tidak mau menolak perjodohan itu kan?"
"Villia jangan keras-keras! Nanti...."
Mas Varo belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu diketuk.
"Varo ada apa? Kok ribut - ribut? teriak Mama dari luar kamar.
Memang Mama mertua selalu ikut campur dengan urusan mereka berdua.
"Nggak ada apa-apa Mah."
"Buka pintunya!" perintah Mama Widya.
Mas Varo segera membuka pintu untuk Mamanya.
"Mama mau bicara dengan kalian diruang tamu."
Mas Varo hanya mengangguk dan berjalan keruang tamu, sementara Villia hanya diam ditempat.
"Villia ngapain bengong disitu?" bentak Mama mertua.
Akhirnya Villia melangkah kan kakinya walau setiap langkah nya terasa sangat berat.
__ADS_1
"Terimakasih"