MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 51. Kecewa


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Tiba - tiba ponsel Dhea berdering, sebuah nomor tak di kenal menghubunginya. Ternyata nomor tersebut milik pamannya.


"Bagaimana paman bisa tau nomor hp ku?"


"Jaga ucapan mu pada ku."


"Aku tidak punya apa - apa untuk dikatakan kepada paman, jadi berhentilah menelepon ku."


"Dengar - dengar Varo dilantik jadi direktur. Karena kamu tidak pernah mendengar kan ku, aku pikir aku harus hadir disaat pelantikan nanti untuk memberikan kata selamat."


"Paman sudah banyak mengacaukan hidupku. Jadi tolong lepaskan aku."


Pak Dimas memutus sambungan telepon nya secara mendadak.


Dhea cemas, dia pun segera menghubungi Varo tapi tidak ada tanggapan. Varo lagi sibuk menyapa tamu undangannya. Villia duduk bersama ibu, ibu mertua, adik ipar dan kakak iparnya.


"Aku nggak menyangka kalau Varo akan berada di posisi secepat ini." ucap Mama Divya sembari menatap besannya itu.


"Iya aku juga nggak menyangka kalau dia akan mendapat kan posisi yang sangat bagus di perusahaan ini."


"Dia mendedikasikan diri hampir 30 tahun untuk perusahaan, dia berhak mendapatkan semua ini."


Jabatan yang seharusnya Villia dapatkan tapi dia menolak nya dan jabatan penting itu di serahkan kepada sang suami.


"Dia akan bekerja dengan sangat baik lagi. Aku tahu kalau dia memiliki kemampuan yang cukup untuk itu dari pada orang lain." Bian menimpali.


"Dia bukan hanya seorang direktur tapi juga menduduki posisi teratas di PT VCL." ucap Mama Divya.


Pak Dimas dan Dhea tiba di acara pelantikan Varo.


Mereka sama - sama mencari keberadaan Varo. Villia bicara empat mata dengan Ibunya.


"Setelah mencampakkan mu selama ini, menyelingkuhi mu, kenapa kamu masih membantunya dan dengan suka rela memberikan jabatan penting itu kepadanya. Apa kamu nggak takut jika sewaktu - waktu posisi mu dapat direbut oleh nya? Orang - orang seperti mereka ini akhirnya akan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya suatu hari nanti. Jangan terlalu percaya dengan suamimu."


Tak sengaja Villia menoleh kesamping. Dia terkejut melihat Dhea. Varo telah dikelilingi oleh para direktur dan petinggi perusahaan lainnya, Varo terkejut tatkala melihat Dhea berdiri di pojokan sana dan mereka pun saling menatap.

__ADS_1


Dhea kemudian pergi, menuju pintu darurat. Varo menyusul nya dan Villia melihat itu.


"Kenapa kamu ada disini?"


"Paman ku ... dia bilang, dia akan datang kesini. Aku menelpon mu tapi tidak kamu angkat. Aku pikir aku perlu menghentikannya. Apa yang harus aku lakukan?"


"Apa dia masih mengikuti dan mengganggu mu?"


Tanpa mereka sadari, Villia tengah menatap mereka dari tangga. Villia terkejut melihat keakraban mereka pasalnya, Varo bilang sudah tidak memiliki hubungan dengan sang mantan kekasih.


"Kamu seharusnya memberi tahuku, dari pada khawatir sendirian."


"Maaf."


"Aku akan mengurus semuanya, kamu jangan khawatir."


Dhea lantas men*ium Varo.


Villia sontak mundur kebelakang. Hingga tubuhnya membentur dinding. Dia syok berat. Villia syok memergoki suaminya yang masih memiliki hubungan khusus dengan sang mantan kekasih, Villia tak menyangka Varo akan bermain api di belakang nya. Villia segera meninggalkan pintu darurat. Dia bahkan memegangi didinding saat berjalan, dia benar - benar terpukul.


Villia berjalan ke toilet sambil memegangi mulutnya. Tangisanya pecah.


Sekarang Villia menatap wajahnya di cermin. Dia melihat matanya sembab. Villia membasuh wajahnya tapi tetap saja sembab di matanya tidak mau hilang.


"Bisakah aku meminjam itu?" ucap Villia.


Wanita itu meminjamkan Villia riasan.


Villia kembali ke tempat acara. Dia masuk kedalam dengan riasan sempurna. Tidak tampak lagi mata sembabnya. Dia berdiri didepan pintu, menatap Varo yang tengah berpidato dengan tatapan kekecewaan, marah, kesal semua menjadi satu.


"Sebagai penutup, VCL telah memasang sayap baru. Saya Varo Marcello Hady untuk membuat VCL ini menjadi PT yang terbaik di dunia, akan terus berinovasi, dan berusaha tanpa henti agar bisa menyaingi perusahaan - perusahaan yang ada diluar sana. Mohon doa dan dukungan anda - anda semuanya semoga VCL bisa lebih melambung tinggi lagi."


Varo ke mudian memanggil Villia untuk potong kue.


"Untuk memotong kue peringatan, saya meminta wanita pendamping hidup saya, mitra saya selamanya untuk bergabung saya disini."


Tapi, semua orang terkejut melihat kursi Villia sudah kosong. Bian ingin mencarinya, Bian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan Bian pun melihat Villia berdiri di depan pintu.


Villia terpaksa menyembunyikan luka hatinya. Varo menanti Villia di atas panggung dengan senyum lebar. Sementara Villia memaksakan senyum nya. Varo memegang tangan Villia untuk naik keatas panggung. Lalu dia memberikan pisau kepada Villia, Villia diam saja serta memasang ekspresi wajah datar menatap Varo dengan sorot mata kecewa.

__ADS_1


Varo tersenyum menatap wajah Villia. Villia hanya diam menatap dingin kue yang ada di depannya. Mereka lalu memotong kue bersama - sama. Semua bertepuk tangan, Varo men*ium pipi Villia.


Sekarang, Villia tengah bersama Kakak iparnya. Villia yang terluka, beranjak dari duduknya dan kemudian pergi. Bian hanya melihat Villia pergi.


Menyadari sang istri tidak ada di tempat acara, Varo pun menghubungi ponsel sang istri. Villia sendiri ada di dalam mobilnya.


"Apa kamu benar - benar merasa kurang enak badan?" tanya Varo diseberang sana.


"Ya."


"Apa harus kerumah sakit?"


"Tidak perlu, aku bisa mengurus diri ku sendiri."


"Baiklah."


Villia memutus sambungan telepon Varo.


Villia mengemudikan mobilnya menuju tepi danau. Villia teringat kata - kata Varo, bahwa hanya dirinya lah satu - satunya wanita yang ada di hidup Varo, selain ibu dan adiknya. Dia juga ingat saat Varo berucap bersyukur memiliki istri sepertinya. Villia tertawa getir. Tidak lama kemudian dia berteriak sambil memukul - mukul setiran mobilnya.


💜


💜


💜


Selesai acara, Varo langsung kerumah Dhea. Dia terkejut melihat ada lilin - lilin kecil yang menghiasi di setiap sudut ruangan di apartemen Dhea serta balon warna warni yang dibiarkan tergeletak begitu saja.


"Siapa yang ulang tahun hari ini?" tanya Varo dalam hati.


Varo menyembunyikan sebuket bunga di balik punggungnya. Dia lantas memanggil Dhea.


Dhea pun keluar membawa cake ditangan nya dengan sebatang lilin yang sedang menyala diatas nya.


"Varo Marcello Hady, selamat atas pelantikan nya menjadi direktur yang baru. Semoga menjadi direktur yang amanah dan bisa memberikan contoh yang baik bagi karyawan dan karyawati yang bergabung dalam VCL." ucap Dhea sembari meletakkan cake nya di atas meja dan kembali menatap Varo.


"Maaf kejutan dari ku untukmu kurang maksimal. Dan aku ingin mengucapkan selamat kepadamu."


"Terimakasih."

__ADS_1


Sementara Villia duduk ditaman. Dia sudah bisa menebak Varo ada di mana.


Varo memberikan buketnya. Dhea senang dan langsung meloncat memeluk Varo, hingga mereka berdua terjatuh di atas sofa.


__ADS_2