MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 44. Cinta dalam diam


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku turut bahagia dengan prestasi yang kamu dapatkan saat ini."


"Aku tidak mungkin bisa sampai seperti saat ini jika bukan karena orang tuamu yang selalu membantu aku dan membimbing aku."


Bian masih di wawancara, sementara Villia ingin beranjak pergi dari sana namun di tahan oleh Bian. Ketika sedang sibuk dengan wartawan Mama Divya menghampiri mereka.


"Kenapa Mama bisa ada disini?" tanya Villia.


"Selesai diwawancara kita makan - makan bersama ya."


...💜💜💜💜💜...


Sekarang mereka sudah berada di kafe.


"Aku melihat berita di TV tentang pengusaha muda yang sukses. Ternyata kamu yang memenangkan penghargaan internasional itu. Selamat, Saya merasa bangga."


"Terimakasih Nyonya. Lagi pula itu sudah lama berlalu."


"Ternyata kamu pergi sudah sangat begitu lama." Villia menimpali sembari menyesap teh nya.


Bian lalu bertanya kepada Villia apa selama dia pergi semua baik - baik saja.


"Apakah selama aku pergi semuanya baik - baik saja?"


"Ya semua nya baik - baik saja."


Mama Divya menatap Bian.


"Saya pikir kamu akan berada disana selamanya. Apakah kedatangan mu kali ini akan menetap disini atau kah akan kembali keluar negeri?"


"Saya akan menetap disini."


"Itu mungkin lebih baik. Akhir pekan ini mari makan malam bersama di rumah."


"Itu akan sangat menyenangkan. Dulu kamu sering traktir aku makan dan minum saat masih sama - sama sekolah." ucap Bian sembari menatap Villia.


Kemudian Bian melanjutkan kalimatnya, "Wajah kamu akan terlihat sangat lucu jika sudah kenyang." ucap Bian sembari tertawa mengingat masa putih abu - abu mereka berdua.


Villia pura - pura ngambek mendengar itu.


"Apa itu yang kalian lakukan? Pasti wajah Villia akan terlihat sangat lucu dan imut pada masa itu. Apa benar begitu, Bian?"


Lalu mereka tertawa bersama - sama.

__ADS_1


...💜💜💜💜💜...


Saat ini Bian sudah berada dirumah Villia. Villia memasak sup seafood pedas untuk Bian. Bian segera mencicipi sup buatan adik iparnya itu.


"Rasanya sangat enak."


"Mari kita berkumpul akhir pekan ini di rumah Mama dan Papa untuk makan malam bersama."


"Baiklah akan aku usahakan."


Bian teringat akan hadiahnya.


"Ta-da."


Bian mengeluarkan beberapa hadiah dari dalam tas dan meletakkan diatas meja.


"Coklat import walkers of London milk Chocolate whiskey truffle liqueurs, London Chocolate Bean to bar, parfum Jo Malone Peony and Blush Suede."


"Ini semua untuk aku?"


"Tentu."


"Terima kasih. Kamu memang yang terbaik." ucap Villia sembari mencicipi coklat yang di bawa Bian.


"Sebenarnya, Varo yang memintaku untuk membawakannya untuk mu."


"Ya dia melakukannya."


"Aku tahu itu."


"Aku sudah banyak melihat pria dimuka bumi ini yang sangat baik kepada wanita. Tapi aku belum pernah melihat pria yang melampaui Varo. Dia berada di harta tingkat nasional. Sejujurnya, ketika kamu mengatakan kamu akan menikah dengannya, aku tidak yakin."


"Jadi, apa kamu menyesalinya karena aku jadi menantu dirumah mu bukannya Dhea?"


"Tidak. Kamu membuat pilihan yang tepat."


Ada rasa sesak didada, pasalnya Bian sudah menyukai Villia sejak dulu. Namun, dari dulu hingga sekarang rasa itu masih ada untuk Villia tapi sudah tak pantas untuk di ucapkan karena kenyataannya sekarang Villia sudah di per istri oleh adiknya sendiri.


"Berhenti bicara dan makanlah. Sup kalau sudah dingin menjadi tidak enak saat dimakan."


"Oke. Terimakasih untuk makanannya."


Setelah Bian makan, Bian langsung undur diri.


"Terimakasih untuk sup enaknya."


"Aku juga terima kasih untuk hadiahnya. Salam untuk Mama dirumah."

__ADS_1


Setelah berpamitan Bian langsung masuk ke mobil nya dan segera memacu kejalan raya.


...💜💜💜💜💜...


Varo sedang makan malam bersama karyawan nya. Tiap bulan sekali mereka mengadakan makan - makan bersama.


Varo membakarkan daging untuk mereka semua. Seorang wanita yang duduk di sebelah meja Varo, menatap Varo sedari tadi. Dari sorot matanya, terlihat bahwa dia tertarik kepada Varo.


Wanita itu mendekati Varo dan menawarkan diri untuk menggantikan posis Varo bakar membakar daging. Namun, Varo menolak wanita itu.


"Oooo tidak apa - apa, jangan khawatir dan nikmati saja makanan mu, Diana."


"Anda tau nama saya?"


"Hampir semua karyawan dan karyawati disini saya tahu namanya."


Acara makan - makan telah selesai, Varo telah bersiap - siap untuk pulang kerumah. Varo beranjak ke mobilnya, tiba - tiba Diana memanggil nya.


"Pak direktur."


Varo menoleh, Diana perlahan berjalan mendekati Varo.


"Bisakah anda memberikan tumpangan kepada saya?"


Varo terkejut mendengar itu. Melihat ekspresi sang atasan Diana pun bertanya.


"Tidak boleh ya pak?"


"Ti... Tidak, silahkan masuk ke mobil biar aku antar kamu pulang. Ini juga sudah agak larut malam nggak baik wanita secantik kamu pulang sendirian."


...💜💜💜💜💜...


Di rumah Villia masih terjaga, dia masih menunggu Varo pulang. Tidak lama kemudian Varo pulang. Villia langsung menghampiri Varo.


"Apa kamu menunggu ku?" tanya Varo tatkala melihat Villia berdiri di hadapannya.


"Bagaimana mungkin aku tidur, sementara kamu belum pulang kerumah."


"Aku bisa saja pulang larut malam dari ini, aku kan sudah memberi tahu kan mu untuk tidak usah menungguku dan silahkan tidur duluan."


Mereka pun berjalan beriringan masuk kedalam kamar.


Sekarang, Varo sudah mengganti kemejanya dengan baju handuk. Villia memegang kemeja kotor Varo. Kemudian Varo mengatakan bahwa dirinya mau mandi terlebih dahulu.


"Aku mandi dulu." ucap Varo kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamarnya itu.


Tak sengaja Villia mencium bau parfum wanita di kemeja yang baru saja Varo tanggalkan dari badannya.

__ADS_1


"Parfum wanita?"


__ADS_2