MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 45


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Villia terdiam, duduk di ranjang. Dia mulai curiga Varo memiliki lebih dari satu wanita simpanan. Tapi dia cepat - cepat menghapus kecurigaan nya. Ponsel Varo tiba - tiba berdering, melihat nomor tidak kenal, Villia takut jika kecurigaan nya itu benar - benar terjadi.


Villia penasaran dan memberanikan diri untuk menjawab panggilan dari nomor baru tersebut. Terdengar suara wanita di seberang sana.


"Apa ini telepon Pak direktur?"


"Ya, siapa ini?"


"Saya Mama Diana, saya cuman mau bilang terima kasih karena sudah mengantarkan putri saya pulang ke rumah dengan selamat. Maaf jika merepotkan."


"Jadi begitu." ucap Villia plong.


"Dia biasanya tidak seperti itu, saya juga nggak tau kenapa dia hari ini seperti ini kelakuannya. Bagaimana pun, saya tetap harus mengucapkan maaf dan banyak - banyak terima kasih kepada pak direktur. Selamat malam."


"Selamat malam."


Panggilan berakhir.


Varo keluar dari dalam kamar mandi. Melihat ponselnya masih ada di tangan Villia, dia pun bertanya.


"Ada apa?"


"Ah bukan apa - apa, hanya saja tadi ada nomor baru yang menghubungi ponsel mu."


"Oh ya, dari siapa?"


"Dari Mama Diana."


Varo duduk di ranjang.


"Wanita muda jaman sekarang sulit untuk di tebak."


"Maksudnya?"


"Aku meninggalkan makan malam bersama lebih awal untuk pulang, dan salah satu karyawan wanita meminta tumpangan dengan mengatakan kalau kami searah. Tapi, itu benar - benar diluar dugaan ku, dia mengatakan bahwa aku adalah tipe idealnya dan berbicara omong kosong kalau kami adalah pasangan yang serasi."


"Jadi itu sebabnya baju mu berbau seperti parfum wanita. Aku curiga kamu memilik wanita simpanan lain selain Dhea alias berselingkuh dibelakang Dhea."

__ADS_1


"Selingkuh?" ucap Varo kemudian tertawa terbahak - bahak, "Dari mana pemikiran konyol seperti itu?"


"Tidak menutup kemungkinan untuk tidak kamu lakukan untuk yang kesekian kalinya. Melihat kenyataannya kamu ganteng, memiliki kharisma dan masih sangat menarik."


"Itu menurut penilaian mu bukan penilaian orang lain yang melihatnya."


"Itu benar. Semua wanita di lingkungan sini juga mengatakan hal yang sama denganku."


Varo lalu meyakinkan Villia, bahwa hanya dirinya lah satu - satunya wanita di dalam hidupnya yang sangat dia cintai dan sayangi.


Sembari memegang tangan Villia, "Aku sangat mencintaimu. Dan hanya kamu wanita satu - satunya yang sangat aku cintai setelah Mama."


Villia menarik tangannya, "Aku tidak percaya. Aku hanya akan percaya jika kamu bisa membuktikan semua kata - kata mu barusan."


"Baiklah aku akan membuktikan semua perkataan ku benar adanya dan hanya ada kamu dihati ku wanita satu - satunya tidak ada yang lain."


"Lalu bagaimana dengan Dhea?"


"Aku buta. Aku akan mengakhiri hubungan ini dengannya."


"Aku pegang kata - katamu."


...💜💜💜💜💜...


Setelah pertemuan singkat antara Mama dan anak itu, Mama Widya ingin segera menemui Dhea untuk membawakan sedikit oleh - oleh yang di berikan Bian semalam sekaligus Mama Widya ingin membawakan kimci kesukaan Dhea buatannya sendiri.


Kali ini Mama Widya pergi sendirian tanpa ditemani putri kesayangannya itu. Saat ini, Mama Widya sudah berada di dalam mobil. Dia pun segera melajukan mobilnya di jalan raya yang mulai agak rame dengan mobil berlalu lalang.


Tidak perlu waktu lama, mobil Mama Widya kini sudah terparkir cantik di halaman apartemen Dhea. Wanita berkepala empat itupun segera menurunkan barang bawaannya dan segera membawa masuk kedalam karena hari sudah semakin siang.


Ting nong ting nong.


Bel apartemen Dhea berbunyi.


Dhea pun segera membuka pintu. Dhea menyambut Mama Widya dengan senyuman manis. Dhea mengambil alih barang bawaan Mama Widya kemudian menyuruh Mama Widya masuk.


Barang bawaan Mama Widya di letakkan diatas meja dapur, kemudian mereka berdua membongkar nya.


"Mah, apa ini tidak apa - apa berbagi dengan Dhea barang sebanyak ini? Mana makanan kesukaan Dhea, Mama bawakan juga." ucap Dhea sembari terus menatap barang yang baru saja mereka bongkar bersama.


Mama Widya tersenyum, "Karena spesial, Mama datang berbagi denganmu. Maka dari itu, Mama mengemudi lebih awal karena takut terjebak macet."

__ADS_1


"Terimakasih untuk perhatian Mama sejauh ini sama Dhea. Kita kembali bertemu suatu keberkahan untuk Dhea."


Kemudian Mama Widya bertanya, apakah malam ini dia dan Varo akan ketemuan, "Sayang, apa Varo malam ini akan datang kemari?"


"Entahlah Mah."


"Apa hubungan kalian baik - baik saja?"


Dhea hanya membalas dengan anggukan kepala. Mendengar itu, Mama Widya menjadi lega.


"Sangat menyenangkan memiliki seseorang yang bisa Dhea ajak bercanda, berbagi baik dalam suka ataupun duka. Setiap hari Mama mengunjungi Dhea, Dhea tidak akan keberatan untuk itu."


"Tentu saja, Mama juga senang kita bisa kembali akrab seperti beberapa tahun yang lalu."


Mereka pun menata makanan dan beberapa cemilan di atas meja yang di bawa Mama Widya tadi. Lalu mereka duduk sambil menikmati makanan itu sembari bersenda gurau.


"Mama, coklat ini sangat enak. Cobain deh." ucap Dhea sembari menyuap potongan coklat yang ada ditangan Dhea ke mulut Mama Widya. Mama Widya pun membuka mulutnya dan menerima suapan coklat dari Dhea.


"Apa kamu menyukainya?"


"Ini coklat terenak yang pernah Dhea makan."


"Bian yang membawa coklat ini dari London."


Mama Widya membuka beberapa buah yang di bawa dari rumah hasil kebun sendiri. Dhea makan buah dan terkejut, "Apelnya sangat renyah, Mama beli di mana?"


"Mama tidak membelinya, Mama memetik buah apel ini dari kebun Mama sendiri."


Dhea terkejut, kebun? Sejak kapan Mama Widya punya perkebunan. Varo selama ini tidak pernah bercerita tentang perkebunan yang dimiliki keluarganya.


"Kapan - kapan, Dhea ajak ke perkebunan ya Mah."


"Kapan - kapan kita kesana."


Mereka pun kembali menikmati makanan yang ada diatas meja.


Mama Widya pun menyendokkan beberapa kimci dan meletakkan diatas piring kecil yang ada di depan Dhea.


"Mama membuat kan kamu kimci, coba lah."


"Terimakasih Mah."

__ADS_1


...💜💜💜💜💜...


__ADS_2