
...Assalamualaikum...
"Katakan pada Mama yang sakit yang mana? Perlu kah kita pindah rumah sakit?" ucap Mama Widya sembari memeluk Dhea.
Pertanyaan untuk Dhea di jawab oleh perawat, "Untungnya mereka segera di bawa kerumah sakit. Jadi mereka tidak mengalami luka yang cukup serius. Di samping itu suaminya juga merawatnya dengan sangat baik, makanya dia minta pulang lebih awal dan suaminya pun membawanya."
"Suami?" tanya Dhea
"Ya."
Dhea terdiam mendengar Villia, di jemput oleh Varo.
Tiba - tiba saja Dhea merasakan sakit di bagian perutnya. Perawat bingung melihat Dhea kesakitan dan memegangi perutnya.
"Apa ada luka serius di area yang lain?" tanya perawat itu.
Dhea menyibak selimut dan melihat banyak dasar di kasur. Dhea mulai cemas akan bayinya yang baru saja sumur jagung di dalam rahimnya.
Mama Widya terkejut melihat itu, "Sayang kenapa banyak darah?"
Tapi Dhea tidak menjawab pertanyaan Mama Widya karena terlalu menahan sakit. Konsentrasi nya sekarang tertuju pada bayinya di perut apakah baik - baik saja atau tidak.
Dirumah Varo cemas, dia mencoba menghubungi sekretaris Diana tapi tidak ada Jawaban dari seberang sana. Lalu Varo ingat surprice dari Dhea sebuah kamar yang telah didesain sedemikan rupa dan hasil USG calon bayi mereka. Varo cemas dan ingin pergi tapi di pergoki Villia. Varo berbohong ingin mencari udara segar namun Villia tak mengijinkan Varo untuk keluar karena Villia tahu itu hanyalah akal - akalan Varo saja agar bisa keluar rumah. Varo pun tidak bisa berkutik.
Dirumah sakit.
Dhea saat ini sedang berjuang sendirian di dalam ruang operasi. Sementara Mama Widya sejak tadi menghubungi ponsel Varo namun tidak ada jawaban.
"Kamu kemana sih Varo angkat dong!" ucap Mama Widya sembari terus mencoba menghubungi Varo tapi hasilnya nihil.
Varo gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya barang sesaat.
Dhea sudah keluar dari ruang operasi empat jam yang lalu. Perawat dan Mama Widya menemani Dhea dikamar rawat.
Tidak lama kemudian Dhea siuman. Dhea meraba - raba perutnya.
"Bayi ku selamatkan? Bayiku tidak apa - apa kan?"
Mama Widya terkejut mendengar itu. Pasalnya Mama Widya belum mengetahui perihal kehamilan Dhea.
__ADS_1
Dengan wajah sumringah, "Apa kamu hamil? Coba katakan sekali lagi, Mama ingin mendengar nya!"
Dengan berat hati, perawat mengatakan kalau Dhea keguguran.
"Maaf, bayi anda tidak bisa kami selamatkan."
Sontak Dhea langsung menangis histeris mendengar itu.
Mama Widya pun menenangkan nya sembari memeluk nya untuk memberikan dukungan.
"Sudah sayang jangan menangis lagi. Kalau kamu menangis begini, Mama juga jadi sedih. Sudah sayang."
Sekarang Dhea sendirian dikamarnya. Dia masih berduka atas kehilangan bayinya. Sementara Varo masih belum bisa tidur, lalu dia melihat ponselnya berbunyi telepon dari sekretaris Diana, Varo merejectnya.
Dhea terus saja mencoba menghubungi nya. Villia yang sudah tidur nyenyak terbangun gara - gara bunyi ponsel Varo yang berdering hingga berkali - kali. Villia tahu kalau itu pasti telepon dari Dhea. Varo pun mematikan ponselnya.
Dhea Marah.
Perawat masuk keruangan rawat Dhea untuk mengganti perban Dhea, Tapi Dhea ingin meminta pulang kerumah perawat tidak mengijinkan.
Dengan tatapan kosong , "Sus, aku ingin pulang kerumahnya saat ini juga?"
"Maaf Nona anda belum bisa keluar rumah sakit. Anda baru saja selesai operasi tunggulah beberapa hari lagi."
Keesokan harinya.
Mama Widya mendatangi rumah Villia dan Varo, dia berniat memberi pelajaran kepada Villia dan Varo yang menurut nya tidak memiliki perasaan dan hati nurani sebagai seorang manusia. Mama Widya sudah tahu semua cerita yang sebenarnya terjadi, Dhea menceritakan semua kejadiannya kecelakaan itu kepada Mama Widya hingga Varo sama sekali tidak mau mengangkat telepon dari nya. Dhea serta Mama Widya berencana akan memberikan Villia dan Varo pelajaran, dengan tetap menjaga cerita yang sesungguhnya jika saat ini Dhea telah kehilangan bayinya
Mama Widya sudah berada di halaman rumah Villia dan Varo. Dia pun segera masuk kedalam rumah dan meneriakkan nama Villia dan Varo bergantian.
"Villia, Varo, dimana kalian? Keluar!"
"Villia, Varo."
Mendengar teriakan itu dari lantai atas, mereka pun bergegas keluar dari dalam kamar.
"Ada apa sih Mama datang ribut - ribut sepagi ini?" Tanya sembari merapikan dasi serta kancing - kancing bajunya yang semuanya belum terpasang dengan rapi dan sempurna.
Mama Widya mendekat dan melayangkan sebuah tamparan di pipi Varo dan Villia. Varo dan Villia memegangi Pipinya yang merasa kepanasan efek mendapatkan tamparan keras dari sang Mama dan Mama mertua.
__ADS_1
"Kenapa Mama menampar Varo?"
"Kamu masih bertanya, kenapa aku menampar mu? Seharusnya kamu tidak disini bersama istri mandulmu ini. Kemarin aku selalu menghubungi ponsel mu kenapa tidak pernah kamu jawab? Apa istri mandul mu ini melarang mu untuk bicara dengan Mama mu? Terus di rumah sakit sana ada wanita yang sedang berjuang menahan sakit dan berjuang mempertahankan bayi nya sendirian, kamu sebagai laki - laki dan Ayah dari bayi itu dimana rasa hormat mu pada wanita? Bukan ajaran seperti ini yang Mama ajarkan sama kamu."
"Dan kamu Villia, jika tidak bisa memberikan Mama keturunan lebih baik sekarang kamu mundur dan pergi dari kehidupan Varo, biarkan Varo dan Dhea bahagia, bersama - sama membesarkan anak mereka. Mama sudah cukup bersabar bahkan sudah bosan memakan janji - janji palsu mu yang tidak pernah ada pembuktian nya."
Villia pun masuk kamarnya dengan air mata masih membasahi pipinya. Varo hendak mengejar tapi Mama Widya melarang nya.
"Sekarang juga ikut Mama kerumah sakit. Dhea lebih membutuhkan mu dari pada istri mandul mu itu."
💜💜💜💜💜
Villia hanya bisa menatap kepergian mereka dari lantai atas dengan rasa sedih.
Mama Widya dan Varo telah tiba di rumah sakit. Tapi dia kaget tatkala melihat kamar perawatan Dhea sudah kosong. Varo bertanya kepada salah satu perawat yang kebetulan lewat di depan kamar Dhea.
"Sus, pasien yang ada di kamar ini dimana?"
"Oooooo.... Dhea. Dhea ada di taman belakang bersama suster yang merawatnya."
Mama Widya dan Varo segera ketaman belakang sesuai dengan petunjuk yang di beri suster tadi. Dari kejauhan mereka melihat Dhea sedang duduk diatas kursi roda tapi dia sendirian tidak bersama siapa - siapa. Mereka pun berjalan mendekat.
"Sayang kok kamu ada disini?" tanya Mama Widya.
Dhea cepat - cepat menghapus air matanya sebenarnya saat ini dia masih memikirkan tentang bayi nya yang kini sudah tidak ada perutnya lagi.
"Sayang coba lihat, Mama datang bersama siapa!"
Dhea menoleh, dia pun berdiri dan langsung memeluk pria yang sejak kemarin hingga saat ini dia rindukan.
"Kamu kemana saja? Kenapa kamu tidak menemani ku disini?" ucap Dhea sembari melepas pelukannya.
"Aku sedikit memiliki kesibukan di kantor yang benar - benar tidak bisa di tinggalkan."
Dhea kembali menangis dan memeluk Varo, Varo menenangkan nya.
"Sudah - sudah, kan aku sudah di sini menemanimu. Jadi, jangan menangis lagi!"
...💜💜💜💜💜💜...
__ADS_1
...Terima kasih untuk yang sudah berkenan hadir dan memberikan like and komentar. Komentar positif dari kalian, penyemangat ku untuk tetap up cerita ini hingga selesai....
...💜💜💜💜💜💜...