
...Assalamualaikum...
...****************...
"Mama sudah memutuskan, Mama akan membawa Dhea pulang kerumah Mama, sebagai wujud tanggung Mama atas kehamilan Dhea. Mama tidak mau calon cucu Mama kenapa - Napa."
Dhea terharu, andai kata anak itu masih ada di rahimnya pasti dia adalah wanita yang sangat berbahagia di dunia ini.
"Terimakasih Mah, tapi Dhea rasa itu tidak perlu Mama melakukan itu terlalu berlebihan." ucap Dhea menolak.
"Itu bukan berlebihan sayang, itu sudah memang sewajarnya kamu dapatkan sebagai calon ibu, dan pewaris keturunan keluarga Mama. Mama sangat sangat mengucapkan terimakasih karena kamu sudah mau memberi Mama cucu. Atau bukan kalau kamu mau, kamu bisa pindah kerumah Varo kan biar lebih dekat antara Ayah dan calon anak."
"Mama jangan Ngada - Ngada. Lalu bagaimana dengan Villia kan Varo belum cerita soal ini ke Villia. Kalau Villia nggak mau gimana?"
"Apa sih yang kamu harapkan dari wanita mandul itu? Usir saja dia dari rumah yang kalian tempati sekarang, istri nggak guna itu ngapain di piara. Kerja nggak, cuman bisa menghabiskan uang kamu saja."
Setelah di rawat berhari - hari, akhirnya Dhea di izinkan untuk pulang ke rumah nya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari sudah malam.
Dhea sedang mandi. Usai mandi, Dhea duduk di meja riasnya. Foto hasil USG terpajang di atas meja riasnya. Dhea mengenakan riasan dan juga memakai dress berwarna merah. Setelah siap, Dhea memakai sepatu warna merah hadiah dari Varo.
Sorot mata Dhea tampak tajam, dan menyimpan rasa dendam dan kebencian. Dhea ternyata kerumah Villia. Villia sontak kaget melihat Dhea datang. Dhea malah tersenyum sambil memanggil Villia dengan sebutan, "Kakak."
Villia syok Dhea datang kerumah nya apa lagi berpenampilan seperti itu.
Dhea tersenyum, "Aku datang karena aku khawatir. Aku dengar bahwa kamu baru saja keluar dari rumah sakit, tapi aku tidak akan tenang sampai aku melihat sendiri keadaanmu. Apa kamu baik - baik saja? Tampaknya kamu baik - baik saja, itu sangat melegakan. Untungnya bayi ku tidak berpengaruh akibat kecelakaan itu. Apakah kamu tidak menyuruh aku masuk kedalam rumah mu?"
"Harus kah aku menyuruhmu masuk?"
"Aku datang karena mengkhawatirkan mu. Kamu bisa menawarkan setidaknya satu gelas teh sama aku, bukankah kita sekarang sahabat."
"Sahabat?"
Villia kesal, "Pergilah!"
Tapi, Dhea tidak mau pergi. Villia menjadi kesal dengan kelakuan Dhea. Villia yang sudah tidak tahan lagi meminta Dhea pergi dengan sopan. Tapi, malah Dhea meminta makan.
"Aku lapar."
Varo datang, dan dia terkejut melihat Dhea ada dirumah nya. Dhea pura - pura tidak mengenal Varo. Dia pun memperkenalkan dirinya kepada Varo.
"Senang bertemu dengan mu, nama ku Dhea."
Setelah makan, Dhea melihat - lihat isi rumah Villia. Dhea melihat papan catur. Dia pun mendekati nya dan mengaku dia suka main catur.
Villia menyusul Dhea. Dia melihat Dhea menaruh di pion hitam di samping nya raja, menggantikan posisi ratu.
"Apa kah kamu sedang promosi?"
__ADS_1
"Apakah mau tahu itu?"
"Itu adalah aturan khusus yang memungkinkan pion sedang dipromosikan menjadi ratu. jika mencapai sisi lawan."
"Kamu tahu tentang itu?"
"Maka kamu telah menjadi ratu hitam sekarang."
Dhea menatap Varo dengan tatapan kesal.
"Aku telah menjadi ratu hitam."
"Silahkan pergi!" Varo mengusir Dhea.
"Silahkan pergi aku mau beristirahat!" ucap Villia.
Dhea beranjak ke pintu.
"Aku harap bukan efek dari kecelakaan itu."
Dhea menatap Varo dengan tatapan kesal. Tak lama kemudian Dhea berbalik menatap Varo. Dia memanggil Varo dengan sebutan "Kakak Ipar." meminta nya untuk mengantarkannya pulang.
"Aku merasa tidak enak memanggil taksi. Tapi aku juga tidak mungkin pulang dengan berjalan kaki karena jarak rumah dan apartemen yang sangat jauh dan juga sekarang aku memakai sepatu hak tinggi." ucap Dhea.
Villia kesal dan langsung masuk kamar.
Varo mengantar Dhea pulang. Di mobil, Dhea tertawa sekeras - kerasnya.
Varo marah, "Apa yang salah dengan mu?"
"Kemarin kamu kemana saja? Kamu bahkan sama sekali tidak perduli denganku. Aku mau hidup atau mati. Aku di ruang operasi sedang berjuang, kamu di mana saja? Kamu bahkan tidak khawatir soal bayi kita apakah baik - baik saja atau tidak. Bagaimana mungkin kamu bisa pergi begitu saja bersama Villia, sedangkan kamu tahu aku masih terbaring lemah tak berdaya. Aku kamu titipkan di Suster."
"Lalu apa yang bisa aku lakukan dalam situasi tak menguntungkan ini?"
Dhea terdiam mendengar nya.
Villia cemas menunggu Varo yang ada di rumah pelakor.
Dhea sudah berada di apartemen. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
Varo menyuruh Dhea untuk kembali ke LN.
"Aku sudah bilang kamu sangat memiliki bakat menggambar dengan sangat baik. Aku mendukungmu jadi pergilah belajar desain keluar negeri. Dan memiliki bayi disana."
Dhea kecewa, "Apa kamu mencoba untuk mencoba mengirim dan menyingkirkan ku bersama bayi ini saat ini juga?"
"Mari berfikir dan bertindak lebih dewasa tentang apa yang terbaik untuk kita. Aku tidak akan pernah mengabaikan mu dan bayi itu. Aku akan bertanggung jawab penuh. Tapi, untuk saat ini kita perlu berhati - hati untuk kita dan bayi itu."
"Untuk kita dan bayi kita?" tanya Dhea.
Mata Dhea tiba - tiba berkaca - kaca mendengar kata, "Bayi kita."
__ADS_1
"Itu benar. Demi kita dan bayi kita. Semuanya akan hancur jika kamu seperti ini. Jadi, Dhea tolong beri aku waktu sedikit lebih lama."
"Sampai kapan? Berapa lama aku harus menunggumu?"
"Sampai VCI resmi menjadi milikku. Sampai aku bisa membuatmu menjadi istri pemilik VCI."
💜💜💜💜💜
Varo baru saja tiba di halaman rumah, dan melihat mobil Villia melaju keluar halaman rumah. Villia sendiri ingin mendatangi rumah Dhea. Dia ingin memperingati si ratu hitam.
Villia tiba di apartemen. Dan langsung masuk menemui Dhea.
"Eh ratu hitam, aku datang kesini untuk memperingati mu agar kamu menjauhi keluargaku dan tinggalkan lingkungan ini saat ini juga."
Dhea tertawa, "Kamu datang kesini untuk memperingati ku? Aku pikir aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah bilang, aku sudah pernah mencoba untuk pergi tapi aku tidak bisa. Disamping itu, aku punya alasan untuk tetap tinggal disini." ucap Dhea sembari memegangi perutnya.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan. Untuk sekarang bukankah lebih baik fokus untuk melahirkan bayinya dulu? Aku juga sudah mendekor kamar bayi." Dhea meminta Villia untuk melihat kamar bayinya dan Dhea menarik paksa tangan Villia untuk melihat kamar bayi Dhea.
Sembari menyentuh barang bayinya satu persatu, "Aku dengar ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melahirkan. Mama ku sudah tiada dan aku tidak memiliki siapa - siapa selain Mama Widya dan kamu. Bisakah kamu membantu ku?"
Villia semakin geram, "Kamu....?"
Dhea senang melihat ekspresi wajah Villia.
Tak tahan, akhirnya Villia memutuskan untuk pulang.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di halaman rumah Varo menunggu Villia untuk pulang.
"Villia." panggil Varo.
"Dasar bajingan."
Villia ingin masuk kedalam rumah, tapi tangannya di raih oleh Varo. Villia mengempaskan tangan Varo kemudian menampar nya.
"Jangan sentuh tanganku!" kemudian Villia beranjak pergi.
💜💜💜💜💜
Varo ingin menyusul istrinya masuk kedalam rumah tapi tiba - tiba ponsel Varo berdering. Ternyata dari Dhea.
"Aku ingin makan masakan yang kamu buat. Aku belum makan apa - apa hari ini karena mual di pagi hari. Kamu bisa datang kan?"
Varo terdiam. Lalu kemudian beranjak masuk ke mobil nya dan beranjak pergi.
Nota : Silahkan tunggu part selanjutnya. Terima kasih untuk yang sudah berkenan mampir berikan like dan komentar.
➡️ Kita lihat ya keputusan apa yang akan di buat Villia pada part selanjutnya.
__ADS_1