
...Assalamualaikum...
...****************...
Villia saat ini sedang duduk di sofa. Tiba - tiba ponsel nya berdering. Pesan dari Adrian. Adrian mengirimkan foto, foto kursi Villia.
"Kursi ratu akhirnya selesai. Kapan pun sang ratu lelah dan letih, silahkan datang kapan saja dan beristirahat lah dengan tenang." ucap Adrian. Villia tersenyum melihat kursi yang dikirim Adrian.
Keesokan harinya, Villia pergi kerumah Adrian. Lalu duduk di kursi ratunya hingga akhirnya tertidur. Tak lama kemudian dia terbangun dan langsung menuju dapur untuk membuat teh hangat. Tapi kemudian seseorang datang, dia fikir itu adalah Adrian. Ternyata Dhea yang datang. Sontak Villia kaget dan segera menyembunyikan diri. Tidak lama kemudian Adrian masuk menyusul Dhea.
"Aku cukup yakin kalau aku sudah memperingatkan mu untuk tidak melakukan apa pun sesuatu yang tidak aku minta." ucap Adrian sembari menatap Dhea.
"Aku bukan boneka. Aku bukan boneka yang hanya melakukan apa yang kamu minta."
"Jika kamu terus melakukan ini, aku tidak bisa membantu mu lagi."
"Membantuku? Kamu? Jangan konyol, kamu menggunakan ku untuk mendapatkan Villia. Mengungkap skandal perselingkuhan Villia dan kamu, itu juga demi kamu. Kamu melakukan itu semua untuk mendapatkan hati Villia untuk kedua kalinya. Dan kamu juga yang menyuruh ku untuk mendekati Bian agar Varo cemburu."
Dhea tiba - tiba ingat saat Adrian memberikan kartu nama produser itu kepadanya.
Dhea lalu berkata, "Sudah saatnya kita berhenti untuk bekerja sama. Aku akan melakukan apa yang aku mau dan bagaimana aku mau. Tidak ada yang berhasil dengan bekerjasama dengan mu."
"Itu tidak semuanya benar. Di luar sepertinya tidak ada yang berubah, tapi bukan kah saat ini Villia dan Varo sudah tidak tinggal bersama."
"Tidak tinggal bersama?"
"Runtuhan bendungan besar, di mulai dari retakan kecil."
Tanpa mereka sadari Villia mendengar semua pembicaraan mereka.
Villia syok dan terduduk lemas. Dia tidak menyangka Adrian lah biang keladi atas luka nya kembali terbuka.
Villia kembali kerumahnya dengan wajah terpukul. Dia tidak pernah menyangka orang yang dia percayai sepenuh hati tega menyakiti nya. Tidak lama kemudian tangis Villia pecah. Villia menatap catur nya dengan tatapan lirih. Tidak lama kemudian Villia menghubungi Adrian. Villia meminta untuk mereka bertemu saat ini juga di restoran yang tak jauh dari rumah Villia.
"Maaf butuh waktu lama untuk bisa sampai kesini, ada kemacetan lalu lintas."
Villia menatap Adrian dengan tatapan kecewa.
"Apa ada yang salah?" tanya Adrian.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini kepada ku? Membuat Dhea mendekati Bian, apa itu yang kamu lakukan?"
Sontak Adrian kaget, kenapa Villia bisa tahu rencananya.
"Orang yang menyiksaku dan memberiku bekas luka yang tidak bisa di hapus, itu kamu. Teman ku, sahabat ku. Apa kamu yang melakukan semuanya?"
Villia emosi, "Cepat katakan padaku?"
"Ya itu aku, aku yang melakukan nya."
"Kenapa? Kenapa kamu tega melakukan nya?"
"Karena kamu menangis."
__ADS_1
"Apa?"
"Karena kamu menangis di depanku."
"Bagaimana mungkin kamu bisa setega ini pada ku?"
"Aku tidak akan meninggalkan mu dengan bajingan seperti Varo itu lagi. Aku akan menempatkan kembali di sampingku untuk kedua kalinya."
Villia yang kecewa, melarang Adrian untuk menghubungi nya lagi.
"Persahabatan kita cukup sampai disini dan jangan pernah menghubungi ku lagi."
Villia kemudian pergi meninggalkan Adria yang masih diam dan mematung dan hanya tatapan yang sulit di artikan dari Adrian mengiri kepergian Villia. Adrian syok di tinggal Villia.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Dhea sedang berada di galeri. Dia sedang memikirkan perkataan Varo, untuk mencari bukti kecurangan Ketua VCI dan untuk menjatuhkan wakil VCI yang terdahulu.
Note : Berarti mertuanya si Varo ya guys 😂. Walau hubungan rumah tangga Villia dan Varo masih tergantung belum ada kejelasan. Varo minat benar untuk menguasai VCI 💯% tapi nggak salah sih ya kan sesuai dengan karakter nya si Varo yang sudah di jelaskan di awal part cerita ini😂😂.
"Nyonya Divya pasti menggunakan galeri VCI untuk pencucian dan penggelapan dana. Aku ingin kamu menemukan bukti itu untukku."
"Apa itu tujuan awalmu, makanya kamu menempatkan ku sebagai penanggung jawab galeri?"
"Jika kita bisa menemukan titik kelemahan Nyonya Divya, aku bisa menjadi ketua VCI maka kamu akan menjadi nyonya VCI."
Dhea yang memang ingin menjadi Nyonya VCI bersedia melakukan itu.
...****************...
"Aku mencoba untuk melihat riwayat transaksi VVIP dari potongan galeri, tapi katanya akses di batasi."
Sekretaris Dhea berkata, "Hanya beberapa yang memiliki akses untuk itu termasuk Nyonya Divya dan Villia."
"Beri aku akses juga."
"Maaf aku tidak bisa melakukan itu."
Dhea marah, "Menurutmu mengapa aku memecat sekretaris sebelumnya dan memberimu posisi sebagai gantinya? Kamu masih belum mengerti? Aku kepala galeri ini, bukan direktur utama Villia. Aku lah yang bertanggung jawab atas penghidupan mu."
...****************...
Varo menemui Dhea.
"Tidak ada?" tanya Varo.
"Di antara rincian VVIP, aku memeriksa setiap catatan transaksi dengan orang - orang yang berpengaruh, tapi tidak ada yang di temukan."
"Jadi tidak ada transaksi ilegal atau dana gelap? Ada empat cara untuk mengakhiri permainan catur, skatmat, menggambar, keluar dan ketika waktu habis. Aku bilang aku butuh waktu sekarang."
"Waktu?" tanya Dhea.
"Sampai aku berakhir di atas tahta, aku tidak akan memberikan ketua jalan keluar."
Varo mengajak Dhea untuk melakukannya bersama - sama.
__ADS_1
Bian menemui Nyonya Divya di rumah sakit. Bian melihat Nyonya Divya sudah tidur. Melihat tangan nyonya Divya di luar selimut, Bian pun memasukkan tangan Nyonya Divya kedalam selimut. Bian ingin beranjak pergi, tapi tiba - tiba nyonya Divya terbangun dan memanggilnya. Langkah Bian terhenti.
Bian berbalik lalu berlutut, dan meminta maaf kepada Nyonya Divya. Dan memanggil Nyonya Divya dengan sebutan "Wakil Ketua."
"Jangan perlakukan aku sebagai wakil ketua disini. Kenapa tidak memanggilku dengan sebutan yang seperti Villia panggilkan kepadaku dan panggilan itu juga sudah sering kamu panggilkan kepadaku sebelumnya. Bangun! Jika ada orang melihat kamu seperti ini, mereka akan berfikir aku sudah kasar terhadap mu."
Bian bangun dan duduk di samping Nyonya Divya.
Nyonya Divya menatap Bian.
"Kenapa kamu terlihat sangat tidak sehat? Apa kamu sudah makan dan istirahat dengan benar?"
"Mungkin aku hanya butuh istirahat sejenak dari rutinitas kantor yang nggak ada habis - habisnya."
Villia datang, dia melihat itu dan dia tidak jadi masuk.
Nyonya Divya meminta maaf kepada Bian karena selama ini sikapnya kurang baik kepada Bian. Nyonya Divya juga berterima kasih karena sudah mau berada di samping Villia, dan sudah menjaga Villia dengan baik.
Nyonya Divya lalu mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan Bian memegang tangan Nyonya Divya. Bian memegang tangan Nyonya Divya dan menangis.
Note : Ada yang tau nggak apa yang terjadi dengan keluarga Ibrahim 30 tahun yang lalu?? Silahkan berkomentar di kolong komentar, terimakasih.
Sekarang Bian sudah berada di luar kamar Nyonya Divya. Bian melihat Villia duduk di kursi rumah sakit, Bian pun mendekati nya.
"Kamu hampir menyakitiku."
"Aku ingin menipu Varo, jadi aku tidak punya pilihan. Aku bahkan harus membodohimu, agar dia percaya padaku. Sekarang aku akan melacak setiap gerak gerik gerakkan Varo. VCI tidak akan pernah bisa jatuh ke tangan Varo dan menggantikan mu di posisi ketua."
...****************...
Varo dan antek - anteknya sedang mengadakan rapat darurat.
antek 1, "Saham Villia yang di akuisisi oleh silver stone sebagai jaminan akan di serahkan sepenuhnya Minggu depan."
"Beli saham itu. Tidak perduli berapa yang mereka minta."
"Harganya sudah pasti sangat tinggi dan aku yakin kita bisa mengatasinya."
"Percepat agar pembelian bisa selesai sampai rapat umum pemegang saham bulan depan dan bagaimana kondisi saham itu saat ini?" tanya Varo.
"Jika kita membeli semua saham direktur utama VCI yang di serahkan ke perusahaan perlindungan dana silver stone di Hongkong, saham kita akan menjadi 0,2 % saham kita akan akan di atas dari punya Nyonya Divya."
"Aku pikir pemogokan di Filipina banar - benar jenius."
Bian terkejut mendengar itu.
Varo melirik sejenak ke Bian, setelah berucap seperti itu.
"Jika seseorang mendengar mungkin mereka akan berfikir bahwa aku merencanakan pemogokan di Filipina."
"Maksudku itu melegakan bahwa pemogokan di Filipina dapat di selesaikan dengan baik."
Varo lantas berterima kasih kepada Bian.
"Keputusannya pasti tidak mudah, terimakasih."
__ADS_1
"Tidak apa - apa. Itu adalah pilihan yang tepat untuk VCI."