MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 50. Jalan - jalan ke Mall


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Dhea mencoba tidak memperdulikan rasa mualnya itu. Dia mencoba kue Villia segigit lagi. Tapi kali ini dia kepingin muntah. Dhea langsung berlari kekamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perut nya kedalam Wc. Setelah selesai muntah, Dhea berjalan kearah westafel untuk membersihkan mulut nya.


Setelah berfikir sejenak, akhirnya Dhea menyadari penyebab dia muntah.


💜💜💜💜💜


Hari ini Dhea ingin berjalan - jalan ke mall tentunya dengan Mama Widya. Setelah janjian akan bertemu disana, Dhea pun segera bersiap - siap.


💜


💜


💜


Setelah berkendara selama kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Dhea tiba di Mall tempat yang mereka sudah janjian bertemu dengan Mama Widya. Setelah memarkir mobilnya Dhea pun segera ke lobi kantor untuk menemui Mama Widya karena Mama Widya sejak tadi sudah menunggu Dhea. Setelah jarak mereka dekat, mereka pun saling melambikan tangan.


"Hallo Mama sayang, apa kabar?" ucap Dhea sembari memeluk Mama Widya.


"Hallo anak Mama." Mama Widya memperhatikan bentuk tubuh Dhea yang menurut nya sedikit berisi dan agak gemukan.


"Sayang, akhir - akhir ini kamu banyak makan dan gak olahraga ya?"


Dhea pura - pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Mama Widya.


"Maksud Mama?"


Kemudian Dhea memperhatikan tubuhnya, "Dhea gendutan ya Mah?"


"Iya sayang badan kamu sedikit berisi dari hari terakhir dimana kita bertemu."


"Nanti Dhea olahraga Mah, biar tetap cantik dan seksi."


Mereka pun naik ke lantai dua di mall itu. Mereka berjalan melihat - lihat kosmetik yang ada di mall itu. Dhea mengambil sebuah pelembab wajah. Lalu pegawai toko datang dan memberitahu kan Dhea bahwa pelembab yang ada di tangannya itu cukup populer minggu ini dan cukup banyak di gandrung baik kaum hawa maupun kaum Adam.


"Boleh aku mencobanya?"


Pegawai toko memberi ijin.


"Tentu."


Dhea pun mencobanya.

__ADS_1


"Sangat menyenangkan untuk menggunakannya sambil membawanya kemana - mana. Tolong beri aku 3 produk yang seperti ini dan bungkus."


Pegawai toko segera melaksanakan perintah pembelinya. Setelah membungkus dan melakukan pembayaran, pegawai toko itu memberikan barang belanjaan Dhea.


Dhea membagi barang belanjaan nya dengan Mama Widya dan Sameya.


"Ini untuk Mama dan satu lagi untuk Sameya, biar kita samaan."


"Terimakasih sayang untuk pelembab wajah nya." ucap Mama Widya sembari menerima 2 buah pelembab wajah dari Dhea.


Setelah membeli pelembab, mereka berjalan - jalan ke toko perlengkapan bayi. Dia melihat - lihat baju - baju anak perempuan ataupun laki - laki. Saat tengah melihat - melihat baju, Dhea tak sengaja melihat Villia di mall yang sama sedang melihat - lihat baju juga. Dhea tak ingin bertemu Villia hari ini, dia pun buru - buru menarik tangan Mama Widya untuk membawanya pergi dari sana sebelum Villia melihatnya. Tapi terlambat, Villia terlanjur melihatnya.


Villia bergegas mengejar Dhea dan Mama Widya, dengan terpaksa Dhea berhenti dan kembali berjalan mendekati Villia. Setelah Mama Widya tahu apa yang membuat Dhea berlari, dia pun menatap dengan sinis menantunya itu.


"Kamu ngapain disini? Kamu disini pasti mau menghabiskan uang anak ku ya kan ngaku?"


Villia membela diri, "Villia ada disini karena Villia bosan dirumah. Villia suntuk dirumah."


"Tempat yang bagus untuk mu memang rumah, bukan mall."


"Apa kamu datang untuk membeli sesuatu?" Dhea menengahi.


"Ya, aku mau beli ini dan itu."


💜


💜


💜


Selagi Villia mempersiapkan makan siang. Mama Widya dan Dhea melihat - melihat rumah Villia yang menurut mereka tidak ada yang berubah masih tatanan seperti yang dulu. Dhea masuk kekamar aksesoris Villia sementara Mama Widya duduk di ruang tamu sembari menonton televisi.


Dhea masuk kekamar aksesoris Villia. Dhea melihat sepatu Viktoria dirak. Tapi yang menarik perhatiannya itu bukan sepatu Viktoria melainkan sepatu berwarna putih yang ada di tudung kaca.


Villia masuk.


"Sepatu itu sangat berharga bagiku."


Sepatu yang dilihat Dhea adalah hadiah dari Varo saat Varo melamar Villia. Sementara yang satunya hadiah dari Ayahnya ketika Villia ulang tahun ke tujuh belas tahun beberapa tahun yang lalu.


Dhea keluar dan melihat sudut rumah Villia yang lainnya.


"Tidak ada yang berubah masih seperti yang dulu." ucap Dhea dalam hati.


Tiba - tiba perhatian Dhea tertuju pada foto keluarga Villia didinding.

__ADS_1


"Ini rumah yang sangat indah, sepertinya ada banyak kehangatan dan kenyamanan di rumah ini."


Lalu Dhea bertanya, "Apakah aku bisa memiliki keluarga yang indah seperti ini?"


"Tentu saja. Kamu bisa memiliki keluarga yang indah seperti itu bahkan kamu bisa mendapatkan yang lebih dari ini." ucap Villia.


"Benarkah? Apakah iya aku akan memilikinya suatu hari nanti?"


"Tentu saja."


Mereka pun makan bersama - sama.


"Aku tidak tahu apa kah masakan ini sudah sesuai dengan selera mu."


"Ini sangat enak."


Tiba - tiba, Dhea bertanya, "Seberapa besar rasa cinta mu kepada suamimu?"


Villia kaget dapat pertanyaan seperti itu.


"Maksud ku seberapa besar kamu mencintai suamimu? Apa kamu mencintainya dengan sepenuh hati? Sehingga kamu tak bisa hidup tanpanya?"


"Entahlah."


"Apa kamu sudah tidak mencintainya lagi?"


"Aku mencintainya. Tapi bisa di bilang itu warna cinta yang berbeda."


Mama Widya hanya menjadi pendengar setia dari percakapan mereka berdua.


Villia lalu mengatakan pendapat nya tentang cinta suami istri.


"Aku pikir menjadi suami dan istri melampaui hubungan antara pria dan wanita."


"Melampaui hungan antara pria dan wanita?" tanya Dhea.


"Pada awalnya, aku menikahinya kerena sangat mencintainya, tentu saja. Dengan perasaan bahwa aku akan mati tanpa dia. Tetapi, setelah waktu berlalu semua rasa cinta itu mulai menghilang. Jika aku mencintainya dengan penuh semangat setiap hari, akan terlalu sulit untuk hidup. Menghabiskan banyak waktu bersama kita bisa berbagi kenangan yang sulit dan bahagia bersama. Di saat menjadi ibu dan memilik anak yang cantik dan ganteng, aku pikir suami dan istri berakhir sebagai satu kesatuan yang berbagi takdir yang sama. kami keluarga, keluarga yang memiliki hubungan mendalam."


"Aku iri. Aku ingin berfikiran seperti mu. Berbagi banyak kenangan bersama dengan orang yang kucintai, menjadi orang tua bagi anak - anak yang cantik dan ganteng sebagi pasangan seperti keluarga kita."


Villia hanya ternyum mendengarnya.


Mereka sudah menyelesaikan makan siang. Mama Widya langsung pulang kerumahnya begitu pula dengan Dhea.


Dhea sudah berada di apartemen, dia tengah menatap foto lukisan yang ada di ponsel Dhea.

__ADS_1


__ADS_2