
...Assalamualaikum...
...****************...
"Villia, kamu mau kemana?"
"Aku mau tidur, dikamar tamu."
"Aku lapar."
Villia cukup mendengar, kemudian keluar kamar sembari membawa bantal, guling dan selimutnya.
Villia tetap memasak untuk sang suami dan untuknya sendiri, walau sedang marah, dia tidak akan lupa kewajiban nya sebagai seorang istri.
Varo duduk dimeja makan sembari menunggu masakan sang istri siap. Suasana rumah yang biasanya diisi dengan canda tawa, kini hening tanpa suara. Baik Varo ataupun Villia tidak ada yang suka dengan situasi ini namun apalah daya, ego mereka masih ada didalam diri masing-masing.
Setelah selesai makan, Varo tidak langsung meninggalkan meja makan melainkan duduk termenung sembari memandang punggung istrinya sedang cuci piring.
Selesai cuci piring Villia heran melihat sang suami yang masih duduk dimeja makan.
"Apa masih ada yang harus dibahas?" tanya Villia sembari meninggalkan dapur. Dia memperhatikan sekeliling ruangan yang ada dirumah itu. Ruangannya sangat berantakan layaknya kapal pecah.
Villia menghela nafas, tapi dia tidak memiliki niat untuk merapikannya, Villia hendak masuk kekamar tamu, tapi Varo mencegah nya.
__ADS_1
"Cukup Villia."
"Kenapa? Masih banyak wanita diluar sana yang siap menjadi istri Mas Varo. Contohnya Mbak Dhea. Lagi pula Mama dan Sameya sedikitpun nggak menyukaiku. Mas hanya berani menekanku dirumah, sedangkan Mama dan Sameya Mas biarkan. Sekali - kali buka mata Mas, lihat siapa mereka."
Villia tau Mas Varo tidak buta. Dia hanya menutup mata untuk permasalahan ini. Memilih keluarganya karena alasan bakti.
"Ceraikan aku, Mas bisa memberikan seluruh gajih Mas kepada Mama dan Sameya. Mas juga akan lebih leluasa bersama Mbak Dhea dan kita nggak perlu bertengkar lagi hanya karena Mas memberi Mama dan Sameya uang secara diam-diam tanpa harus ada yang terluka dan Mas bisa memberikan apa yang mereka mau tanpa harus ada yang tersakiti lagi. Mas juga akan lebih leluasa meluangkan waktu untuk Mama dan Sameya tanpa harus berbohong lagi."
"Buang pikiran sempit itu Villia!" ucap Varo sembari hendak meraih tangan sang istri. Namun, secepat kilat Villia menarik tangannya.
"Memang perceraian adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan semua masalah kita."
Ketika Villia ingin melanjutkan kalimatnya, tiba - tiba ponsel Varo berdering. Dilayar handphone tertulis nama Sameya. Varo segera menggeser ikon warna hijau keatas.
"Mama masuk rumah sakit." ucap Sameya panik diseberang sana.
"Ok aku segera kesana." ucap Varo. Sambungan telepon pun terputus.
"Aku mau kerumah sakit. Kamu mau ikut nggak?"
Tapi, Villia tak bergeming dari tempatnya. Dia hanya diam dan mematung.
"Kamu pergi saja. Aku nggak ikut."
__ADS_1
"Vill, kamu ini kenapa sih? Kamu tau nggak kalau dia itu orang tuaku. Orang yang sudah melahirkan aku, orang yang sudah membesarkan aku. Kamu sedang emosi."
"Dan aku selalu begini karena keluarga mu dan kamu Mas. Aku meminta kita akhiri dengan baik - baik."
"Lupakan. Tidak ada perpisahan. Sudah ku katakan berkali - kali kalau uang untuk membeli tanah itu Mama pinjam nggak minta."
"Persetan. Aku tak suka laki - laki yang nggak punya prinsip dalam berumah tangga."
"Jaga ucapanmu, aku ini suamimu."
"Bagiku, kamu anak Mama Mas. Bukan suamiku."
...💝💝💝💝💝...
...Mungkin kita pernah mengalami fase-fase dimana , kita selalu dikecewakan, disakiti, atau tak dihargai mertua, ipar, bahkan tak dihargai oleh pasangan. Fase ingin pergi sejauh mungkin, ingin pergi bukan karena sudah tak cinta, atau sudah tak sayang tapi karena sudah di ujung lelah karena luka - luka yang sudah tertorehkan terlalu dalam. Lelah mempertahankan rumah tangga....
...💝💝💝💝💝...
Villia berdiri terdiam, menatap punggung suaminya yang semakin jauh semakin mengecil kemudian menghilang dari pandangan mata Villia.
Tersadar oleh dinginnya air mata, satu tetes, dua tetes sampai tetesan itu berubah menjadi aliran.
...TERIMAKASIH...
__ADS_1