MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 68. Mari kita bermain.


__ADS_3

Hari ini Villia membawa Mamanya pulang kerumah atas dasar permintaan Mama nya. Villia memapah Mamanya kekasur.


"Sudah Villia bilang, Mama harus tinggal lebih lama lagi di rumah sakit "


"Dirumah lebih nyaman dari pada rumah sakit."


Setelah menidurkan Mamanya, Villia keluar kamar Mamanya dan menemui Bian.


"Bagaimana kondisi Mama?" tanya Bian.


"Dia baik - baik saja."


"Itu melegakkan."


Bian memberi tahukan Villia jika situasinya sedang tidak baik - baik saja.


Mama Divya bangun dari tidurnya, dia hendak kekamar mandi tapi tidak sengaja mendengar pembicaraan Villia dan Bian soal perusahaan.


"Varo pasti akan merencanakan hal yang lain. Apa belum ada berita tentang broker cina itu?"


"Aku mencari mereka dengan bantuan orang - orang dalam perusahaan, tapi sepertinya akan sangat sulit untuk menemukan nya."


Sementara di tempat lain. Dhea sedang menelpon Varo.


"Bagaimana dengan buku besar transaksi ilegal?" tanya Varo dari seberang sana.


"Semuanya sudah beres."


"Baiklah, serahkan semuanya kepadaku secepatnya."


...****************...


Mama Divya meminta Yohana untuk menemui nya secara pribadi di kediaman nya. Mama Divya meminta Yohana untuk jujur kepada nya. Tapi, Yohana berkata Villia melarang nya untuk memberitahu kan kepada Mama Divya.


"Cepat katakan!" bentak Mama Divya.


Yohana bingung harus bagaimana, tapi karena terus di desak dia akhirnya mengatakan apa yang terjadi di perusahaan.


Keesokan hari nya, Mama Divya pergi ke perusahaan.


Sekarang Mama Divya sudah berada di ruangan nya bersama Bian, Villia dan Varo.


Mama Divya menyuruh Varo untuk meninggalkan VCI.


"Kenapa harus Varo?" tanya Varo.


Di ruangan yang lain.


Dhea menunggu di ruangannya. Tiba - tiba sekretaris nya masuk dengan panik.


Dia bilang jaksa penuntut tiba - tiba menyerbu masuk ke perusahaan.


Dhea senang mendengarnya.


Jaksa masuk keruangan Mama Divya. Villia ingin tahu apa yang terjadi.


Jaksa, "Jaksa Erlangga dari kantor kejaksaan kota X, nyonya Divya anda di laporkan karena di duga melanggar undang - undang dana politik."


"Apa kata mu?" ucap Villia.


Nyonya Divya di bawa kekantor kejaksaan. Begitu tiba, wartawan langsung mengerubungi nya. Nyonya Divya masuk dan di kawal ketat. Villia mengikuti Mamanya dari belakang.

__ADS_1


Mama Divya berbalik dan menatap para wartawan yang siap meliputi beritanya.


"Saya Divya sebagai pebisnis, menyatakan bahwa saya bangga dengan Kenyataan bahwa saya mengembangkan perusahaan saya dengan cara transparan, dengan filosofi tegas, serta beroperasi dalam batas - batas hukum. Saya minta maaf telah menyebabkan masyarakat umum merasa cemas karena saya terlibat dalam sesuatu yang sangat memalukan. Di masa yang akan datang, saya akan menghadapi penyelidikan jaksa dengan setia."


Mama Divya kemudian menatap Villia, lalu melangkah pergi. Villia menatap ibu nya dengan sorot mata sedih.


...****************...


Saat ini Villia sedang berada di rumah mamanya. Bian datang menemui Villia.


"Apa kamu sudah mencari tahu, apa yang sedang terjadi?"


"Seseorang melaporkan ke pihak kejaksaan bahwa anggota dewan dan galeri VCI melanggar undang - undang Dana politik."


"Ini pasti perbuatan Varo."


"Aku belum tahu pasti siapa dalang di balik semua ini. Seperti nya dia benar - benar merahasiakan nya, bahkan dariku. Jaksa melakukan penggeledahan dan penyitaan galeri, dan sepertinya mereka menemukan transaksi yang mencurigakan dalam catatan transaksi karya seni."


"Itu tidak mungkin, aku tahu itu."


❤️❤️❤️❤️❤️


Diruangan Varo bersama sekretaris nya bicara dengan jaksa.


Varo, "Pak jaksa, aku benar - benar berhutang Budi pada mu untuk kejadian hari ini. Tolong lakukan penyelidikan secara menyeluruh. Dan aku juga menginginkan saham Villia segera beli berapa pun harganya."


Villia tiba - tiba datang dan kesal melihat Diana, Diana pun segera meninggalkan ruangan Varo.


"Apa yang membawamu kemari?"


"Biarkan Mama ku keluar penjara sekarang!"


"Kesehatan Mama mertua sangat buruk, ini benar - benar tidak baik untuk nya. Tapi kamu nggak usah khawatir karena pengacara dan tim hukum perusahaan akan melakukan yang terbaik untuk membebaskan Mama mertua."


Varo lalu berdiri dan mendekati Villia, "Aku tahu jika kamu khawatir saat ini."


"Apa kamu benar - benar harus melakukan semua ini?"


"Apa maksudmu? Apa kamu mengatakan kalau aku yang melakukan semua ini? Aku akan melakukan semua yang aku bisa, sehingga Mama mertua bisa segera bebas dari penjara."


Villia menatap kesal Varo, kemudian pergi.


...****************...


Villia pergi mengunjungi ibunya di penjara. Ibunya sudah mengenakan seragam tahanan.


Sang Ibu mengatakan kalau dia tidak pernah melakukan seperti yang mereka tuduhkan. Villia tampak menahan tangis.


"Villia tahu Mah, Mama percayakan pada Villia? Aku putrimu, Villia Carolin Ibrahim, Villia akan melindungi VCI. Aku putrimu, Putri ketua Ibrahim, Mama percaya padaku kan?"


"Tentu saja putriku, aku mempercayaimu."


Villia mengalihkan pandangan nya ke lain, dia menangis.


Di tempat yang lain.


Varo dan Dhea sedang merayakan keberhasilan mereka.


"Selamat ketua Varo."


Dhea memeluk Varo lalu kemudian mereka berciuman.

__ADS_1


Ponsel Varo tiba - tiba berdering.


"Surat perintah penangkapan sudah di keluarkan."


Varo senang mendengarnya.


Dhea memberikan ucapan selamat kepada Varo, tapi Varo berkata bahwa dia belum menjadi ketua VCI.


"Tapi, kamu akan di tunjuk sebagai pimpinan pada rapat pemegang saham Minggu depan. Kamu memiliki cukup banyak saham. Lalu di mana masalah nya?"


"Kamu menyimpan riwayat transaksi aslikan?"


tanya Varo.


Dhea ingat saat dia menyalin data transaksi karya seni yang asli dan menyimpan nya di dalam flashdisk.


Tapi, Dhea berbohong dan mengatakan dia sudah menghancurkan catatan itu.


Varo kaget, "Apa?"


"Bukankah lebih baik untukmu jika bukti itu di hilangkan? Itu sebabnya aku sengaja membakarnya."


Kemudian Dhea mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu bilang tak ingin membicarakan hal - hal yang merepotkan."


Varo tak bertanya lagi.


...****************...


Varo masuk keruangan Villia. Dia terus berjalan ke meja Villia. Tak lama kemudian dia menjatuhkan papan nama Villia.


...****************...


Villia sedang berada di ruangan aksesoris nya. Dia menatap sepatu Viktoria nya.


Villia keluar rumah dengan mengenakan pakaian serba hitam - hitam. Tatapannya tajam. Dia akan mengungkap semuanya dengan dengan caranya sendiri.


Dia pun segera masuk kedalam mobilnya.


Villia pergi kepabrik sepatu. Seseorang mendekatinya.


"Maaf kamu siapa?"


Tapi saat dia melihat Villia, dia terkejut.


"Direktur utama."


Pria itu lalu memberikan segelas air putih kepada Villia.


"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Villia.


"Berkatmu, aku dapat hidup dengan baik. Aku mendengar berita tentang Mama mu. Ini kesalahan pahaman kan?"


"Iya menejer pabrik. Tidak... seharusnya aku memanggilmu dengan nama pimpinan mulai sekarang. Sudah menjadi kebiasaan."


"Kamu dapat memanggilku dengan sebutan apa saja. Angin apa yang membawamu kemari?"


"Bisakah kamu membuatkan mu sepasang sepatu?"


...****************...

__ADS_1


Villia sudah pulang kerumahnya, dia baru saja selesai mandi. Dia lalu mengusap cerminannya yang berembun. Villia kemudian membuka gorden kamarnya.


__ADS_2