MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 28.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


..."Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, taj akan aku tukarkan penderitaan ini dengan suka cita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku di penuhi kegembiraan, mana kala aku bersukaria dalam derita-Nya. Hanya satu tujuan hidupku, membuat DIA selalu tersenyum disepanjang kehidupan."...


...****************...


Hari yang masih gelap, hawa yang begitu dingin menyelimuti tubuh, membuat orang malas untuk bangun dari tidurnya. Ditambah lagi saat ini musim penghujan. Hawa menjadi lebih dingin. Pagi masih buta matahari belum mengeluarkan senyumannya, manusia belum ada yang beraktivitas.


Ketika matahari belum beranjak dari peraduannya, Villia sudah beranjak dari tidur malamnya. Villia membuka mata dan mempersiapkan dirinya untuk berolahraga. Selepas sholat subuh Villia langsung mengambil sepedanya. Villia menelusuri jalan - jalan yang ada disekitar kompleks tempat tinggal nya. Suasana saat itu masih gelap, tetapi sudah banyak orang-orang dijalan karena kebetulan hari ini hari minggu. Ada yang jalan - jalan pagi, bersepeda dan para pedagang di pasar yang sudah mulai berangkat kepasar.


Suasana pagi ini sebenarnya lagi mendung bahkan sempat gerimis beberapa menit yang lalu. Namun, karena terlanjur juah Villia bersepeda dia pun memutuskan untuk tetap melanjutkan nya. Ketika waktu hampir menunjukkan pukul setengah enam, secara perlahan mendung di langit mulai menghilang. Hingga Villia sampai pada disuatu jalan dimana Villia menemukan suatu pemandangan yang menurutnya sangat indah.


Jalan tersebut membujur dari barat ke timur dan berada ditengah area persawahan yang diapit oleh dua kota yang letaknya agak berjauhan. Sehingga ketika memandang kearah timur terlihat matahari yang masih malu menunjukkan sinarnya.


Kombinasi antara sinar matahari yang sedikit mendung menghasilkan cahaya merah maroon yang tentunya jarang kita temui di pagi hari. Sungguh pemandangan yang sangat indah kala itu. Melihat hal tersebut, Villia tak ingin melewatkannya dengan sia - sia. Villia mengabadikan hal tersebut lewat kamera handphonenya.


Setelah di rasa cukup, Villia melanjutkan perjalanan bersepeda nya pagi itu. Berkilo-kilo Villia mengayuh sepedanya hingga tak terasa matahari sudah terlihat di ufuk timur. Udara masih segar namun cuacanya menjadi sedikit panas, ditambah tubuh yang mulai lelah. Melihat kondisi demikian, Villia memutuskan untuk memutar arah


untuk pulang ke rumah.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Villia sudah tiba di rumah, dia pun segera menyimpan sepedanya ke garasi mobil kemudian masuk kedalam rumah untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya.


Pagi ini Varo sudah mempersiapkan diri untuk segera berangkat kerja. Varo segera mencari keberadaan Villia karena sejak tadi pagi dia belum melihatnya. Mendengar ada aktivitas didapur Varo pun segera melangkah kan kakinya kesana.


Villia sudah selesai dengan acara masak-memasak nya. Villia pun segera menata masakan yang sudah dia masak di atas meja.

__ADS_1


Villia nampak kaget tatkala menyadari kehadiran suaminya dan tau - tau sudah duduk di meja makan.


"Sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Villia yang terus memperhatikan sang suami yang nampak berbeda hari ini.


"Sejak tadi." jawabannya singkat.


Villia kembali memperhatikan penampilan sang suami yang menurutnya agak lain dari hari biasa nya. Villia kemudian mengomentarinya.


"Mas sepertinya ada yang lain denganmu hari ini, tapi apa ya?"


Varo pun memperhatikan penampilan nya yang menurutnya biasa saja dan tidak ada yang berubah.


"Masa sih?"


"Sepertinya ada yang lain tapi apa ya?" ucap Villia sembari mengingat apa yang salah dengan penampilan sang suami pagi ini.


"Sudah - sudah, yuk sarapan aku sudah lapar."


Beberapa saat kemudian..


Mereka sudah menyelesaikan sarapannya. Varo pun pamit kepada sang istri, sekaligus meminta ijin untuk duluan berangkat kekantor karena hari ini sekretaris nya yang baru akan datang.


"Sayang, aku duluan kekantor ya. Pagi ini sekretaris ku yang baru akan datang."


"Sekretaris baru?" Villia mengulang kalimat Varo.


"Iya, sekretaris baru. Maaf aku lupa memberitahu mu, kalau beberapa hari yang lalu aku sudah resmi di angkat menjadi direktur utama di PT VCI berkat kerja keras dan kepercayaan CEO PT VCI. Dan aku akan berusaha lebih giat lagi barang kali aja jabatan penting dan jabatan paling utama bisa diserahkan ke aku, yaitu CEO. Kamu bisa membayangkan betapa kehidupan kita kedepannya akan terjamin, Mama dan Sameya nggak akan hidup kekurangan uang lagi. Tapi satu hal yang masih misteri hingga saat ini."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Siapa sebenarnya pemilik PT VCI itu. Aku penasaran kenapa jabatan yang penting ini bisa diserahkan keaku. Dan dengar - dengar gosip yang beredar katanya putri tunggal pemilik PT VCI juga bekerja di PT VCI itu."


"Apa yang terjadi? Kenapa Varo bisa mendapatkan posisi itu? Apa ini ada hubungannya dengan Papa? Lalu apakah Varo benar - benar nggak tau siapa pemilik dari PT VCI, sedangkan jelas VCI itu adalah singkatan namaku." ucap Villia dalam hati.


Melihat Villia bingung, Varo pun menggerakkan tangannya di depan wajah Villia.


"Kenapa bingung?"


Tergagap, "Nggak apa - apa. Selamat ya atas pencapaian nya." ucap Villia sembari menjabat tangan suaminya kemudian memeluknya.


"Terimakasih sayang." ucap Varo kemudian melepaskan pelukan sang istri.


Sebelum Varo melangkah pergi, "Oh ya mulai hari ini sebagai direktur utama, aku pindahkan kamu kebagian manager pemasaran atau marketing biar sesuai dengan ijazah mu."


Sudah setengah jam yang lalu Varo berangkat kekantor. Sementara Villia masih berada dirumah. Villia masih sibuk memikirkan kata-kata sang suami setengah jam yang lalu.


"Aku harus menemui Papa." ucap Villia dalam hati.


Villia segera bersiap-siap untuk menemui sang Papa. Villia sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobilnya dijalan raya menuju rumah orang tuanya.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


"Tumben pagi - pagi kamu datang kesini?" tanya sang Papa sembari menikmati udara pagi yang masih belum terlalu tercemar akibat asap knalpot transportasi berlalu lalang.


"Kenapa Papa menyerahkan posisi penting dalam perusahaan kepada Mas Varo?" tanya Villia langsung ke inti permasalahannya.


"Apa yang salah dengan itu. Varo menantuku. Lagi pula yang Papa beri kedia bukan jabatan CEO kan."


"Tidak ada yang salah. Hanya saja apa ini tidak terlalu cepat untuk jabatan itu. Lagi pula kenapa harus dia, kenapa bukan orang lain saja yang Papa berikan jabatan itu. Atau kenapa tidak Papa kosongkan saja jabatan itu sambil menunggu kandidat yang pantas untuk menduduki posisi itu."

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" tanya Papa Ibrahim tak mengerti.


Villia belum menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada kedua orangtuanya tentang suaminya akan menikah lagi atas desakan dari Mama Widya yang menginginkan cucu. Villia tidak mau karena jabatan itu di pegang sang suami Mama Widya dan Sameya semakin tidak terkendali kan kegilaannya diurusan uang. Tapi, Villia tetap berusaha menyembunyikan ini dari kedua orang tua nya sampai dia mempunyai bukti siapa sebenarnya yang tidak bisa memberikan keturunan alias mandul.


__ADS_2