MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 46.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


"Bagiamana apa rasanya enak?"


"Ini kimchi ter enak yang pernah Dhea makan." ucap Dhea sembari terus mengunyah kimchi sawinya di dalam mulutnya.


Kemudian Mama Widya meletakkan satu buah paper bag di atas meja dan menyodorkan nya ke Dhea.


"Mama membawa banyak kimchi sawi untukmu, nanti masukkan kedalam kulkas ya biar awet."


Mama Widya terbelalak, "Ini benaran Mah?"


"Tentu."


Acara makan - makan mereka telah selesai. Mama Widya pamit undur diri.


"Mama pulang dulu, kapan - kapan kita bertemu lagi."


"Makasih ya Mah untuk semuanya."


"Sama - sama sayang."


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


...****************...


Sembari berjalan kemobilnya, Mama Widya menghubungi Varo.


"Apakah hari ini kamu akan pulang lebih awal setelah bekerja? Mama memasak kimchi sawi untukmu. Mampir kerumah setelah pulang bekerja." ucap Mama Widya diseberang sana.


"Varo akan pulang terlambat Mah. Ada pertemuan tiba - tiba terjadwalkan. Akan Varo usahakan untuk segera pulang."


"Benarkah? Sayang sekali. Jangan bekerja terlalu keras. Sampai jumpa nanti."


Tapi di pintu keluar masuk, Mama Widya sekilas melihat mobil Varo. Sontak Mama Widya kaget. Dia ingat kata - kata Varo di telepon tadi, kalau Varo akan pulang terlambat karena akan ada pertemuan yang di jadwalkan tiba - tiba.


"Dasar anak nakal. Mau mencoba membohongi ku, kamu tidak akan aku beri ampun." gumam Mama Widya dalam hati.


Dhea menghubungi Varo, sementara Varo sendiri masih sibuk mencari tempat parkir.


"Kenapa belum tiba?"


"Aku masih mencari tempat parkir."


"Parkir saja didepan kompleks pertokoan."


"Pertokoan? Ok akan segera kesana."


Varo segera melajukan mobilnya ke depan kompleks pertokoan.


Tepat setelah itu, Mama Widya masuk. Mama Widya berkeliling mencari mobil Varo tapi dia tidak menemukan nya.


Mama Widya terus mencari mobil Varo, sampai dia hampir saja menabrak seorang pria pejalan kaki yang hendak masuk kedalam apartemen.


Mama Widya mencoba menenangkan dirinya. Dia berfikir lagi dan yakin yang di lihatnya tadi adalah mobil Varo. Mama Widya pun menghubungi Dhea, sedangkan Dhea sementara sibuk membuka wadah kimchi.


"Apakah Mama sudah dirumah?"

__ADS_1


Mama Widya diam saja.


"Hallo?"


Mendengar kata "Hallo" barulah Mama Widya bersuara.


"Ya, Mama sudah dirumah. Apakah sisa kimchi mu sudah kamu makan?"


"Iya Mah, ini sementara Dhea makan. Pastikan Mama berbagi resep dengan Dhea. Maaf Mah, bisakah kita bicara lagi nanti?"


"Apakah Varo sedang bersama mu sekarang?"


"Ya."


"Ok, kita bicara lagi nanti."


Mama Widya menyudahi panggilannya.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Varo sedang bersama Dhea lagi mencoba kimchi daun sawi yang disuguhkan Dhea. Varo memuji rasa kimchi itu yang menurut nya sangat lah enak dan sempurna.


Note : Sungguh keterlaluan ya guys kalau sampai lupa rasa masakan Mama sendiriπŸ˜‚πŸ˜‚.


Dhea terdiam mendengarnya. Varo terus saja memasukkan potongan kimchi sawi kedalam mulutnya. Dhea membantu membersihkan kemeja Varo yang terkena noda kimchi.


"Hati - hati saat makan, kamu bisa saja mengotori bajumu."


Sembari menatap Dhea, "Kimchi ini kamu dapat dari mana?"


"Dari seseorang yang aku kenal memberikannya padaku."


"Siapa?"


Dhea tak menjawab. Dia masih sibuk dengan noda kimchi yang ada di baju Varo dan di bibir Varo.


"Kenapa kamu mengotori bibirmu seperti anak kecil. Sangat berantakan."


"Berantakan?"


"Hmmmmmm..."


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku barusan. Kimchi ini kamu dapat dari mana?"


"Dari seseorang."


"Apa kimchi sawi ini kamu dapat kan dari Mama?" tanya Varo menerka - nerka. Sementara Dhea masih sibuk dengan aktivitas nya.


"Seakrab itukah kamu sama Mama?"


"Kamu lupa kalau dari dulu aku sudah akrab dengan Mama mu. Kamu jangan lupa kita pernah sedekat ini dulu."


Tiba - tiba, Varo mencium b*b*r Dhea.


Dhea terkejut, "Apa yang kamu lakukan?"


"Jadi, kita bisa berantakan bersama."


Dhea tertawa, "Jangan lakukan itu, kamu seperti anak kecil."

__ADS_1


Varo berjalan kearah kamar mandi. Dhea terdiam menatap kepergian Varo. Sementara Mama Widya sudah berada di depan apartemen Dhea. Mama Widya memberanikan diri untuk masuk kedalam apartemen Dhea, tapi Mama Widya tak menemukan siapa - siapa disana. Mama Widya hanya menemukan piring kosong diatas meja dan sisa - sisa kimchi sawi.


Mama Widya lalu berjalan kearah kamar. Mama Widya tersenyum puas melihat kasur Dhea yang berantakan, Mama Widya juga melihat ada kemeja pria tergelatak di atas meja rias. Suara tawa Dhea terdengar dari dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, Mama Widya mulai berjalan kearah kamar mandi. Mama Widya masuk kedalam kamar mandi dan suara Dhea semakin jelas dari balik tirai bathub. Mama Widya menyibak tirai itu.


Dan itu hanya kah khayalan nya Mama Widya dan kenyataannya Mama Widya masih berdiri didepan pintu apartemen Dhea πŸ˜‚πŸ˜‚.


Mama Widya menarik nafas dalam - dalam. Tiba - tiba ponsel Mama Widya berdering. Telepon dari Sameeya. Tapi, Mama Widya tak menggubris telepon dari Sameeya. Tak lama kemudian, pesan dari Sameeya masuk.


"Mama dimana? Aku laper."


Mama Widya pun pergi tanpa memeriksa khayalan nya terlebih dahulu.


Sementara itu didalam, Varo lagi menikmati kopi buatan Dhea. Sedangkan Dhea sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kimchi daun sawi... benar - benar makanan yang lezat. Mama kan yang memberikannya padamu?"


"Memang nya kenapa kalau iya?"


"Ini awal yang bagus buat hubungan kita."


"Aku harus pergi sekarang." ucap Varo sembari meraih jasnya di gantungan jas.


"Kok cepat pulangnya?"


"Aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan dan akan aku selesaikan pekerjaan itu dirumah."


Varo mencium kening Dhea, lalu pergi.


Mama Widya masih di parkiran. Lalu seorang pria mirip Varo keluar dari apartemen sambil menelepon. Mama Widya langsung mengira kalau pria itu adalah Varo, tapi nyatanya bukan.


Ponsel Mama Widya kemudian berdering, dilayar tertulis nama yang sejak tadi di intainya.


"Kamu dimana?" tanya Mama Widya diseberang sana.


"Varo ada di rumah Mama. Kenapa?"


"Kamu dirumah?" Mama Widya mengulang ucapan Varo.


Mama Widya lalu bergegas pulang. Sampai dirumah, Mama Widya langsung menghampiri Varo dan Sameya.


"Mama kemana aja sih? Kenapa tidak menjawab panggilan Sameya bahkan pesan Sameya pun tak Mama balas?" ucap Sameya sembari memasang wajah cemberut.


"Mama seharian ini keamanan saja? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sameya kemudian.


Sembari duduk dikursi samping putri semata wayangnya itu, "Mama dari jalan - jalan."


"Kalian pasti lapar kan? Mama siapkan makanan dulu ya." ucap Mama Widya sembari berdiri dan berjalan kearah dapur untuk memasak makanan kesukaan kedua anak - anaknya.


Kurang lebih dua jam Mama Widya bergulat dengan kompor dan bumbu dapur. Akhirnya masakan Mama Widya kini tersajikan diatas meja. Mereka pun makan bersama - sama.


Disela - sela makan mereka diselingi candaan dan obrolan biasa.


"Varo kapan istri mu hamil? Mau menunggu berapa lagi Mama untuk kalian beri cucu? Mama sudah tua, Mama ingin segera menimang cucu." ucap Mama Widya sembari menatap Varo dan menghentikan sejenak aktivitas makanya.


"Kalau sampai satu bulan ini istrimu nggak hamil - hamil juga, Mama akan nikahkan kamu dengan Dhea. Mama lihat kamu dan Dhea makin lengket kayak prangko saja. Dan Mama juga sudah merasa nyaman dengan Dhea, Dhea selalu manjain Mama nggak seperti istri mu dirumah pelit dan perhitungan. Kalau sampai satu bulan ini Villia nggak hamil, Mama sendiri yang akan mengurus surat cerai kalian."


Sembari terus melahap makanannya, "Terserah Mama saja, mana yang terbaik buat Varo menurut Mama, Varo ikut saja."


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...

__ADS_1


__ADS_2