MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 16. Shopping part 2.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Villia ingin tahu bagaimana reaksi mereka, jika mereka tahu menu makan siang Villia hari ini berada di harga ratusan ribu.



Kepiting dua jumbo dengan harga empat ratus dua puluh ribu.



Combo premium! Singapore child crab kepiting udang kepah dengan harga lima ratus lima puluh ribu rupiah.



Kepiting nyinyir dengan harga tiga ratus dua puluh tiga ribu rupiah. Masih banyak menu mahal lainnya yang Villia pesan. Seperti biasa, sebelum disantap Villia berpose dengan makanan - makanan itu kemudian mengapload nya kesosial media terutama WhatsApp.


Minuman yang dipilih Villia jatuh pada minuman segar dari buah pilihan manggo premium dengan harga lima ratus delapan puluh ribu rupiah.



Hidangan penutup bolu lapis legit tikar dengan harga sembilan ratus dua belas ribu rupiah.

__ADS_1



Kue lapis legit plum homemade premium dengan harga satu juta rupiah.



Cake cokelat lola Chocolate amber seharga empat ratus delapan puluh lima ribu rupian.



Drtttttt....drtttttt.....drtttt.....


Ponsel diatas meja bergetar.


Setelah aplikasi berwarna hijau yang sudah Villia stel seolah pesan belum terbaca padahal sudah dibaca itu membuat Villia bisa membuka pesan itu tanpa Sameya mengira pesannya sudah dibaca.


Villia sengaja melakukan itu karena enggan membalas pesan adik ipar toxic nya itu.


"Villia kamu lagi dimana????????????????" isi pesan Sameya dengan tanda tanya panjang dibelakang.


Villia tersenyum geli dan kembali melanjutkan makan tanpa ingin di ganggu pesan itu.


"Vill, kamu lagi makan direstoran ya???? Pakai duit Varo, iya kan????? Awas aja kamu. Pokoknya aku nggak mau tahu, pulang nanti serahkan buku tabungan Varo sama aku!!!! lanjut pesan Sameya diiringi tanda seru panjang serta emoji marah di ujungnya.

__ADS_1


Villia membaca pesan Sameya, sontak membuat Villia ingin tertawa terbahak-bahak. Rezeki bukan hanya datang dari Mas Varo.


Kuabaikan pesan Sameya dan segera menghabiskan makananku, lalu setelah membayar, Villia pun segera meninggalkan restoran.


🍓🍓🍓🍓🍓


"Villia, dari mana saja kamu?" Mama mertua menghardik. Kulihat Mama mertua dan Sameya sudah duduk di sofa tamu. Mungkin sudah menunggu dan bersiap sedari tadi untuk menyerang Villia disaat Villia pulang kerumah. Wajah mereka terlihat marah dan menyeramkan.


Dengan tenang Villia melangkahkan kakinya kedalam sembari menenteng kantong belanjaannya dengan santai. Villia sengaja melakukan itu untuk membuat mereka semakin terbakar cemburu. Villia pantang memulai tapi juga pantang bersurut mundur jika di ajak bertarung.


"Villia kamu dari mana saja? Dari menghabisin duit anakku, iya kan?" Mama bangun lalu berkacak pinggang di depan ku. Matanya nyalang menyapu kantong belanjaan juga bungkus makanan siap saji ditanganku.


Villia tersenyum tipis demi mendengar pernyataan Mama mertua. Benar - benar katak dalam tempurung wanita yang kini berdiri dihadapannya ini.


"Jawab ngapain diam saja?? Dasar maling! pura - pura menyuruh Varo memberikan gajih Varo kepada Mama, padahal sudah duluan kamu panen hasilnya iya kan? Ngaku aja nggak usah ngeles! Ini buktinya." Sambung Mama mertua sembari hendak menyerobot kantong belanjaan ditangan Villia tetapi ditepis Villia.


Kali ini Villia tak mampu menahan tawa mendengar ucapan dan reaksi Mama. Ingin rasanya Villia mengambil kalkulator dan menyuruh Mama menghitung dan mengkalkulasi sendiri gajih Mas Varo agar tahu berapa banyak pengeluaran Villia hari ini.


"Maaf ya Mah. Gajih delapan puluh juta itu seberapa banyak sih? Bayar listrik, ngasih Mama pegangan sama Sameya, Buat belanja hari - hari, buat beli bensin Mas Varo. Apa masih ada yang bisa di simpan? Belum lagi kalau kalian berdua mendadak mendesak dan meminta uang untuk keperluan nggak jelas, coba Mama tebak siapa yang selama ini berkorban untuk memenuhi ambisi Mama dan Sameya? Villia Mah, Villia. Menantu yang nggak pernah Mama anggap ada. Oh iya, soal kartu ATM bukan kah Mama sudah ambil secara paksa dari Villia, dan buku tabungan ada kok sama Villia. Tanang Mah, Villia nggak menyentuh kok uang itu Villia nggak kemaruk sama uang Mas Varo. Villia nggak pernah ngotak - otak karena Villia bukan orang picik seperti Mama dan Sameya yang ijo melihat duit. Lagi pula Mama lupa kalau Villia ini menantu Mama istri Mas Varo, jadi wajar dong kalau Villia menghabiskan uang Mas Varo. Villia bisa saja melakukan seenak hati Villia tapi Villia nggak mau melakukan itu. Jadi berhentilah menuduh Villia yang nggak-nggak. Dan Villia nggak akan tinggal diam, jika Mama dan Sameya berhentilah menindas Villia."


Sekali lagi Villia menyapu wajah Mama mertua dengan tatapan tajam. Sebelum mereka membuka suara, Villia terlebih dahulu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya lalu kemudian membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


__ADS_2