
...Assalamualaikum...
...****************...
Harusnya jam lima sore Mas Varo sudah pulang kerja. Villia masih sabar menunggu walau jarum jam selalu bergerak dan sekarang jarum jam yang pendek sudah menghampiri angka enam.
Villia tidak ingin mendengar alasan apapun, ketika terdengar bunyi mesin mobil masuk dihalaman rumah. Villia masih berusaha tenang dan baru membuka pintu tatkala Mas Varo mengetuk.
Dia sendiri wajahnya terlihat lelah, dan niat untuk interogasi sang suami pun dibatalkan untuk sementara waktu, hingga Mas Varo selesai mandi dan makan malam. Mas Varo menyambar handuk yang ada ditangan Villia, dan masuk kekamar mandi. Villia melihat layar handphone sang suami sedari tadi berkedip tanda ada pesan masuk. Villia ingin mendengar secara langsung dari mulut nya, ada kejadian apa hari ini setelah semalam Mama harus mengumpet naik mobil Mas Varo.
Villia menemani sang suami makan malam. Setidaknya Villia ingin memberikan kelonggaran waktu untuk melepas kan ketegangan karena sudah seharian ini bekerja. Ikan goreng, sayur rebus dan sambel adalah menu andalan Mas Varo. Villia sendiri seharian ini tidak ada makan. Pikirannya bercabang - cabang. Mulai dari datangnya sang mantan untuk menikahi suaminya dan Mertuanya yang naik sembunyi - sembunyi diujung jalan kemobil Mas Varo.
"Mas seharian ini kok aku belum melihat Mama dan Sameya ya dirumah?"
"Oooo... tadi pagi mereka minta antar pulang kerumah, setelah sebelumnya aku menemani Mama buat membeli tanah buat Sameya."
"Mama mau beli tanah?"
Mas Varo menggangguk, "Untuk Sameya, dia kan belum dapat apa - apa."
"Emangnya Mas Varo dapat jatah apa? Sejak menikah kamu kan cuman membawa satu buah tas pakaian dan ijazah."
Villia tidak bertanya lagi. Cukup tahu kalau Mama membeli tanah buat Sameya. Dan tidak mempertanyakan dari mana uang untuk membeli tanah tersebut.
...****************...
Keesokan harinya....
"Mas ... Mas..." teriak Villia dari dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Mas Varo yang keluar dari dalam kamar mandi tergesa-gesa.
"Perhiasan ku dimana?" tanya Villia sembari memperlihatkan kotak perhiasannya yang sudah dalam keadaan kosong.
Berusaha tenang, "Kamu cari yang benar. Siapa tau terselip atau gimana gitu."
"Tidak mungkin terselip. Kemarin masih ada disini dan aku masih sempat memakai kalung hadiah ulangtahun dari Mama ku."
Hening sejenak sembari berfikir kemana perginya perhiasan - perhiasan itu. Villia menatap wajah suaminya dan mengingat kejadian kemarin yang mencurigakan dari Mama mertua yang menunggu mobil Mas Varo di ujung jalan.
Mas Varo ingin meraih tangan Villia, cepat - cepat Villia mundur satu langkah.
"Sekarang apa lagi? Gajih bulan ini pun belum Mas berikan ke aku. Kemana uang dan perhiasan itu?"
__ADS_1
"Ada Vill. Minggu depan uang dan perhiasan itu di balikin."
Nafas Villia memburu, "Siapa yang meminjam uang sebanyak itu dan dimana perhiasan itu?"
Mas Varo masih mencoba hendak meraih tangan Villia namun di tepis dengan kasar Villia.
"Mas bayar tanah itu? Mas bayar dengan perhiasaan ku dan semua gajih mu?"
"Iya, Vill aku yang bayar. Tapi, uang itu Mama pinjam kok dan minggu depan diganti."
Namun Villia tidak percaya begitu saja.
"Mana calon menantu yang katanya anak orang kaya? Anak konglomerat? Seharusnya kamu meminta uang kewanita itu. Bukannya menjual seluruh perhiasan ku. Pergi saja Mas! Lupakan rumah tangga kita. Lupakan semuanya. Aku kecewa. Sana peluk Mama mu! Lagi pula nggak lama lagi kalian akan menikah, hidup kalian akan terjamin, Mama dan Sameya nggak akan pernah kekurangan uang lagi dan Mama akan segera menjadi Nenek sementara Sameya akan menjadi Tante.
"Villia."
"Kamu yang mau Mas. Ibumu juga sama. Kalau begini terus sama saja kamu membunuh aku. Emas itu bukan kamu yang membeli dan juga bukan Mama yang membeli, tapi itu hadiah dari Mama ku. Bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian."
Villia bergegas menyambar kunci mobilnya diatas meja riasnya, kemudian pergi meninggalkan Mas Varo yang masih berdiri diam dan mematung.
"Aku akan memberinya pelajaran." ucap Villia dalam hati sembari memacu mobilnya menuju rumah mertuanya.
...****************...
"Assalamualaikum. Mana Mama?"
"Ngapain kesini?"
Sambutan adik ipar memang sungguh luar biasa. Bukannya menjawab salam malah memasang tampang angkuh.
"Mama dimana?" Villia bertanya baik - baik.
"Mau apa?"
"Mau dicekik."
"Mah, Mamah! Coba lihat siapa yang datang." Matanya tak lepas menatap Villia.
"Siapa Sam?"
Villia bisa mendengar suara Mama. Begitu Mama Widya melihat Villia.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku mau bicara dengan Mama."
"Masih ada yang perlu dibicarakan?"
"Sangat banyak Mah."
Villia tidak tersinggung saat mereka tak menyuruh masuk. Melihat baik - baik wajah wanita yang sudah berumur dan harus nya lebih bijak dalam bersikap mengingat waktu hidupnya tak lama lagi.
"Katakan ada apa?"
Belum sempat menjawab, Mama menyinggung tentang piring hias yang di bawanya tadi dari rumah.
"Oh ya, aku sudah bilang ke Mas Varo kalau piring itu untuk aku saja. Kamu beli aja lagi yang baru!"
Apa? Enak saja. Piring itukan Villia beli dengan pakai uang nya sendiri. Bukan dikasih anaknya.
"Mama saja yang beli piring baru. Piring itu kan Villia beli dengan uang Villia sendiri."
"Uangmu? Memangnya Mbak punya uang untuk membeli piring sebagus itu? Mbak kan hanya karyawati rendahan dengan gajih yang sangat kecil."
"Yang jelas aku membeli piring - piring itu dengan hasil jeri payah ku selama ini. Bukan uang hasil pinta - pinta." Villia sengaja menekankan kata - kata itu agar dua orang di depan nya merasa.
"Kamu menyindir?"
Pertanyaan Sameya tak perlu Villia jawab.
"Begini ya Mah. Villia datang kesini untuk berbicara baik - baik sama Mama."
Enggak kebayang ngomong didepan rumah mertua seperti apa dan kini Villia merasakannya.
Raut wajah yang tak suka nampak jelas tergambar diwajah Mama mertua. Memang begitu setiap kali beliau nampak melihat wajah Villia. Sejak pertama menikah, beliau memang tak menyukai Villia lantaran Villia hanya lah seorang gadis biasa yang tak memiliki apa-apa, tapi saat itu Villia belum terlalu pintar untuk menilai. Syukurlah beliau selalu bersikap terang - terangan setiap kali bertemu dengan Villia ada atau tidaknya Mas Varo.
"Selama ini Villia sudah cukup diam dan sabar menghadapi kalian berdua, manusia benalu yang nggak tau malu alias manusia bermuka dua. Mungkin Villia harus menjelaskan kepada Mama dan Sameya?"
"Berani sekali ya kamu? Ini orang tua, tolong sikap dan perilaku mu di jaga saat kamu mengobrol dengan Mama."
"Villia berbicara sopan, nggak bar - bar. Jadi sikap mana yang harus Villia perbaiki?"
"Kamu jadi menantu yang sopan dong."
Dia sendiri nggak tau sopan santun dalam mengajari orang.
...TERIMAKASIH...
__ADS_1