
...Assalamualaikum....
...****************...
Diperjalanan, Varo mengirim pesan untuk Dhea. Dhea sendiri sedang sibuk bekerja ketika Varo mengirim pesan buat Dhea.
"Aku harus melakukan perjalanan bisnis. Kita tidak bisa bertemu untuk beberapa hari. Jangan melewatkan makan hanya karena kamu sedang sibuk bekerja dan pastikan untuk kamu selalu makanβ€οΈ."
Bunyi pesan singkat Varo yang dikirimkan untuk selingkuhan dan diakhir kalimat ditambah dengan emot love.
Dhea menaruh kembali ponselnya keatas meja. Pesan Varo hanya diread tanpa dibalas. Dhea lanjut bekerja.
Ditempat lain.
Selepas Varo berangkat keluar kota, Villia pergi mengunjungi orang tuanya. Villia sudah lama tidak mengunjungi orang tuanya, terakhir mereka bertemu di dua bulan yang lalu.
Dihalaman belakang.
Villia dan Mamanya sedang ngeteh sambil membicarakan tentang perkembangan perusahaan nya yang kini ada di tangan menantunya dan diawasi langsung oleh putri nya.
"Bagaimana pun juga dia adalah direktur diperisahan Villia. Mama bisa sajakan mengirim orang lain untuk meninjau perkembangan kerja sama di perusahan mawar putih. Ini tidak adil untuk Varo."
Mama Divya tersenyum sinis, dia beruntung menjadi menantu keluarga Ibrahim. Dia harus bekerja keras dari pada orang lain.
__ADS_1
Mama Divya bertanya berapa lama lagi Villia akan menyembunyikan identitas aslinya.
"Kapan kamu akan berterus terang sama suami dan mertua mu tentang siapa kamu sebenarnya?"
"Belum saatnya mereka tahu siapa Villia sebenarnya Mah. Villia masih ingin mempelajari mereka."
"Apakah waktu dua tahun belum cukup untuk saling mengenal satu sama lain? Apa lagi sekarang didalam kehidupan rumah tangga kalian telah hadir orang ketiga, Varo jelas - jelas sudah menyelingkuhi kamu dan mertua serta adik iparmu jelas - jelas hanya menginginkan uang mu bukan atas dasar ikatan antara menantu dan mertua yang harus saling menyayangi, melindungi dan Mama mengakui kalau mereka sungguh pandai dalam berbagai hal, saat ini mereka masih menyembunyikan cakarnya, tapi suatu saat nanti mereka pasti akan menunjukkan sifat dan sikap asli mereka dan yang kamu ketahui sekarang hanyalah bagian kecil dari watak asli mereka bukan yang sebenarnya."
"Sudahlah Mah, jangan terlalu memojokkan mereka. Walau bagaimana pun juga dia tetap suami dan mertua Villia dan ini atas dasar pilihan Villia. Villia akan mempertahankan rumah tangga Villia walau sebenarnya didalam hati Villia sudah lelah dan hampir menyerah dengan semua ini. Memiliki keluarga bahagia adalah tujuan hidup Villia."
Mereka akhirnya diam, tak bicara lagi satu sama lain.
...πππππ...
Pada saat berjalan - jalan berkeliling melihat - lihat lukisan tanpa sengaja Villia bertemu dengan Mama Widya, Sameya serta Dhea. Villia memilih untuk pura - pura tidak melihat mereka dan ingin menghindari mereka, Villia sedang tidak ingin ribut dengan Mama Widya, Sameya ataupun Dhea. Ketika Villia ingin melangkah pergi Mama Widya menegurnya.
"Tunggu." Kemudian Mama Widya berbalik arah.
"Begini sopan santunmu bertemu dengan mertuamu? Jangan kan untuk menoleh, menegur pun tidak."
Villia berbalik, "Maaf Mah, Villia sedang tidak ingin berdebat dengan kalian."
"Yang ingin berdebat dengan kamu siapa?"
__ADS_1
"Lantas?"
"Pinjam uang dong nggak banyak kok cuman sepuluh juta saja." ucap Sameya. Villia menatap tajam Sameya sembari mengernyitkan dahinya.
"Sepuluh juta? Sepuluh juta katamu tidak banyak. Makanya kerja jangan cuman bisa meminta tanpa harus bisa memberi."
"Kalau aku kerja, lalu apa guna mu? Oh iya lupa, kamu kan cuman pegawai rendahan bawahan kakak ku dan calon kakak iparku. Calon kakak iparku sudah cantik dan nggak pelit kayak kamu. Sudah sombong miskin lagi." ucap Sameya sembari menggandeng tangan Dhea.
Villia melipat kedua tangannya didada, "Cantik sih memang harus aku akui, tapi sayang pelakor."
Dhea tidak terima dikata pelakor oleh Villia
"Aku bukan pelakor."
"Trus kalau bukan pelakor, lantas apa? Wanita diskonan atau wanita murahan? Memang pantas sih ya barang bekas dan barang murahan, sama - sama barang sampah yang sudah seharusnya dibuang ketempat sampah."
"Kamu." ucap Dhea sembari hendak menampar wajah Villia.
"Kenapa? Nggak terima?" ucap Villia sembari tersenyum kecut.
"Awas ya kamu, aku pastikan kamu tidak akan bekerja di perusahaan VCI setelah Varo kembali."
"Ok, aku tunggu pembuktian kata - katamu. Dan mari kita lihat siapa yang akan meninggalkan VCI, aku atau kamu." ucap Villia kemudian melenggang pergi.
__ADS_1