
“Jangan Bahagia dulu kalian! Kebahagiaan kalian akan berakhir dengan kedukaan!” Dhiva dan keempat sahabatnya menoleh bersamaan, sudah Dhiva duga bahwa yang teriak-teriak nggak jelas itu pastilah nenek lampir!
“Ayo kita pulang teman-teman, males aku ngeladenin nenek lampir yang doyan banget marah-marah nggak jelas” ajak Dhiva dan menarik salah satu tangan sahabatnya.
“Sombong banget kamu! Baru dapet juara segitu aja udah nggak tau diri!”
Kata-kata Serelia memang sangat pedas dimulut bahkan telinga pun nggak mampu tuk mendengarkannya.
“Udah Dhiv jangan diladenin, anggap aja itu cewek gila!” celetuk Bella, tapi tak disangka malah bella yang diserang Serelia dari belakang.
“Lepasin dong! Apa-apaan kamu jambak rambutku?” Bella meringis kesakitan sambil menarik rambutnya yang masih dalam genggaman tangan Serelia.
Kini giliran Dhiva yang mencekal tangan Serelia hingga rambut Bella terurai dari tangan Serelia. “Ser yang kamu musuhin itu aku, tolong jangan kamu jadikan sasaran sahabatku yang tidak tau apa-apa” pinta Dhiva dengan wajah sendunya.
“Hei miskin! Udah miskin belagu! Aku akan pastikan nilaimu itu palsu yang dipajang di papan pengumuman, so kamu akan melihat kehancuran kamu sendiri!” seringai tawa penuh kelicikan dari bibir Serelia memang membuat keempat sahabat Dhiva terkejut, kok ada ya zaman modern gini masih ada cewek yang tidak tau etika sama sekali!
Dhiva merogoh ponselnya yang ada dikantong celananya, dia tersenyum simpul, ada semburat kebahagiaan di wajah Dhiva saat ini. Melalui ponsel pintarnya Dhiva akan memberitahu Emir bahwa ia masuk peringkat satu diantara banyaknya siswa yang duduk di kelas dua belas.
Setelah bertukar rindu tapi tak bisa bertemu, Dhiva mengantongi ponselnya lagi, ia harus buru-buru pulang karena sudah janji sama kakaknya untuk pulang jam sepuluh hari ini.
&&&
Serelia menuju ruang kepala sekolah, yang notabene SMA tempat belajarnya ini memang Yayasan besar milik almarhum kakeknya dan sekarang dikelola Bersama antara sesama saudara dari ayahnya.
Tanpa mengetuk pintu, Serelia langsung duduk di kursi ruang tamu, ruang khusus untuk kepala sekolah. Sambil duduk sambil kedua kakinya ditaruh diatas meja, kepala sekolah saja sampai geleng-geleng melihatnya.
“Pak, bapak tahu nggak kenapa aku datang keruangan kamu pagi ini?”
Wah-wah apakah jika anak bos akan semena-mena seperti ini? Memanggil yang lebih tua dengan sebutan ‘kamu’.
“Nggak non” jawab kepala sekolah singkat. Panggilan yang diwajibkan oleh pihak keluarga Yayasan memang sangat penting. Seperti panggilan kepada Serelia yang disertai embel-embel ‘nona’
“Bagus, dalam pembacaan peringkat sepuluh besar besok, aku ingin kamu coret nama Dhiva Puspita dari peringkat satu! Ngerti kamu!” gertak Serelia yang tidak tau adab.
“Tapi non, pengumuman peringkat itu sudah tersebar disemua wali murid. Mereka bahkan sudah mengetahui jika murid terbaik memang Dhiva Puspita” sanggah bapak kepala sekolah, tapi malah respon yang mengerikan dari cucu pemilik yayasan tersebut.
__ADS_1
Brakkk
Serelia menggebrak meja kepala sekolah dengan sekuat tenaganya dengan tatapan nyalang yang sangat menakutkan. Bapak kepala sekolah hanya bisa memegang dada kirinya yang terkejut bukan kepalang.
“Kamu berani membantah ucapanku! Ku pastikan besok kamu sudah dilempar dari sekolah ini dan menjadi pengangguran!” ancaman Serelia memang tidak main-main, darah iblis yang mengalir dari darah sang kakek memang tak main-main, seperti waktu dulu merebut kepemilikan Yayasan sekolah ini.
“Ba-baik non, saya menuruti ucapan non Serelia” ucap bapak kepala sekolah sambil menunduk lesu. Apalah daya kalau memang hanya sebagai bawahan itu hanya dijadikan bola yang gampang ditendang kesana kemari.
&&&
Dhiva memarkir motornya di teras rumah ibunya, sesuai janjinya tadi pagi bahwa ia akan mengembalikan motor tepat jam sepuluhpada kakaknya.
“Ini baru adek yang pinter. Sana masuk gih bantuin ibu, udah mau berangkat jualan tuh”
“Oke kak. Tapi kakak nyusul kan?” tanya Dhiva sebelum masuk rumah.
Daffa memberi kode dengan dua jempolnya tanda setuju bahwa pasti akan membantu ibu dan adiknya untuk mencari berkah dari berjualan.
Seperti biasa saat berjualan gado-gado pasti Daffa akan digoda oleh cewek-cewek genit bahkan ibu-ibu juga nggak kalah genitnya sama seperti gadis yang berani noel-noel Daffa. Beda lagi dengan Dhiva, walaupun ada cowok-cowok yang berani deketin Dhiva tapi nggak sampai beranii godain dia, tatapan tajam yang sangat mematikan dari mata sang kakak sudah mampu membuat para cowok-cowok itu mundur teratur.
“Wah pangeran salju sudah ganteng banget mau nganterin tuan putri menjemput impian” ledek Dhiva yang langsung dihujani tatapan tajam dari kakaknya tapi emang dasar dhiva malah senyum-senyum sendiri.
“Kalau kamu ngeledek terus mending nggak usah berangkat!” ancam Daffa.
Dhiva menangkupkan kedua tangannya ke depan dada, “Ampun kak, nggak lagi-lagi ngeledek deh”
Daffa dan Dhiva berpamitan pada ibu mereka, setelah bersalaman akhirnya Daffa menstarter motornya dan melaju ke sekolah tempat Dhiva belajar dan mewakilinya untuk acara perpisahan.
Sesampainya di sekolah, Daffa tak luput dari pandanga para gadis-gadis yang memang hobinya mengamati cowok-cowok yang berwajah bening seperti Daffa. Walaupun dingin dan jutek tapi pesona Daffa sangat kuat dimata para gadis.
Para gadis berbisik-bisik, mereka sangat mengagumi ketampanan Daffa yang bak actor Korea.
“Sebelah Dhiva siapa sih?”
“Iya kok berani-beraninya si Dhiva itu gandeng cowok ganteng ke sekolah lagi”
__ADS_1
“Mau dong jadi pacarnya, istrinya malah mau banget”
Biar dikata bisik-bisik tapi tetep terdengar di telinga Dhiva, sampai Dhiva menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memang cewek-cewek itu nggak ada yang kenal Daffa, maklum Daffa memang beda sekolah dengan Dhiva, Daffa sengaja memilih sekolah kejuruan karena ia sangat hobi dengan IT.
“Jangan GR kak mentang-mentang disini langsung jadi idola”
“GR? Nggak akan kakak GR. Kakak nggak level dengan cewek ganjen!”
‘Syukurlah’ batin Dhiva.
Semua para undangan menempati kursinya masing-masing sesuai dengan kartu undangan yang sudah dibawanya pagi ini.
Acara demi acara berlangsung dengan khidmat dan berjalan dengan lancer, mulai dari regu koor, penyanyi solo maupun duet yang bertugas sebagai penghibur disela-sela acara.
Ada juga tampilan tari daerah dan juga modern dance, tentunya para penghibur tersebut berasal dari siswa-siswi yang bersekolah tersebut.
Acara yang terakhir adalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yatiu pengumuman lomba anatr SMA, juga olimpiade, disusul yang terakhir adalah pengumuman peringkat sepuluh besar kelas dua belas.
“Baiklah acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu adalah pengumuman peringkat sepuluh besar kelas dua belas. Sudah pada tegang ya rupanya” ujar MC yang tampak tenang dan senyum-senyum jail menggoda.
Setelah disebutkan semua peringkat mulai dari peringkat sepuluh sampai dua, kini giliran peringkat satu yang dibacakan dengan lantang.
“Peringkat satu adalah…………..ananda SERELIA NOVA puti bapak Hans Indra”
Huuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh……………………….
Suasana menjadi riuh dan tegang, pengumuman peringkat satu tidak sesuai dengan edaran yang sudah diterima oleh semua wali murid. Banyak wali murid yang menyayangkan dengan pengumuman ini.
Begitupun juga dengan Dhiva, dia tak tahan untuk tidak menumpahkan kesedihannya lewat air mata, pengumuman kemarin berbanding terbalik dengan yang didengarnya sekarang. Sungguh sangat mengecewakan!
“Dek kenapa kamu nangis?” tanya Daffa sambil mengusap air mata Dhiva yang jatuh berderai dipipinya.
“Kakak, maafin Dhiva kak…….”
__ADS_1