
“Hei………….Tunggu………………”
Dhiva menghentikan laju motornya, tetapi Daffa masih terus mendorong gerobak ibunya tanpa memperdulikan sang adik yang masih di belakang.
Dari suaranya seseorang yang memanggilnya, Dhiva sudah mengenali jika gadis itu adalah gadis yang telah mendorongnya hingga jatuh tersungkur beberapa waktu yang lalu di lapangan bola volley saat istirahat.
Flashback on
Brugh
“Aduuh…!” Dhiva meringis menahan sakit di lututnya. Dhiva jatuh tersungkur di lapangan voli, lututnya terasa perih akibat berbenturan dengan paving.
“Ha…….ha………ha………… baru segitu aja udah cengeng! Itu belum seberapa hukuman buat kamu!”
Sembari memegangi lututnya Dhiva mencoba berdiri tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya.
“Makasih” ucapnya pada seorang laki-laki muda yang menolongnya, bahkan mereka saling lempar senyum hingga membuat gadis yang mendorong Dhiva menggeram marah.
“Serelia, ada dendam apa kamu sama Dhiva?”
“Emir, eng aku eng-enggak sengaja nyenggol Dhiva”
“Omong kosong, kamu mencoba membohongi aku! Aku udah tahu seberapa besar kebencianmu pada Dhiva, aku tak akan pernah membiarkan Dhiva dilukai siapapun termasuk juga kamu!” gertak Emir hingga membuat Serelia nyalinya menciut.
“Apa harus aku tunjukkan buktinya jika kamu tadi yang mendorong Dhiva hingga jatuh disini?” lanjut Emir lagi.
“Tapi Mir kenapa kamu terus membela gadis miskin ini? Dia nggak selevel sama kamu, akulah yang pantas bersanding denganmu Mir” Serelia mencoba meraih tangan kiri Emir tapi dengan cepat Emir menepisnya.
“Dengar ya Serelia, mulai sekarang jangan coba-coba kamu dekati Dhiva, atau kamu akan langsung berurusan dengan saya!” ancam Emir kali ini lalu meninggalkan Serelia yang masih bergeming di tempat.
Flashback off
“Cih! Dasar miskin! Memang kamu lebih pantas ndorong gerobak daripada jadi istri konglomerat seperti Emir!” hinaan Serelia sangat melukai hati Bu Marni, tapi tidak dengan Dhiva dia santai nanggepin mak lampir yang teriak-teriak kayak orang gila.
“Emang kenapa kalau miskin? Masalah buat kamu! Biarpun miskin tapi nggak ganggu kamu kan?” ucapan Dhiva menyentil hatinya Serelia bukannya sadar malah semakin menjadi.
Plakk
Sebuah tamparan melayang di pipi mulusnya Dhiva, tapi Dhiva enggan membalas tamparan tersebut, sehingga dia hanya bisa memegang pipinya yang sakit sambal meringis kesakitan.
“Dasar cewek psiko!” umpat Bu Marni yang sakit hati melihat anak kesayangannya ditampar di pinggir jalan raya.
“Nggak anak nggak emaknya sama saja! Udah miskin belagu!” maki Serelia pada Dhiva dan Bu Marni.
Krek krek byuuur…………
Serelia melempar cup yang berisi jus ke wajah dan rambut Dhiva, seringai tawa mengerikan dari bibir Serelia terdengar sarat kebencian yang mendalam.
Bu Marni membantu Dhiva mengelap rambutnya dengan ujung hijab yang dikenakannya saat ini. Sungguh tak berakhlak perbuatan Serelia untuk ukuran seorang gadis keturunan orang terpandang di desanya.
“Jangan mentang-mentang kamu anak orang terpandang lalu kamu berbuat semena-mena hei gadis ingusan yang sombong! Sebentar lagi Daffa dan Dhiva juga akan menemukan keluarganya yang konglomerat di Jakarta. Bahkan kekayaan keluarga kamu itu hanya seujung kuku kekayaan keluarga Dhiva” pamer Bu Marni pada Serelia.
__ADS_1
Dhiva terhenyak mendengar pengakuan Bu Marni karena selama ini ibunya tak pernah bercerita apapun tentang asal-usul Dhiva dan Daffa maupun keluarganya.
“Dasar halu! Kalau miskin ya miskin! Jangan mimpi jadi orang kaya, sampai matipun kalian nggak akan pernah jadi orang kaya!”
Ha…………ha…………….ha……………..
Tawa membahana Serelia terdengar kencang sekali, bahkan sudah sampai di dalam mobilnya pun masih terdengar.
“Sabar ya ndok. Sebisa ibu pasti akan melindungi kamu”
“Bu, apa maksud ibu tadi berucap seperi itu pada Serelia?” Dhiva memgang kedua pundak Bu Marni. “Katakan sejujurnya pada Dhiva bu”
Bu Marni mengambil nafas perlahan. “Baiklah ndok, setelah pengumuman kelulusan kamu, ibu janji akan menceritakan semuanya padamu dan kakak kamu, kalian bukan berasal dari keluarga biasa ndok, kalian adalah keturunan konglomerat”
“Apa bu……………………?”
&&&
Keesokaan harinya Dhiva bangun dengan badan segar namun masih penasaran dengan cerita yang masih dirahasiakan oleh ibunya. Ia merasa nggak percaya jika dirinya dan kakaknya bukan berasal dari keluarga biasa, sungguh tak masuk akal.
“Kak, aku pinjam motornya ya mau ke sekolah”
“Pulang jam berapa dek?” tanya Daffa sembari mengelap motor kesayangannya, biarpun motor butut tapi Daffa sangat menyayanginya, motor hasil jerih payah berdagang gado-gado selama ini membantu ibunya jualan.
Mungkin jam sepuluhan kak”
“Baiklah, tapi hati-hati ya dek” cicit Daffa sambal menyerahkan kunci pada adiknya.
Dhiva berpamitan sambil mencium punggung tangan kakaknya juga dengan ibunya, tak lupa ia mampir ke rumah sahabatnya karena udah dapat chat tadi pagi jika Veli akan nebeng di motornya.
Dhiva berboncengan dengan veli dengan menempuh perjalanan selama sepuluh menit akhirnya sampai juga di SMA tempatnya menimba ilmu selama ini.
“Alhamdulillah sampai juga ternyata di sekolah” ucap Dhiva penuh dengan syukur.
Memang benar suasana di depan ruang perpus sudah riuh dengan siswa yang saling berdesakan ingin melihat pengumuman apakah dirinya termasuk kategori yang lulus ataukah mengulang lagi duduk di kelas dua belas.
Tampaknya banyak siswa yang lulus karena mereka meloncat kegirangan bahkan ada yang berrteriak-teriak kalau dirinya itu lulus.
Ada satu atau dua siswa yang tampak murung setelah melihat papan pengumuman dan memilih menyendiri dari keramaian.
Banyak diantaranya siswa yang ingin mengabadikan momen kelulusannya dengan cara menyemprotkan cat aerosol ke baju-baju mereka. Dan dengan bangga membuat tulisan besar-besar dengan cat aerosol tersebut di masing-masing baju mereka. Yach padahal itu baju masih bagus-bagus masih pantas disumbangkan pada orang yang tidak mampu.
Dhiva dan berempat sahabatnya hanya geleng-geleng saja melihat tingkah absurd semua teman-temannya, memang circle pertemanan Dhiva sangat tidak menyukai yang berbau menghambur-hamburkan sesuatu atau[un berfoya-foya.
“Dhiv sudah lihat pengumuman belum?” tanya Sinta yang langsung duduk di depan Dhiva dan Veli.
“Belum” jawab Dhiva singkat.
“Kita-kita juga belum kok Dhiv. Ayo kita lihat sekarang, mumpung lagi sepi tuh depan perpus” ajak Bela yang bersemangat.
Akhirnya kelima sahabat itu melangkah Bersama ke depan ruang perpus. Di papan pengumuman diurutkan dari mulai nilai tertinggi sampai nilai terendah sesai passing grade, dan sebelahnya yang mengulang lagi di tahun ajaran baru.
__ADS_1
Kelima sahabat itu bisa bernafas lega, karena mereka menduduki peringkat teratas, mereka sangat puas dengan pencapaian kali ini, tidak sia-sia selama ini mereka belajar Bersama selama dua bulan sebelum ujian.
“Selamat ya Dhiva, kamu memang hebat! Nilai kamu tertinggi dan Emir berada di bawahmu” ucap Fitri.
Mungkin jam sepuluhan kak”
“Baiklah, tapi hati-hati ya dek” cicit Daffa sambal menyerahkan kunci pada adiknya.
Dhiva berpamitan sambil mencium punggung tangan kakaknya juga dengan ibunya, tak lupa ia mampir ke rumah sahabatnya karena udah dapat chat tadi pagi jika Veli akan nebeng di motornya.
Dhiva berboncengan dengan veli dengan menempuh perjalanan selama sepuluh menit akhirnya sampai juga di SMA tempatnya menimba ilmu selama ini.
“Alhamdulillah sampai juga ternyata di sekolah” ucap Dhiva penuh dengan syukur.
Memang benar suasana di depan ruang perpus sudah riuh dengan siswa yang saling berdesakan ingin melihat pengumuman apakah dirinya termasuk kategori yang lulus ataukah mengulang lagi duduk di kelas dua belas.
Tampaknya banyak siswa yang lulus karena mereka meloncat kegirangan bahkan ada yang berrteriak-teriak kalau dirinya itu lulus.
Ada satu atau dua siswa yang tampak murung setelah melihat papan pengumuman dan memilih menyendiri dari keramaian.
Banyak diantaranya siswa yang ingin mengabadikan momen kelulusannya dengan cara menyemprotkan cat aerosol ke baju-baju mereka. Dan dengan bangga membuat tulisan besar-besar dengan cat aerosol tersebut di masing-masing baju mereka. Yach padahal itu baju masih bagus-bagus masih pantas disumbangkan pada orang yang tidak mampu.
Dhiva dan berempat sahabatnya hanya geleng-geleng saja melihat tingkah absurd semua teman-temannya, memang circle pertemanan Dhiva sangat tidak menyukai yang berbau menghambur-hamburkan sesuatu atau[un berfoya-foya.
“Dhiv sudah lihat pengumuman belum?” tanya Sinta yang langsung duduk di depan Dhiva dan Veli.
“Belum” jawab Dhiva singkat.
“Kita-kita juga belum kok Dhiv. Ayo kita lihat sekarang, mumpung lagi sepi tuh depan perpus” ajak Bela yang bersemangat.
Akhirnya kelima sahabat itu melangkah Bersama ke depan ruang perpus. Di papan pengumuman diurutkan dari mulai nilai tertinggi sampai nilai terendah sesai passing grade, dan sebelahnya yang mengulang lagi di tahun ajaran baru.
Kelima sahabat itu bisa bernafas lega, karena mereka menduduki peringkat teratas, mereka sangat puas dengan pencapaian kali ini, tidak sia-sia selama ini mereka belajar Bersama selama dua bulan sebelum ujian.
“Selamat ya Dhiva, kamu memang hebat! Nilai kamu tertinggi dan Emir berada di bawahmu” ucap Fitri.
“Aku sih udah menduga kalau Dhiva bakalan punya nilai yang paling bagus diantara semua siswa kelas dua belas disini” Veli berbinar Bahagia.
“Makasih ya teman-teman”
“Hei gimana reaksi Emir saat mengetahui jika peringkat pertama itu ternyata Dhiva?”
“Dia malah seneng dong dan bangga karena aku bisa memperoleh nilai terbaik melampaui dia” Dhiva menyombongkan dirinya kali ini.
“Emang hubungannya apa kamu peringkat satu dengan Emir?” tanya Sinta.
“Oh aku ngerti kali ini, Emir pasti bangga kan karena dia tunangan kamu kan? Kamu udah dilamar Emir ya?” tanya Bella sambil menyenggol bahu Dhiva, sedangkan Dhiva hanya senyum-senyum saja.
“Ah so sweet banget deh, lulus sekolah dilamar pujaan hati, lulus kuliah married” Veli memeluk erat tubuh Dhiva hingga sulit bernafas.
Saat mendapat kebahagiaan sebentar ada saja yang syirik dengan kebahagiaan orang lain.
__ADS_1
“Jangan Bahagia dulu kalian! Kebahagiaan kalian akan berakhir dengan kedukaan!”