
Eren memundurkan langkah kakinya sampai membentur tembok, sudah puluhan tahun menyimpan rapat rahasia besar itu tetapi kini seolah pintu rahasia terbuka lebar di depannya.
“Tolong jangan sakiti aku, aku masih ingin hidup……….”
Daffa begitupun dengan Dhifa ingin tertawa sekerasnya melihat wajah Eren yang Nampak sangat ketakutan.
“Kenapa kamu takut pada kami? Bukankah kamu berambisi ingin menjadi nyonya besar dengan cara menghabisi adikmu sendiri bukan?” pertanyaan Dhiva sangat memojokkan Eren sehingga dia sangat kesulitan untuk menjawabnya.
Eren hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya saja, dia menyangkal dengan semua kebenaran yang diungkapkan oleh Dhiva, darimana bocah itu tahu? Pikir Eren.
Ingin rasanya Dhiva dan Daffa menghabisi Eren saja kali ini, jika Bagas dan Emir tidak menghalanginya mungkin Eren sudah tak bernyawa saat ini juga.
“Biarpun kamu tanteku, tapi hutang nyawa tetap dibalas dengan nyawa!” ucapan Daffa terdengar menakutkan apalagi melihat ekspresinya semakin mengerikan.
“Kamu bo-bocah i-itu?”
“Benar, aku putra pertama Angga Bimantara, akulah anak yang ingin kau bunuh dengan dibuang kelaut bukan?”
Daffa maju tepat dihadapan Eren, Eren semakin ketakutan melihat Daffa, karena wajah Daffa kelihatan seperti Angga saat kecelakaan wajah dan tubuhnya berlumuran darah segar.
__ADS_1
“Angga, maafin aku Angga. Kamu sudah tenang disana, tolong jangan dendam padaku…..” Eren tergugu, sungguh permintaan maaf yang tiada artinya kini, percuma Eren menangis darah karena sungguh tak pantas perbuatannya dahulu.
“Kamu dengan mudah meminta maaf Eren, kamu lihat semua anggota keluargaku semuanya kau bantai, kalau kedua anakku tidak selamat mungkin rumah ini yang akan mrngubur jasad semua anggota keluargamu! Ha…………ha…………………….ha……………..” lengkingan tawa memekakkan telinga Eren, tapi lagi-lagi hanya dia yang mendengar suara Angga dan suara tawanya yang amat mengerikan.
Baru saja Daffa ingin melayangkan tangannya, dari luar terdengar suara orang bertamu, entah siapa orang yang berani bertamu ke rumah yang penuh horror ini?
@@@
“Assalamu’alaikum……….” Sapa seseorang dari luar.
“Sssttt diam!” bentak Bagas pada Eren agar mengunci mulutnya rapat.
Bagas segera ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
“Abang…” panggil tamu itu.
“Ayo masuk” ajak Bagas lalu mendudukkan tamu tersebut di ruang tamu.
“Bang mana…………” tanya tamu itu celingukan ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang pernah diceritakan oleh Bagas.
__ADS_1
“Ayo abang ajak ke dalam, entar kamu tabrak dia seolah-olah tidak lihat jalan, di aitu dingin dan kayaknya anti cewek banget” ujar Bagas memberi informasi.
“Oke siapa takut” jawab tamu itu.
Bagas membawa masuk ke dalam tamu itu, tamu yang berjenis kelamin Wanita yang seumuran dengan Daffa, berambut hitam bergelombang, kulit tubuhnya kuning langsat seperti pribumi asli, hidung mancung.
Gadis itu memang berbeda dengan Dhiva dan juga Daffa, karena Daffa dan Dhiva mempunyai keturunan dari Asia Timur seperti sang mama.
Brukk
Daffa yang tidak melihat depan tidak sengaja menabrak gadis itu.
“Maaf-maaf” ucap Daffa yang secara reflek memegang kedua tangan gadis itu agar sang gadis tidak terjatuh karena ulah nya.
”Nggak pa-pa” kata gadis itu dengan menunjukkan senyum termanisnya pada Daffa.
Deg
Dug dug dug dug
__ADS_1
Daffa menarik satu tangannya lalu meletakkannya di dada, sungguh aneh tapi nyata jantungnya kini berdetak lebih kencang dari biasanya.
Hanya karena senyum dan tatapan teduh dari gadis di depannya membuat Daffa tidak bisa mengontrol irama di jantungnya.