MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Emir pulang


__ADS_3

“Tolong ibu-ibu jika sudah membeli pulang saja, jangan pernah kalian ucapkan kata-kata sampah di depan siapapun itu!”


Rombongan ibu-ibu julid itu akhirnya pulang dengan penuh kekecewaan, gara-gara pria itu akhirnya bubar. Huh dasar!


Perkataan Pak Rudy sangat ampuh dan manjur berhasil mengusir gerombolan ibu-ibu yang julid pada Bu Marni dan anak-anaknya.


Memang siapapun akan julid jika melihat paras Daffa dan Dhiva yang sangat berbeda jauh dengan Bu Marni, ibaratnya Bu Marni itu lebih cocok menjadi pembantu daripada ibu buat mereka berdua.


“Makasih ya pak, karena kedatangan bapak akhirnya kami terbebas dari para ibu-ibu julid, yach walaupun besok-besok mereka akan Kembali berkata lebih pedas lagi tapi nggak pa-pa untuk sekarang sudah aman” Bu Marni tersenyum palsu, ia sembunyikan kepedihan itu.


Sewaktu dulu Bu Marni pulang membawa Daffa dan Dhiva yang masih bayi merah ada saja tetangga yang menggunjingnya, ada yang bilang dua anak itu adalah anak haram, ada juga yang bilang kalau Bu Marni telah menculik Daffa dan Dhiva, pokoknya hinaan demi hinaan memenuhi isi kepala bu Marni dan juga menulikan telinganya.


“Ah enggak kok Bu, itu sudah kewajiban saya melindungi yang lemah, seperti Daffa dan Dhiva lagian mereka juga murid saya di sekolah maupun di rumah”


Bu Marni hanya bisa manggut-manggut saja mendengar penuturan Pak Rudy yang notabene adalah guru yang cukup professional tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah, karena Pak Rudy sangat cekatan dalam membantu siapapun.


Pak Rudy mencerna semua ucapan ibu-ibu julid tadi dan melirik wajah Daffa, Dhiva serta Bu Marni yang memang tidak ada kemiripannya sama sekali. Tapi Pak Rudy tidak mau suudzon sama bu Marni. Mungkin ada waktunya pak Rudy mendengar sendiri cerita dari Bu Marni perihal kakak beradik yang sangat dicurigai berasal dari keluarga mana mereka?


&&&


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dari desanya ke bandara, akhirnya Emir sudah sampai ke bandara Ahmad Yani.


Cukup lama Emir tidak pernah naik pesawat, terakhir saat kelulusan SD itupun dia diasingkan oleh papanya ke rumah neneknya. Saat itu nyawa Emir selamat setelah kecelakaan beruntun sudah menewaskan mamanya di tempat kejadian.


Papa Haruga mengetahui dari anak buahnya jika istri dan anaknya menjadi korban kecelakaan yang tidak biasa, tapi sudah direncanakan oleh rekan bisnisnya.


Emir berangkat dengan asisten papanya, setelah menempuh perjalanan satu jam dari bandara Ahmad Yani ke bandara Halim Perdana Kusuma, akhirnya sampai juga di rumahnya, tepatnya rumah papanya.


“Om, sudah berapa lama ikut kerja dengan papa?” tanya Emir pada lelaki yang berusia tiga puluh tahun yang menjadi asisten sekaligus sopir pribadi Emir khusus hari ini saja.

__ADS_1


“Sudah empat tahun” jawabnya singkat.


“Ooo” Emir hanya ber oh ria.


“Mulai besok tuan muda akan saya ajarkan magang di kantor tuan Haruga”


Emir tak mau menjawab apapun, jika menolak pasti papanya akan memaksanya untuk mengikuti jejak papanya meneruskan perusahaan besar itu.


Emir menghela nafas Panjang, “Kenapa harus besok? Terlalu cepat buat saya”


“Saya hanya menjalankan tugas tuan muda, semua itu atas perintah Tuan Haruga. Terlebih sekarang perusahaan Tuan Haruga banyak rivalnya jadi tuan muda sudah dipersiapkan mulai dini” ucapnya panjang lebar.


Emir membaca nametag yang ditempel di dashboard mobil yang dipakai untuk menjemput Emir kali ini. ‘LENDY ANGGARA’ mungkin itu Namanya, dan mungkin ini juga mobilnya yang dipakai menjemputku’ batin Emir.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam sudah termasuk kejebak macet, akhirnya Emir dan Lendy sudah sampai di halaman rumah mewah yang masih sama dengan keadaannya sebelum dia diasingkan di desa.


“Mari masuk tuan muda, tuan Haruga sudah menunggu tuan muda di dalam dari tadi” ajak Lendy lalu mengekor di belakang Emir.


Tanpa mengetuk pintu dulu yang emang pintunya langsung dibukakan sang asisten, Emir berucap salam kepada papanya.


“Assalamu’alaikum papa”


Emir berlari kecil mencari keberadaan papanya yang masih duduk di kursi goyang, kursi yang bisa melelapkan tidur papa Haruga dari kesedihan selama bertahun-tahun semenjak kematian istrinya dan pengasingan buat Emir agar nyawanya selamat.


Papa Haruga tersenyum lebar kala Emir sudah sampai di depannya yang tak lupa mencium punggung tangan papanya dengan takzim.


Wa’alaikumsalam anak papa” papa Haruga merentangkan tangannya lebar, dipeluknya erat Emir untuk menuntaskan kerinduannya selama bertahun-tahun tidak bertemu dan jarang berkomunikasi agar tidak terlacak keberadaannya oleh musuhnya.


“Papa sangat merindukanmu sayang, maafin papa yang udah mengasingkan kamu di desa yang sulit akses dan minim fasilitas”

__ADS_1


Emir bukannya marah tapi ia tersenyum Bahagia mengingat perpisahannya dengan Dhiva yang sangat manis dan mengikat gadis itu untuk bersanding dengan di masa depannya.


“Kenapa kamu tidak marah sama papa Emir? Kenapa kamu malah Bahagia sudah papa asingkan di daerah terpencil? Jangan-jangan kamu………….”


“Benar pa, awalnya aku marah sama papa. Tapi lama kelamaan kemarahanku mereda karena aku bertemu dangan seseorang yang membuatku sangat tergila-gila padanya, bahkan aku sudah berani mengikatnya dengan kalung berlian dari mama” Emir berbunga-bunga tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat ini.


“Benarkah sayang itu? Ternyata jagoan papa sudah dewasa. Atau jika kamu ingin nikah muda pun pasti papa restui” tawar papa Haruga, tapi malah membuat wajah Emir makin sendu.


“Kenapa wajahmu berubah? Apakah keluarganya tidak menyetujui hal itu? Ataukah ada hal lain?”


“Dugaan papa semua salah. Emir udah terlanjur janji jika Emir sudah lulus S1 dan udah jadi CEO Emir akan melamar sekaligur menikahi gadis itu pa. Lagian Dhiva juga mau kuliah juga pa, kasihan kan kalau aku nikahi dia terus dia nggak bisa ngelanjutin pendidikannya karena sibuk ngurus anak kami”


“Ha……….ha…………..ha……………..Wah-wah anak papa pemikirannya sudah jauh sekali ya, tidak percuma papa kirim kamu di rumah nenekmu itu”


&&&


Akhirnya gado-gado Bu Marni habis juga, walaupun tadi Pak Rudy sudah mengusir ibu-ibu julid masih ada saja yang dating pembeli yang suka godain Daffa tentunya. Daffa mempunyai paras yang menawan tapi masih setia dengan kejombloannya, baginya pacaran itu tidak penting yang penting adalah kebahagiaan ibunya.


Daffa yang bagian mendorong gerobak di belakang ada Dhiva yang membonceng Bu Marni masih mengekor Daffa yang notabene mash berjalan lambat dengan gerobaknya.


“Nak Emir sudah menghubungimu ndok?” tanya Bu Marni yang masih duduk di jok belakang dhiva.


“Belum bu, mungkin dia masih dalam perjalanan naik pesawat. Dhiva nanti yang akan chat Emir bu”


“Ibu berdoa semoga hubunganmu dengan Emir bisa sampai jenjang pernikahan. Dia sosok lelaki yang bertanggung jawab dan sayang sama keluarga”


Dhiva sangat setuju dengan perkataan Bu Marni, memang mencari sosok seperti Emir untuk zaman sekarang sangat sulit, ada sih kakanya Dhiva tapi juteknya minta ampun deh. Biarpun jutek Dafaa adalah idola para gadis saat sekolah dulu hingga sekarang.


“Hei………….Tunggu………………”

__ADS_1


__ADS_2