MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Pengakuan saudara


__ADS_3

"Baik nyonya, tunggu saja di kamar" ucap Bagas ramah.


Usai kepergian Eren, Bagas ke kamar dengan Emir akan menyusun rencana.


Kemudian Daffa dengan sangat hati-hati masuk ke dalam rumah agar tidak ketahuan Eren.


Kini saatnya misi dimulai, setelah sekian lama mempelai seluk-beluk keadaan rumah Bimantara yang direbut oleh Eren dan Aldo.


Ke-tiga cowok tampan saling berunding berbagi usulan sekiranya bisa digunakan untuk bergerak maju.


Dhiva sama sekali belum mengetahui jika tunangannya sudah berada satu rumah dengannya.


Apa jadinya jika Dhiva tau Emir sudah ikut menyusun rencana pembalasan dendam?


Dari kejauhan Dhiva melindungi kakaku yang keluar kamar Bagas tapi kembali lagi masuk ke kamar tersebut dengan tergesa-gesa.


'Apa yang dilakukan kak Daffa? Kok mencurigakan banget sih?' gumam Dhiva.


Langkah kaki Dhiva tertahan kala mendengar sayup-sayup teriakan dari kamar juragan wanita.


'Kenapa sih nenek lampir itu kumat lagi?' gerutu Dhiva.


Dhiva mengabaikan suara panggilan yang sarat akan teriakan tidak jelas.


Dhiva mengintip dari balik lubang kunci tapi hanya Bagas yang terlihat duduk dengan wajah yang sangat serius.


Cklek

__ADS_1


Dhiva membuka pintu perlahan kemudian masuk dengan mengendap-endap.


Bruk


Dhiva menabrak tubuh seseorang, dia tidak menyadari siapa sosok yang ditabrak nya.


Dhiva hanya mengetahui jika yang ada didalam kamar ada kakaknya dan bodyguard, yang tak lain bernama Bagas.


"Sayank.... " panggilan sayang dari suara yang khas dari seorang cowok yang dikenalnya.


"E-Emir.... " panggil Dhiva lirih hampir tidak mempercayai jika tunangannya sudah ada dirumah ini.


Grep


Emir memeluk erat kekasih sekaligus tunangannya, rindu yang menumpuk sudah tidak dapat lagi dibendung nya.


Suara deheman membuyarkan keintiman mereka berdua.


"Kecil-kecil udah tunangan, udah kebelet nikah kalian?" ledek Bagas.


Dhiva dan Emir menepuk jidatnya berbagi.


"Emang situ udah bangkotan belum punya pacar" balas Emir.


"Ya mentang-mentang tuan muda yang tinggal ongkang kaki sudah mengalir uangnya"


"Bang bukan dia aja yang tuan muda, gue juga bang" celetuk Daffa yang tidak terima.

__ADS_1


"Emang lo tuan muda dari lahir, tapi nasib lo yang malang. Jika lo nggak perjuangin harta lo, sampai meninggoi juga lo bakal kismin teros!"


Daffa meninju pelan lengan Bagas, dia ngerasa sangat beruntung bertemu dengan Bagas, lelaki yang umurnya diatasnya, pemikirannya juga sudah sangat dewasa.


"Mir lo sinian, jika deket-deket sama calon istri lo, entar belendung duluan tuh sebelum ijab" Bagas menarik tangan Emir agar mendekat padanya.


Bagas bukan maksud apa-apa, dia hanya ingin mengerjai Emir dan Dhiva saja.


Bagas merasa lucu saja, punya adik seperti Daffa, Dhiva dan Emir.


Mungkin inilah hadiah Tuhan untuknya bisa punya orang-orang baru yang dekat dengannya.


Bagas menarik Daffa, Emir dan juga Dhiva ke dalam pelukannya.


"Berjanjilah pada abang akan menjadi adik abang dan tidak akan meninggalkan abang" pinta Bagas dengan sangat serius.


"Tanpa diminta pun, gue mau jadi adik lo bang" ujar Daffa terharu.


"Gue juga mau bang, mau banget" Emir menimpali.


Hening sesaat.


"Kenapa nggak mau ikutan jadi adik bang?" tanya Bagas sambil melirik Dhiva yang hanya diam saja.


"He... he... he... Emang abang mau punya adik kayak gue?" tanya balik Dhiva.


Belum sempat menjawab pertanyaan Dhiva dari luar kamar sudah terdengar teriakan dari nenek lampir seperti orang kesetanan saja.

__ADS_1


"Bodyguard... bodyguard... dimana kamu?"


__ADS_2