
Keadaan Ika sudah disembunyikan oleh Emir atas permintaan Dhiva.
sebelum majikan yang berhati *bl*s pulang, Dhiva harus segera pulang ke rumah majikannya, tapi itu bukan rumah majikannya melainkan rumah kedua orang tuanya yang direbut oleh bibinya.
"Kak bukankah itu suara Dion? Kenapa dia berteriak seperti orang ketakutan kayak gitu?" tanya Dhiva pada kakaknya saat mengintip kamar Dion dari lubang kunci kamar Dion.
"Nggak tau dek, apa mungkin disini ada hantu penunggu rumah ini?" tanya Dion sambil memandangi adiknya yang berdiri didepannya.
"Ampun, tolong jangan bunuh saya, ampun" rintih Dion dikamarnya tapi masih terdengar ditelinga Daffa dan Dhuha.
Cklek
Daffa membuka pintu kamar Dion dengan hati-hati, tapi Dion seakan tuli tak mendengar suara pintu terbuka.
"Ampun, aku akan bertanggungjawab, aku janji... " ucap Dion sambil terengah-engah saat berbicara.
Daffa mendekati Dion, tapi sepertinya Dion sudah tidak mempedulikan orang yang ada disekelilingnya.
"Dion.. " panggil Daffa pelan.
"Ha.... ha.... ha.... aku nggak jahat kan ha.... ha.... ha... " Dion tertawa sendiri bicara sendiri.
__ADS_1
Dion berlutut didepan Daffa, dia tersenyum sekilas tetapi menjadi menangis tergugu.
"Hu... Hu... Hu... ampuni aku Ika, ampuni aku Hu..... Hu..... Hu..... "
Daffa dan Dhiva saling pandang, kenapa lelaki yang garang dan semena-mena menjadi melo kayak permen karet.
"Kak, apakah mental Dion terganggu?" tanya Dhiva yang masih terbengong-bengong tak percaya dengan apa yang dilihatnya didepan mata kepalanya sendiri.
Tanpa jawaban Daffa mengelus pundak adiknya.
"Biar kakak yang ngatasin ini bocah, kamu tunggu saja di kamarmu" titah Daffa pada adiknya.
Daffa menggandeng tangan Dion, ruang yang benar-benar aman tidak akan diketahui oleh keluarga Aldo adalah ruang yang terletak disamping lorong yang gelap itu.
Diam-diam Daffa selalu mencuri kesempatan untuk menyelinap ruang yang penuh rahasia didalam rumah besar itu.
"Ika.... mau kamu bawa kemana aku?" tanya Dion dengan wajah penuh iba.
Sesekali Dion senyum-senyum sendiri, tapi seketika itu juga wajahnya menjadi kelihatan murung dan sangat bersedih.
"Dion, kamu mau bersama Ika?" tanya Daffa sesampainya didepan kamar yang disamping lorong yang gelap.
__ADS_1
Begitu mendengar pertanyaan Daffa, mata Dion berbinar bahagia, entah itu dari dalam hatinya ataukah karena keadaan mentalnya yang sudah terganggu.
"Baiklah kita akan masuk kekamar ini, kamu akan bersama dengan orang yang kamu inginkan Dion" ucap Daffa sambil menepuk-nepuk pundak lelaki jahat itu yang kini berubah seperti hello kitty.
Cklek
Daffa membukakan pintu lebar-lebar untuk Dion, dengan senang hati Dion mengikuti langkah Daffa tanpa adanya paksaan.
Lampu dikamar tersebut mempunyai penerangan yang cukup, tapi jika dari lorong tidak tampak seperti kamar yang mempunyai cahaya, malah seperti ruang gelap untuk tempat penyekapan.
"Dion, Ika lagi tidur dengan tertutup selimut, kamu hampiri dia pasti dia akan bahagia"
Dion menganggukkan kepalanya dengan kegirangan dan melompat-lompat kecil.
Disibaknya selimut tersebut tapi tidak ada siapapun karena hanya ada guling yang tertutup selimut.
"Ika hi... Hi.... Hi... akhirnya aku menemukan mu sayang" kata Dion sambil mengelus-elus guling dengan penuh rasa bahagia seperti anak yang mendapatkan permen kesukaannya.
Daffa mengamati Dion dengan seksama, benar saja jika mental Dion sudah terganggu.
"Satu orang sudah tersingkirkan, tinggal empat orang lagi, pasti aku akan dengan mudah mengetahui dimana keberadaan kedua orang tuaku" ucap Daffa sembari menyeringai.
__ADS_1