
‘Kenapa ruangan ini aneh sekali?’ tanya Bagas sendiri.
Bagas mencoba mencari sesuatu di tembok jikalau ada saklar lampu, tapi sepertinya memang ruangan bawah tanah ini dibangun untuk menampung mayat ataupun korban pembantaian sehingga aman dari kejaran polisi.
Dugh
Bagas menabrak sesuatu yang ada di depanyya, “Apa ini?”
Bagas mengarahkan lampu senter yang ada di kepalanya ke bawah tepat di depan kakinya.
“Ya Tuhan, kenapa ada tengkorak manusia disini?”
“Bang ada apa?” tanya Emir dan juga Dhiva.
Dhiva dan Emir ikut melihat, betapa mereka juga ikut terkejut dengan apa yang mereka lihat, tengkorak manusia yang sudah tidak bisa lagi diketahui identitasnya.
“Bang apakah ini asli?” tanya Emir yang meragukan keberadaan tengkorak yang sepertinya bukan asli melainkan buatan manusia.
Emir berjongkok menyentuh bagian-bagian tengkorak itu mulai dari kepala sampai kaki.
Dhiva bergegas ke depan Bagas lalu jongkok dan mengikuti Bagas untuk melihat apa yang dikatakan oleh Bagas.
“Tidak…………………….” Dhiva berteriak histeris saat memperhatikan tengkorak itu dengan sangat teliti, di dalam fikirannya sekarang yang ada hanya fikiran buruk mengenai mama dan juga papanya.
__ADS_1
“Sayang ada apa?” tanya Emir yang ikutan jongkok Dhiva lalu mendekap tubuh Dhiva dari samping.
“Mir semoga ini bukan tengkorak mama, aku takut jika ini yang terjadi pasti hidup mama dulu sangatlah menderita, hiks…………hiks…………hiks………….” Dhiva menangis terisak dalam dekapan Emir.
Saat ini hanyalah Emir yang menjadi tumpuan harapannya untuk mencari keadilan yang seadil-adilnya bagi kedua orang tuanya dan juga para korban kebiadaban Aldo dan juga istrinya.
“Va kamu yang tenang ya, aku akan selalu disisimu dan aku berjanji akan selalu menjadi yang terdepan untukmu” ucap Emir dengan lembut sambil mengusap sisa air mata Dhiva.
@@@
Di kediaman Azkia.
Azkia memang masih tampak malu-malu dengan Daffa, apalagi dia memang jarang bergaul dengan lelaki karena memang sudah aturan dari sang ayah agar membatasi dirinya demi kebaikannya juga.
“Saya akan usahakan om”
“Oya Daffa om kamu belum pernah menyerahkan bukti apapun pada semua pengacara yang om kenal, jadi kamu bisa gerak cepat untuk menyelesaikan misi kamu ini” tutur papa Azkia lagi pada Daffa.
“Terima kasih om atas informasinya, saya akan segera bertindak setelah saya Kembali ke rumah papa saya”
Papa Azkia manggut-manggut tanda mengerti dengan apa yang diomongkan oleh Daffa.
” Bagaimana jika setelah misi kamu berhasil kamu segera menunaikan janji orang tuamu yang menjodohkan kamu dengan putri om?” tanya papa Azkia pada Daffa lalu pandangannya pada Azkia.
__ADS_1
“Bagaimana sayang?” tanya papa Azkia gentian kepada putrinya.
“Ih papa apaan sih?” ucap Azkia yang malu-malu diledekin papanya.
“Bagaimana Daffa apakah kamu siap menikah dengan Azkia dalam waktu dekat ini?”
Daffa ternganga mendengar permintaan papanya Azkia, dia yang belum punya pekerjaan apakah bisa menghidupi anak orang?
“Kenapa ekspresimu seperti itu? Kamu tidak senang menikah dengan putriku satu-satunya?” pertanyaan yang cukup memojokkan Daffa.
“Bu-bukan begitu maksud saya om, saya sekarang ini masih pengangguran, bagaimana saya bisa menghidupi putri om?”
Ha………….ha………….ha………..
Papa Azkia tertawa ngakak mendengar jawaban dari Daffa.
“Kamu memang menantu idaman, tapi tenang saja kamu dapat bekerja di kantor om sebelum kekayaan papa kamu jatuh ke tanganmu”
Daffa tersenyum lega, disatu sisi jodohnya sudah Nampak, dan disisi lain dia akan segera merebut semua apa yang menjadi haknya.
“Kamu sanggup nak Daffa?” tanya papa Azkia.
“Insyaa Allah om”
__ADS_1
Papa Azkia menepuk Pundak Daffa, dia sangat salut dengan kegigihan Daffa yang selangkah lebih maju dari pada apa yang telah difikirkannya.