MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
kembar tompel keren


__ADS_3

“Bik, maafin Ipah yang tidak bisa menolong bibik saat dianiaya oleh nona Lea dan nyonya Eren” ucap Dhiva yang masih bersandar didapur.


“Kamu nggak salah nak, mungkin tadi nasib bibik yang lagi buruk, bibik benar-benar ceroboh kenapa kok nggak berhati-hati saat membawa piring tadi” ujar bik Sumi yang terdengar parau.


Mungkin sesakit itu yang dirasakan oleh bik Sumi dan beberapa pembantu yang bekerja disini, bukan hanya luka fisik tapi luka batin yang justru membekas lama dihati.


“Pah kamu kok melamun?” tanya Ika sambil menyenggol bahu Dhiva.


“Eh eng-enggak kok. Aku kasihan sama nasib pembantu disini, walaupun aku juga seorang pembantu tapi aku ikut sakit jika mereka terluka karena dianiaya” jawab Dhiva menatap nanar ke depan.


Memang tak bisa dipungkiri jika orang yang bekerja di rumah Eren akan beralhir mengenaskan.


Brakkk


Lea menendang pintu dapur hingga mengakibatkan ketiga orang yang masih bersandar di dapu menjadi terkejut mendengar pintu yang dibanting dengan kerasnya.


“Ngapain kalian masih disini? Kalian mau menggosip tentang gue kan? Hah!” suara lantang Lea semakin membuat bulu kuduk ketiga orang itu berdiri, teriakannya seperti orang gila yang baru saja mengamuk.


“Ti-tidak nona, kami ti-tidak berani” jawab bik Sumi mewakili suara hati Ika dan Dhiva.


Sebenarnya Dhiva sudah muak melihat kelakuan sepupunya itu, ingin rasanya menendang Lea keluar rumah jika perlu kelaut lepas, tapi jika itu terjadi misi Dhiva dan Daffa bisa hancur berantakan bahkan akan keluar tanpa membawa hasil apapun.


“Hei tompel! Sini lo!” panggil Le dengan bentakan yang keras.


“Ada apa non?” Dhiva memberanikan diri mendekat ke arah Lea yang wajahnya kian merah karena sedang tersulut amarah.


“Siapa yang nyuruh lo mendekat g*bl*k! Gue panggil lo itu biar lo tau gue akan nyuruh lo bersihin taman belakang!” bentak Lea lagi, Dhiva yang bergidik ngeri memilih memundurkan badannya pelan-pelan.


“Ma-maaf nona” ucap Dhiva, melihat kelakuan Lea yang sangat buruk ingin rasa hati Dhiva menonjok bibir Lea.


“Lo panggil saudara lo itu yang sama tompelan kayak lo, sekarang!”

__ADS_1


Dhiva berjalan menunduk berlalu meninggalkan Ika dan bik Sumi yang masih terduduk di dapur, Dhiva menghampiri kakaknya yang sudah duduk di pos satpam, melihat kakaknya yang tertawa kecil dia ikut Bahagia, seenggaknya hanya dirinya sajalah yang merasa tertekan selama menyamar bekerja menjadi pembantu, biarkan kakaknya Bahagia walaupun hanya dengan hal yang sangat kecil.


&&&


“Dhiva ada apa kamu kesini?” tanya Daffa sambil berbisik di telinga Dhiva.


“Lea manggil kakak. Tapi Dhiva mohon sama kakak jangan sampai membantah ucapan Lea ya kak, jika kakak melakukan sedikit saja kesalahan maka kita akan gagal kak” kata Dhiva juga dengan berbisik pada kakaknya.


“Memang apa yang sedang terjadi dek?”


“Disini penuh dengan penyiksaan dan penganiayaan kak” saking asyiknya berbisik-bisik sampai Dhiva melupakan hal penting soal perintah dari Lea agar cepat-cepat dating ke tempat Lea.


Satpam yang melihat kelakuan kakak beradik yang sedang arik berbisik-bisik ria itu merasa sangat lucu dan konyol, bagaimana tidak la kelakuan kayak anak kecil.


“Hei anak-anak, kalian itu ngapain dari tadi bisik-bisik terus?” tanya pak satpam membuat kedua bersaudara kemudian terkekeh bersamaan.


Dhiva menepuk jidatnya beberapa kali, ia sungguh teledor seharusnya langsung mengajak kakaknya bukannya ngomong berdua tanpa ada jalurnya.


“Buruan sana pergi, jangan sampai kalian digantung sama non Lea dan nyonya Eren” kata pak satpam sambil menakuti sedikit-sedikit saja boleh kan.


Dhiva menyeret tangan Daffa diajak masuk ruangan, khususnya ruangan bersantai khusus Lea dan tidak ada orang yang mau mengganggunya untuk saat ini.


Tok tok tok


Dhiva mengetuk pintu kamar tersebut, sudah sekitar sepuluh menit Daffa dan Dhiva berdiri mematung di dekat pintu, tapi juuga belum dibukakan pintu oleh sang majikan.


Cklek


Pintu kamar Lea terbuka tapi dia tidak beranjak dari sofa tersebut, “Kembar tompel gue pengen lo berdua bersihin taman belakang! Sekarang juga!!” bentak Lea lagi dengan suara lantangnya.


Daffa melirik wajah Lea sekilas, wajah canti tapi penuh dengan topeng kepalsuan begitu juga dengan wajah tantenya.

__ADS_1


“Apa lo lihat-lihat?! Minta disongkel mata lo?” Hardik Lea yang terus mengawasi Langkah Daffa dan Dhiva menuju taman belakang.


Daffa dan Dhiva sudah sampai di taman belakang, seharusnya taman itu tampak indah dengan pemandangan berbagai tanaman dan berbagai jenis bunga, mungkin tidak ada rasa damai dan Bahagia sejati dalam hati penghuni rumah mewah ini makanya taman kecil ini terbengkalai begitu saja.


“Ayo kak dikerjakan, itu dilihat sama mak lampir, kita berdua bisa dihukum Bersama kak” ajak Dhiva disertai anggukan oleh Daffa.


Drap drap drap


Suara Langkah kaki Lea mengalihkan pandangan mata Daffa dan Dhiva penasaran suara Langkah kaki seperti seorang lelaki.


‘Ha…’ Dhiva menutup mulutnya melihat penampilan Lea seperti seorang kuli bangunan yang memakai sepatu boot dan juga helm untuk pelindung kepala, ingin sekali Dhiva mentertawakan kelakuan sepupunya tapi ia ingat bagaimana perlakuan Lean pada pembantunya yang sangat kejam makai a urungkan saja niatnya.


“Hei tompel cowok itu tuh ada pot yang belum dicat, sekarang cat dulu biar bagus!” titah Lea.


Daffa hanya menganggukkan kepala tanda ia menyanggupi perintah sang majikan, dengan segera Daffa beranjak ke pojok taman yang ada kaeng cat yang sudah pernah dibuka dulu untuk mengecat ulang pot bunga tersebut.


“Hei b*d*h! Itu jangan kebanyakan make catnya entar keburu habis mau lo yang beliin?” sungt Lea yang mencoa merebut cat dari tangan Daffa malah kesiram cat itu sendiri hingga membasahi wajah, rambut dan juga baju Lea.


Byurrr


Ingin sekali Dhiva tertawa sekencangnya melihat adegan basah-basahan dari mak lampir yang kejamnya naudzubillah itu, tapi ditahannya tawa itu agar jangan sampai terdengar keras sampai ke telinga Lea.


“Kalian itu tompel kembar t*l*l! kalian nggak nolongin gue malah kalian akan nertawain gue! Awas ya kalian jika sampai gue ngelihat gigi kalian kelihatan, gue potong gigi kalian berdua!”


‘Tompel kembar keren non’ ucap Dhiva lirih tapi kok masih aja kedengeran di telinga Lea.


“Tompel keren darimana? Hanya orang b*g*k yang mau ngasih nama seperti pada kalian!” Lea beranjak dari tempatnya mungkin akan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Baru hal sekecil saja si Lea sudajh tu azabnya, apalagi perbuatan kei keluarganya pasti akan lebih pedih dari yang sekedar dialami para pembantunya sekarang.


“Awas jika gue Kembali ke taman ini tapi masih jelek, you-you end!” ancam Lea sembari memberi kode seperti akan membunuh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2