MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
kisah shelva


__ADS_3

“Ika, ingatlah aku dan kakakku akan selalu ada didekatmu dalam keadaan susah dan senang” kata-kata Dhiva sungguh sangat menenangkan bagi Ika.


Setelah membereskan aula di lantai tiga, Ika turun ke bawah disusul oleh Daffa dan juga Dhiva.


Saat berada di lantai bawah Dhiva melihat Shelva yang duduk bersandar di samping rumah, Dhiva yang sudah mulai dekat dengan Shelva sungguh tidak tega jika Shelva bersedih sendirian.


Apalagi Dhiva juga sudah mengetahui jika Shelva sepupunya yang sang sudah disia-siakan oleh ayah kandung dan ibu sambungnya.


“Non” panggil Dhiva lalu duduk di samping Shelva.


Shelva menoleh pada Dhiva, sungguh Dhiva sangat terkejut melihat wajah Shelva yang merah-merah yang sudah di cap lima jari entah oleh siapapun itu. Bukan hanya pipi kanan, tapi juga pipi kirinya Shelva.


“Non kenapa seperti ini?” tanya Dhiva trenyuh melihat penderitaan Shelva.


Shelva menghambur ke pelukan Dhiva, dia menangis terisak, sungguh malang benar nasib Shelva, walaupun Dhiva tidak beruntung karena tidak pernah Bersama dengan orang tuanya sejak bayi ta[I Dhiva dan kakaknya mendapat kasih saying penuh walaupun dari seorang pembantu yang dengan senang hati menjadi ibu angkatnya.


“Ipah, seharusnya aku mati saja sedari bayi Ipah…” ucap Shelva disela-sela tangisnya.


Dhiva mengusap lembut rambut Shelva yang tergerai indah berwarna kecoklatan yang agak bergelombang.


“Non, Allah tidak akan membebani makhluknya diluar batas kemampuan dirinya. Jika Allah memberi cobaan ini pada non Shelva itu artinya non mampu menghadapi ujian ini” tutur Dhiva.


“Makasih Ipah karena kamu sudah mau menjadi sahabatku disaat keluargaku semua memusuhiku” ucap Shelva dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Dhiva


&&&


Flasback on***


“Dasar anak haram! Bisanya nyusahin aja!” umpat Eren saat gelas kesayangannya pecah kala Shelva tidak sengaja menyenggolnya.


Byuurr


Eren menyiramkan air minum ke wajah Shelva hingga membuat gadis yang berusia tiga belas tahun itu gelagapan.


“Ampun ma….” Ucap Shelva sambil menundukkan kepalanya karena ketakutan jika mama sambungnya marah pasti akan bertindak lebih anarkis lagi.


“Lea, Dion sini kalian!” panggil Eren pada anak kesayangannya.


Lea dan Dion tergesa-gesa menuju mamanya yang memanggil dengan nada setengah berteriak.

__ADS_1


“Ada apa ma?” tanya Lea saat sudah dekat dengan mamanya.


“Lihat tuh anak pelakor berani-beraninya memecahkan gelas kesayangan mama!” tunjuk Eren sambil menunujuk dengan telunjuk tangan kanannya.


Dion dan Lea menyeringai, mereka dengan senang hati jika akan mendapatkan mangsa/ bullyan yang sudah dua minggu berpuasa tidak membully adiknya itu.


“Bangun g*bl*k!” bentak Dion lalu menarik tangan Shelva agar bangun dari duduknya.


Shelve yang tidak mempunyai kekuatan apapun hanya bisa pasrah dengan kelakuan kedua kakaknya, apalagi jika mama sambungnya itu yang menyuruhnya pasti akan lebih sadis lagi!


Brukk


Dion mendorong Shelva hingga jatuh tersungkur ke belakang, pantatnya terasa sakit akibat berbenturan dengan lantai yang keras.


“Aduuuhhh” Shelva mengaduh pelan, jika dia mengeluarkan suaranya yang keras pasti akan mendapat tambahan siksaan yang lebih parah dari sekedar dorongan.


“Kamu merasakan sakit? Emang anak nggak tau diri! Jika kamu itu ngerasa sakit, kenapa kamu pecahin gelas kesayanganku hah!” bentak Eren dengan mata melotot nyaris keluar.


Shelva yang sedari kecil tidak pernah dihargai keberadaannya oleh mama sambung dan kedua saudaranya hanya bisa menelan dan menerima perlakuan buruk dari mereka.


“Sini anak haram! Cepet beresin pecahan gelas itu! Kenapa masih bengong hah?!” bukan Dion ataupun Eren yang membentak tapi Lea lah yang membentak adiknya itu.


Saat Shelva memunguti pecahan gelas itu itu justru Lea mengambil satu pecahan gelas yang tajam itu dia goreskan ditangan Shelva.


“Aaaaaaaaaaa kakak……kakak sa-kit” ucap Shelva meringis menahan sakit hingga tak terasa bulir air matanya turun membasahi pipinya yang tumbuh jerawat-jerawat kecil.


Ha……..ha……………ha…………..


Sungguh b*ad*b ketiga orang itu, mereka layaknya psikopat yang dapat dengan sadis membunuh musuhnya tanpa rasa sedih ataupun rasa bersalah sekalipun.


“Itu hukuman pengganti untuk j*l*ng yang melahirkanmu!” umpat Eren.


Kini giliran Dion juga mengambil pechan gelas yang juga tajam itu dia goreskan ke paha adiknya hingga membuat Shelva menjerit kesakitan.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaa ampun-ampun kakak. Ja-jangan kak” Shelva menangis terisak.


“Itu hukuman karena kamu sudah terlahir kedunia ini hingga papa sangat menyanyangi anak h*r*m seperti kamu!”


Darah merembes dari tangan Shelva dan juga pahanya hingga titik-titik darah itu membasahi pakaiannya.

__ADS_1


“Diam! Udah jangan nangis cengeng! Ayo ma kita tinggalin anak jelek ini!” ajak Lea pada kakak dan mamanya.


Aldo yang mendengar ribut-ribut di dalam ruang tengah itu gegas menghampiri, Aldo mendengar suara isakan tangis dan suara bentakan tapi sudah tak terdengar lagi.


“Shelva, ada apa sayank?”


Aldo menghampiri anak kesayangannya, Shelva memang tidak diakui oleh saudaranya tapi Aldo tetap memaksa mengajak Shelva ke rumah mewah ini yang bagai neraka, karena ibu kandungnya meninggal saat melahirkan Shelva.


“Papa, kenapa papa sangat membela anak dari j*l*ng ini pa?” tanya Lea ketus.


“Jaga bicaramu Lea!” bentak Aldo yang tak terima mengatakan anak kesayangannya dengan kata-kata jelek.


“Papa jahat! Papa pilih kasih!” Lea marah-marah sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai dan pergi ke kamarnya, disusul oleh Dion juga Eren.


Aldo membelai rambut Shelva, lalu mengajaknya ke ruang belakang mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Shelva.


“Ayo sayank papa obtain lukanya” ajak Aldo seraya memapah jalannya Shelva yang tertatih karena ada luka dipahanya.


&&&


“Yang sabar ya non, saya yakin non Shelva akan kuat” hibur Dhiva dan ditanggapi Shelva dengan senyum manis tapi penuh dengan kepedihan.


Dhiva melihat bayangan putih berdiri di pojok, Wanita cantik berambut Panjang yang tersenyum tapi wajahnya pucat seperti orang yang sakit parah.


Deg


Dhiva ingat dengan Wanita yang hadir dalam mimpinya waktu itu, Wanita yang berbicara dan mengatakan jika dia adalah mama Sherly, mama kandungnya Dhiva juga Daffa.


“Mama……..” panggil Dhiva pelan takut didengar oleh orang lain.


“Ipah kamu manggil siapa?” tanya Shelva sambil mengikuti arah pandang Dhiva tapi tidak melihat siapapun.


“Non disitu ada mama non, saya harus kesana non” ucap Dhiva lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya.


Shelva mencekal tangan Dhiva agar tidak meneruskan Langkah kakinya karena yang dituju Dhiva tidak ada siapapun dalam pandangan Shelva.


“Dhiva, apa kamu lihat?”


Saya-saya melihat mama berdiri dipojokan sana non, saya sangat merindukan mama saya non” Dhiva melepaskan cekalan tangan Shelva, “Percayalah non, kenapa saya sangat merindukannya karena saya sudah berpisah dengan mama semenjak bayi non” Dhiva memandangi sejenak wajah anak majikannya itu.

__ADS_1


“Baiklah Ipah, jika kamu dapat melihat mama kamu, tapi kembalilah padaku jika mama kamu sudah tak terlihat olehmu” saran Shelva disertai anggukan kepala Dhiva.


__ADS_2