
“Kenapa kamu harus meminta maaf pada kami anak muda?” tanya papa Azkia.
Sedangkan mama Azkia yang dari tadi diam akhirnya mempersilahkan Daffa masuk ke dalam rumah.
“Ayo nak masuk saja, mari kita bicarakan didalam saja, nggak enak nanti jika ada yang menguping pembicaraan kita” ajak mama Azkia.
Setelah sampai di ruang tamu, salah satu asisten rumah tangga sudah menyiapkan minuman dan beberapa camilan yang disuguhkan di atas meja.
“Silahkan dinikmati nak Daffa” titah mama Azkia.
Agar suasana tidak menjadi canggung papa Azkia sengaja mengajak Daffa untuk berbincang ringan hingga berbincang hal-hal yang penting yang memang sudah lama akan disampaikan pada Daffa.
“Kenalkan saya papanya Azkia, Akbar Setiawan, panggil saja om Akbar” ucap papanya Azkia sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan mereka.
“Saya mamanya Azkia, Risa Hanifah, panggil saja tante Risa”
“Iya tan, om” ucap Daffa yang tampak malu-malu.
Setelah meneguk minumannya hingga habis satu gelas, Daffa memperhatikan mama dan papa Azkia bergantian karena sedari tadi senyum-senyum sambil melihat ke arah Daffa.
“Nak Daffa, kami sebenarnya sudah sangat mengenalmu dari kamu kecil bahkan dari dalam kandungan” ungkap papa Azkia.
“Benarkah om? Berarti kalian sangat mengenal kedua orang tuaku?” tanya Daffa yang kini antusias ingin mendengar bagaimana saat orang tuanya hidup dulu.
Papa dan mama Azkia menghela nafas Panjang, terlalu sedih jika diceritakan, tapi Daffa juga berhak tahu bagaiaman kehidupan orang tuanya apalagi sedari umur satu tahun Daffa sudah berpisah dengan kedua orang tuanya.
“Baiklah nak, sediikit cerita, kami mama dan papa Azkia memang sudah bersahabat dengan kedua orang tuamu dulu saat kami masih muda, bahkan sampai kami menikah pun masih menjadi sahabat. Saya juga menjadi pengacara keluarga yang ditunjuk oleh papa kamu untuk menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi baik dalam urusan bisnis maupun persoalan yang menimpa dalam rumah tangga” papa Azkia menjeda ucapannya.
“Hingga akhirnya kamu dan Azkia lahir ke dunia dan kami sepakat untuk menjodohkan kalian agar keluarga papa kamu dan kelurga kami Bersatu agar kami punya kekuatan penuh untuk menghadapi berbagai ancaman musuh dari manapun”
__ADS_1
Papa Azkia terkekeh ternyata dunia memang sempit, belum juga kesepakatan itu tertulis di atas hitam dan putih ternyata takdir berkata lain hingga memisahkan Daffa dengan Azkia.
“Saya bersyukur bisa menemukan kamu lewat Bagas, padahal saya sudah menyuruh orang-orang untuk mencarimu sedari kecil sampai dewasa seperti ini” papa Azkia mengusap sudut matanya yang berembun, rasa sedih berpuluh tahun akhirnya terbayar sudah dengan kehadiran Daffa di depannya.
“Om terima kasih sudah perhatian sama saya” ucap Daffa sambil menoleh Azkia yang duduk di sebelahnya tetapi hanya diam menyimak pembicaraan saja.
“Tidak usah berterima kasih nak, itu sudah kewajiban saya untuk memperhatikanmu dan juga melindungimu, maaf jika saya terlambat menemukanmu dan tidak bisa melindungimu saat kecil dulu” papa Azkia menggenggam tangan Daffa, rasa bersalahnya tidak bisa terhapus begitu saja walaupun sudah menemukan Daffa dalam keadaan baik-baik saja.
Suasana haru dan bercampur Bahagia, ingin sekali papa Azkia membangun kebahagiaa itu agar bisa bertahan selamanya dan akan menyatukan kedua anak muda itu dalam ikatan yang sah dimata agama dan juga hukum.
@@@
Lea pulang ke rumah setelah beberapa hari yang lalu pergi mencari dimana keberadaan ayah si jabang bayinya, tapi justru lelaki yang ditemuinya meninggalkannya begitu saja.
Jebakan untuk lelaki lain juga sudah didapatkan tapia pa lelaki itu juga melarikan dirinya ke luar negeri karena merasa sama sekali tidak menghamili Lea.
Satpam yang melihat kelakuan anak majikannya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja, ingin menegur tapi takut kena dampratnya, tidak menegur kok sangat tidak pantas anak gadis teriak-teriak seperti orang g*l*.
“Kalian, kalian jangan melihat gue seperti itu! Apa kalian mau dipecat mama dan papa?!” tanya Lea tapi sarat dengan ancaman.
Satpam itu langsung mundur dan menutup pintu gerbang kembalil, akan sangat apes jika berhadapan dengan anak majikan yang tidak berakhlaq.
Lea terus saja berjalan sampai ke dalam rumah, penampilannya yang berantakan dan membuat siapapun lelaki akan ilfeel dengan penampilan sekaligus kelakuannya yang minus.
“Hai b*b*! cepat kemari!” Lea masih saja teriak-teriak seperti orang gila.
Semua pembantu di rumah ini memang sudah mengundurkan dirinya, hanya ada Emir, Dhiva, Daffa dan juga Bagas yang masih bertahan untuk menyelesaikan sebuah misi yang harus dituntaskan di dalam rumah misteri peninggalan papa Angga.
Tap tap tap
__ADS_1
Bagas berlari-lari kecil menghampiri Lea yang tergeletak di ruang tamu, tubuhnya yang ada aroma alkoholnya membuat perut Bagas mual-mual karena seumur hidupnya Bagas tidak pernah menyentuh yang Namanya minuman haram itu.
Lea yang dari tadi teriak-teriak bak orang g*l* kini menjadi melunak karena melihat wajah Bagas yang memang tampan dan sangat saying jika dilewatkan bagi Lea.
“Hai ganteng, bisa bantu aku ke kamarku?” tanya Lea dengan gaya centilnya dan berubah lembut seperti tepung terigu yang halus.
Tanpa ada keinginan untuk berbicara Bagas langsung menyambar tubuh Lea dan menutup hidungnya dengan satu tangannya karena tidak tahan dengan bau itu.
Bagas mengikuti kemana arah sesuai dengan yang ditunjuk Lea, sepertinya Lea melupakan jika Bagas yang mengantarkan Lea untuk mencari lelaki yang sudah menitipkan benih dirahimnya.
Cklek
Brakk
Setelah membuka pintu Lea membanting pintu hingga menimbulkan suara cukup keras.
Tak butuh waktu lama Bagas membawa Lea ke kamar mandi dan memasukkan Lea ke dalam bathup dan merendam tubuh Lea agar lebih segar dan tidak bicara ngelantur.
Di dalam kamar mandi hanya tinggal Lea yang masih berendam dengan menggunakan cairan sabun aromatherapy yang cukup membuatnya rileks dan pasti akan segera sadar dari pengaruh alcohol.
Tetapi apa yang terjadi? Air dalam bathup yang semula berwarna putih dengan buih sabun yang melimpah tiba-tiba berubah menjadi merah seperti darah.
“Aaa………………….” Teriak Lea yang ketakutan dengan perubahan warna air.
“Ti-tidak mungkin!”
“To-tolong ada da-darah……….” Teriak Lea tetapi percuma karena tidak ada yang mendengarnya sama sekali.
“Am-ampun jangan gang-ganggu aku! Ak-aku tidak tahu apa-apa, jika kamu ingin balas dendam kamu balas saja dendammu itu pada orang tuaku aja…..hiks…..hiks….hiks……..” akhirnya suara Lea merendah, dia sudah sangat ketakutan dan menangis terisak sendirian di dalam toilet.
__ADS_1