
“Bu, gimana kondisi Dhiva?” tanya Emir saat Bu Marni sudah keluar dari ruangan ICU dan duduk di samping Emir.
“Belum sadar nak, semoga cepat dapat keajaiban dari Allah” tes, tak terasa air mata Bu Marni menetes dipipi yang sudah mulai terlihat garis kerutannya walaupun masih samar.
Emir menyodorkan sebotol air mineral dan roti tawar yang sudah terolesi selai kacang.
“Makasih nak Emir. Kamu baik sekali sama kami, Dhiva sangat beruntung mendapatkan kekasih seperti kamu, apalagi jika kalian sampai ke pelaminan pasti ibu sangat bangga padamu. Kamu belum tau gimana kisah Daffa dan Dhiva yang sangat memilukan sebelumnya” ucap Bu Marni yang pikirannya menerawang jauh membayangkan masa lalu Daffa dan adiknya.
“Maksudnya gimana bu? Saya belum paham”
Bu Marni tersenyum miris jika mengingat perjuangannya membawa Daffa dan Dhiva agar selamat dari para pembunuh yang mengincar mereka.
Flashback on
“Sayank, bayi kita perempuan”
“Aku seneng banget mas, akhirnya Daffa punya adik cewek, mereka pelengkap hidupku mas” ucap ibu muda itu dengan mata berbinar. Walaupun kelelahan karena melahirkan anak kedua mereka tapi lelahnya itu mambawa kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
“Kamu kasih nama siapa mas?” tanyanya lagi pada suaminya, lelaki yang baik pasti akan mendapatkan Wanita yang baik-baik pula, demikian juga papa dan mama Daffa.
“Dhiva, Dhiva Puspita. Nama yang cantik kan sayank?” tanyanya balik.
“Sayang maafin mas ya besok harus pergi keluar kota” ucap Angga bersedih, papa Daffa dan Dhiva mempunyai nama Angga Bimantara, pewaris Bimantara Corp walaupun usianya masih sangat muda tapi berhasil mengembangkan Bimantara Corp sampai ke berbagai luar kota. Wajah yang sangat tampan banyak membuat hati Wanita patah hati saat tahu Angga mendadak nikah dengan kekasihnya yang sudah dipacarinya selama satu tahun, dan berhasil membuat Mama Sherly Christina menjadi mu’allaf.
“Nggak pa-pa mas, yang penting hati-hati dan jaga Kesehatan”
“Tapi sayank, rasanya mas nggak bisa nglepasin kamu disini sendirian” papa Angga memeluk mama Sherly erat seolah enggan meninggalkannya esok hari.
Sherly Christina, Wanita muda yang cantik yang berdarah asia timur. Wanita berpendidikan tinggi dan lembut hatinya dipersunting seorang pemuda yang tampan, mapan dan baik hati. Mungkin sudah ketentuan dari Yang Maha Esa akhirnya Sherly memutuskan menjadi mu’allaf karena sangat mencintai Angga Bimantara.
“Nggak pa-pa mas, kan ada mbak-mbak, ingat nggak sama mbak Marni? Dan juga kak Eren”
“Tapi mas tetep nggak rela yank, umpama bisa diwakili pasti mas akan lebih milih bersamamu yank’ ucapnya lagi.
__ADS_1
Akhirnya papa Angga bisa tertidur juga walaupun posisi tidurnya sambil duduk disamping istrinya, karena jika tidur disamping mama sherly kan kasihan abis lahiran.
&&&
Di kediaman kakek Bimantara.
“Bang, aku dengar Angga besok akan keluar kota” ujar Wanita itu yang masih bemalas-malasan diranjang dengan suaminya.
“Benarkah? Abang punya rencana agar cepat bisa nguasai harta Angga” lelaki itu tersenyum miring, dia serasa punya angin segar untuk Menyusun rencana yang sangat matang.
“Apa rencanamu bang?” tanya sang istri.
Sang suami membisikkan sesuatu ke telinga sang istri, hingga membuat mereka tertawa terbahak—bahak, bahkan saking girangnya mereka nggak kerasa sampai pipis di celana. Jorok banget kan!
“Eren, adik kamu Sherly udah lahiran kan? Kamu nggak jenguk dia?”
“Males bang, biarin dia ngerasa kayak hidup sendirian didunia ini!” keliatan sewot banget si Eren yang ogah-ogahan ngeliat adiknya, udah numpang belagu!
“Salah siapa dari kecil mami selalu muji-muji Sherly terus dan mengabaikan aku sebagai kakaknya Sherly. Jika aku sudah merebut apa yang dipunyai Sherly pasti aku akan tertawa sepusanya” lanjutnya lagi.
“Termasuk merebut semua harta Sherly?” tanya Eren mengerling nakal.
“Oke sayank. Ayo bikin adik buat Irene dan Dion”
Baru mereka akan memulai pemansan tapi sudah diketuk pintunya dari luar, tok tok tok……..
Cklek
“Papa Aldo dan mama Eren lagi ngapain sih kok nggak keluar-keluar kamar?” tanya Dion yang lebih muda satu tahun usianya dari Irene.
“Mau bikin dedek bayi”
Plakk
__ADS_1
Mama Eren menabok lengan suaminya yang bicara ngawur didepan anak-anaknya.
&&&
Bibik Marni gusar sekali, percakapan mama Eren kakak dari mama Sherly sangat mengganggu pikirannya, mereka seperti merencanakan sesuatu yang akan mencelakakan keluarga bosnya, khususnya papa Angga dan mama Sherly.
Apakah aku kasih tau aja ya tuan Angga dan Nyonya Sherly? Kasihan dengan bayi-bayi mereka’ gumam bibik Marni yang sudah berdenyut kepalanya memikirkan nasib majikannya.
Bibik Marni bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan istri dari majikannya yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
“Tuan muda pengen nggak ketemu adiknya?” tanya Bu Marni yang masih menggandeng tangan Daffa sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit’
“Ehm”Jawab Daffa yang masih berusia satu tahun, anak ganteng itupun tak mau melepaskan gandengannya dari tangan pengasuhnya itu walaupun masih belajar jalan sambil tertatih.
Saat sampai di kamar VIP tempat mama Sherly masih berbaring lemah, dan disampingnya sudah ada bayi mungil cantik, bibik Marni semakin tidak tega membiarkan kedua bocah malang itu jadi korban selanjutnya.
Flashback off
“Apaan sih ceritanya kok cuman sampai situ bu? Aku nggak nyangka banget jika kak Daffa dan Dhiva adalah putri kandung seorang pebisnis kondang tuan Angga Bimantara”
“Nak Emir mau lagi nggak dengar ceritanya?” tanya Bu Marni sambil mengunyah rotinya lumayan untuk pengganjal perut.
“Ya dong bu, kan Dhiva yang masih orok itu kok bisa segede ini apalagi sama Bu Marni hidupnya, wah apakah Bu Marni yang menculik mereka?” tuduh Emir sambil cengar-cengir.
“Enak aja nak Emir nuduh ibu sebagai penculik” bu Marni menghirup nafas dalam-dalam, “Saat itu tuan Aldo dan nyonya Eren akan membuang Daffa dan Dhiva ke laut, tapi sudah ibu bawa kabur duluan. Kami bersembunyi di suatu kontrakan selama satu bulan, dan setelah itu nyonya Sherly tidak ada kabar sama sekali, lalu ibu membawa Daffa dan Dhiva pulang ke kampung ibu”
“Apa yang terjadi pada om Angga dan tante Sherly?”
“Ibu nggak tau nak. Ibu juga sangat sedih, jika mengingat Daffa dan Dhiva merengek-rengek minta ibu dipanggil sebagai ibu, karena semula tuan muda Daffa memanggil ibu ini bibik”
Emir melihat kedua mata Bu Marni sudah berembun, mungkin sebentar lagi hujannya kan turun dengan derasnya.
“Bahkan mereka juga disebut anak haram oleh para tetangga ibu, karena pada saat itu kondisi ibu yang janda puang membawa dua anak berumur satu tahun lebih dan bayi berusia dua bulan”
__ADS_1
“Dan juga mereka selalu mendapatkan………………….hiks……..hiks…….hiks………” Bu Marni tidak mampu berkata-kata lagi jika mengingat penderitaannya merawat Daffa dan Dhiva.