MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
firasat buruk


__ADS_3

Hari ini Dhiva mendengar percakapan om dan tantenya jika akan menghadiri acara yang penting, hingga kedua anak gadisnya diikutsertakan, katanya agar menarik pria-pria kaya yang mau menjadi menantunya.


Tapi tidak dengan Dion, anak tertunya Eren yang emang nggak diajak maklumlah sebagai cowok yang nggak lagi dibutuhin saat ini terpaksa harus tinggal di rumah dengan para pembantu.


Cklek


Dion membuka kenop pintu kamarnya dengan bertelanjang dada, maklum hari ini sudah gerah aja padahal bagi orang-orang yang lain pasti ngerasa dingin banget.


Ika yang baru saja keluar dari dapur tertegun saat matanya bertemu pandang dengan Dion, putra majikannya. Dion termasuk priia tampan, bodynya yang atletis pasti sangat menarik kaum hawa. Ditambah lagi dengan perutnya yang kotak-kotak juga membuat setiap Wanita ingin juga mengelus-elus perut kotaknya si Dion.


Dion yang terlanjur melihat Ika berdiri tak jauh darinya dengan seketika mendekati Ika lalu meraih dagu Ika seraya ingin melihat wajah Ika yang menurutnya sedikit manis dan enak dilihat oleh mata.


“Maaf tuan muda, sa-saya kembali ke kamar dulu” pamit Ika masih juga terus menunduk.


“Tunggu” Dion mencekal tangan Ika sehingga Ika yang memang dasarnya sudah takut dengan Dion memilih diam tidak berani berontak.


Dion sebenarnya cukup tampan, macho dan postur tubuhnya cukup atletis karena dia memang selalu rajin fitness agar bentuk tubuhnya menjadi proporsional. Tapi ketampanannya Dion justru kalah dengan kegarangannya saat terlihat oleh Wanita yang ada didekatnya, begitu juga dengan Ika.


“Lo harus melayani gue!” bisik Dion yang setengah membentak di telinga kiri Ika.


“Mak-maksud tuan muda apa?” tanya Ika tergagap dan masih menundukkan kepalanya.


“Lo jangan berlagak pilon g*bl*k! Ya tentu lo harus jadi partner gue di ranjang malam ini!” bentak Dion lagi tapi kali ini agak keras suaranya.


“Ja-jangan tu-tuan muda” pinta Ika sambil menarik tangannya yang dalam genggaman sang majikan mudanya itu.


“Ha…ha…ha…..apa lo malu karena takut dilihat orang yang akan ke dapur?”


“Benar tuan muda, tolong lepasin saya……hiks………..hiks………….” Ika sedikit terisak, genggaman tangan Dion yang sangat erat hingga membuat kulit tangan Ika yang kuning langsat tampak kemerahan.


Krakkk


Dion menarik krah baju dinasnya sebagai pembantu hingga robek dan dua kancing bagian atas lepas dan menggelinding entah kemana, Dion mengerling nakal melihat dua gundukan

__ADS_1


Ang masih segenggenggaman tangan itu masih original dan belum pernah terjamah sama sekali.


Seketika itu juga Ika menutupi dadanya yang sedikit kelihatan dengan tangan kanannya, Ika semakin menundukkan kepalanya, sungguh sangat berdosa membiarkan lelaki yang bukan mahramnya memandang barang berharganya terekspos dan dinikmati mata liar dan nakal.


“Wow punya lo sepertinya nikmat dan original, tidak seperti punyaknya gadis yang sering gue kencani selama ini” puji Dion yang tersenyum nakal.


‘Apa dia bilang selalu kencan dengan gadis lain? Aku harus bisa lepas dari predator kelamin ini, jika aku jadi mangsanya bisa hancur masa depanku’ batin Ika.


“Sini manis, ayo kita buat kehangatan pagi ini” ucap Dion yang mendekat ke arah Ika karena saat tadi Dion lengah, Ika langsung memundurkan tubuhnya di dekat tembok.


Setelah sampai tepat di depan Ika, Dion tak segan lagi menarik baju atasan Ika hingga satu lagi kancing baju itu jatuh entah kemana lagi.


“Ja-jangan tu-tuan muda, ingat tuan saya ini hanya pembantu tuan muda disini” pinta Ika yang masih tertunduk tapi kalini deraian air mat aitu sungguh tak bisa ditahan lagi.


“Lo lebih suci ketimbang gadis-gadis yang menari-nari di depan gue!” Dion meraih pinggang Ika lalu merengkuh tubuh Ika hingga tak telihat tubuh Ika dalam rengkuhan lelaki garang itu.


Ika mendorong dada Dion dengan sekuat tenaga, “Tuan muda lepas………….!” Teriak Ika dengan kencangnya hingga suaranya terdengar sampai di telinga Dhiva.


“Dengar gadis t*l*l tak tau diuntung! Lo itu harus bersyukur gue ajak tidur, banyak gadis diluaran sana yang minta gue tidurin” Hardik Dion dan matanya menatap nyalang Ika.


Dhiva mencari isakan tangis yang lirih itu ternyata suaranya terdengar di dalam ruang tengah, dengan gesit sampai juga di tempat Ika dan Dion berada.


Hati Dhiva sangat sakit melihat adegan Dion yang memaksa Ika, dion memberi kissmark di leher Ika walaupun Ika sudah berontak tapi tenaga Dion yang sangat kuat itu membuat Ika akhirnya pasrah.


“Hentikan!” Hardik Dhiva.


Ika dan Dion mencari sumber suara tersebut dan ternyata ada gadis jelek yang mencoba menolong Ika, pikir Dion.


“Lo berani ngelawan gua! Pembantu sialan! Wajah buruk lo itu membuat gue jadi jijik! Pergi lo!” bentak Dion tapi Dhiva semakin mendekat.


“Jika tuan muda tidak ngelepasin Ika, saya akan mendekat lagi pada tuan muda” ujar Dhiva santai sambil terus melangkah mendekati Dion.


“Hi………………..jangan dekat-dekat dengan gue!” Dion mundur dan bergidik ngelihat wajah palsunya Dhiva.

__ADS_1


Dhiva tersenyum lebar akhirnya si penjahat kelamin sudah Kembali ke kamar, ‘Ada manfaatnya juga dengan menyamar menjadi gadis jelek’ gumam Dhiva.


“Ipah awas!” peringat Ika.


Brughh


Dhiva jatuh tersungkur saat tubuhnya ditendang Dion dari belakang hingga membentur meja dan mencederai kepalanya hingga pingsan.


“Ipah bangun Pah………..” ucap Ika sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dhiva namun masih tergolek pingsan di lantai.


“Ipah………….hiks…………….hiks……………”


&&&


Usai kuliah, Emir langsung mampir ke kantor papanya, di ruang kerjanya yang cuma diisi Emir seorang membuatnya bebas bersekspresi untu meluapkan rasa rindunya jika sangat merindukan gadis cantik yang selalu memenuhi ruang dihatinya itu.


Pyarrrrrrrr


Tak ada angin tak ada hujan, foto Dhiva yang dipajang di figura kecil yang ditaruh di atas meja kerjanya jatuh dan pecah berhamburan di lantai.


Emir seperti orang yang syok melihat foto Dhiva yang jatuh di lantai, ‘Ke-kenapa ini? Apa yang terjadi pada Dhiva?’


Seketika firasat Emir menjadi tidak enak, bayangan Dhiva yang sedang disiksa oleh kelaurganya di rumahnya sendiri sangat jelas tergambar dibenak Emir.


‘Tidak, tidak mungkin Dhiva akan mendapat perlakuan buruk seperti itu!’ gumam Emir.


‘Tapi jika benar mereka kejam pada Dhiva maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mereka satu persatu!’ gerutunya.


Emir mengambil foto Dhiva yang tanpa figura itu, diciumnya foto Dhiva lalu diletakkan didadanya, sungguh Emir sangat mencintai Dhiva dengan segenap jiwa raganya.


‘Kamu baik-baik saja kan sayank? Kamu nggak kenapa-napa kan?’ tanya Emir pada foto Dhiva.


Cklek

__ADS_1


Papa Haruga yang mendengar ada barang yang jatuh diruangan Emir segera masuk ke ruangan itu, papa Haruga sangat mengkhawatirkan kondisi sang putra, karena mereka berkumpul lagi juga baru beberapa minggu ini.


“Emir, kamu nggak kenapa-napa nak?” tanya papa Haruga lalu duduk disamping Emir.


__ADS_2