MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Nikah?


__ADS_3

TEROR BERDARAH


Udara malam ini terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang, padahal ini bukan musim penghujan, seharusnya jika musim kemarau udara terasa panas bukan malah sebaliknya.


“Ma, kenapa malam ini dingin sekali ya ma” tanya Aldo lalu duduk di samping Eren ditepi ranjang.


“Iya pa, tengkuk mama ini kok serasa ditiup angin hingga bulu kuduk mama berdiri semua nih pa” tunjuk Eren sambil memperlihatkan bulu-bulu halus di kulit tangannya yang berdiri.


“Rasanya aneh aja ma, kayak akan ada penampakan ma” ujar Aldo sambil memindai sekeliling ruangan.


Eren menggeleng tidak menyetujui perkataan suaminya. Eren memang tidak terlalu percaya hal mistis, apalagi dia terlahir dalam lingkungan keluarga modern seperti Sherly, mamanya Dhiva dan Daffa.


“Ereeeeennnnnnn………….” Bisik suara perempuan yang memanggil nama Eren di telinga kirinya. Bisikan yang amat dingin seperti hembusan AC yang suhunya paling rendah.


Eren menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak ada orang lain selain dia dan juga Aldo.


“Ma ada apa?” tanya Aldo sambil memegang bahu sang istri.


“Pa seperti ada yang memanggil mama, papa dengar enggak?” tanya Eren.


“Mama paling salah dengar kan? Daritadi nggak ada yang manggil-manggil mama kok” ujar Aldo meyakinkan.


“Sebentar pa, papa diam aja dulu, mama akan pasang telinga dengan baik dan juga pasang rekaman ponsel agar papa percaya jika mama tidak salah dengar” Eren mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi perekam suara untuk merekam suara yang sejak tadi mengusik pendengaran Eren.


“Ereeeeennnnnnn…………………..tunggu pembalasanku……….” Suara bisikan itu terdengar agak lebih keras dari yang tadi. Walaupun Ere nada Bersama di dalam kamar tapi saat hawanya kian dingin dan menusuk hingga ke tulang.


“Pa……” panggil Eren tubuhnya sudah menggigil dan gemetaran.


Aldo terkekeh melihat ekspresi dan Gerakan tubuh sang istri yang agak aneh menurutnya.


“Papa kok ngetawain mama” sungut Eren tak terima.


“Mama ini lucu banget sih, biasanya juga nggak pernah percaya hal-hal ghaib. Bener-bener bukan mama deh kayaknya” ledek Aldo.


Baru saja Eren akan mencubit lengan suaminya tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara seperti kantong kresek yang dilempar dari jarak cukup jauh.


“Papa, papa dengar sesuatu yang dilempar?” tanya Eren yang ingin memastikan suaminya juga mendengar sesuatu yang dia dengar.

__ADS_1


Aldo menggelengkan kepalanya, Eren yang penasaran mencari sesuatu yang yang terdengar seperti barang dilempar itu di sudut-sudut kamarnya.


Eren menutup mulutnya dengan kedua tangannya Ketika melihat bungkusan kantong kresek warna hitam ada di bawah meja riasnya, setahu dia di bawah meja rias tadi tidak ada apa-apa apalagi barang yang mencurigakan.


‘Ap-apa itu?’ gumam Eren lalu meraih kantong kresek dengan ujung jarinya.


“Papa lihat ini pa……………” Eren mendekati suaminya sambil menjinjing kantong kresek lalu diserahkan pada suaminya.


Aldo yang tidak menaruh rasa curiga sedikitpun langsung membuka tali kantong kresek, dimata Aldo kantong kresek itu hanya ada boneka mainan yang sama sekali tidak bergerak karena memang hanya boneka mati.


Tapi lain lagi dimata Eren, boneka itu justru tersenyum dan tertawa lebar makin lebar hampir sobek mulut boneka tersebut dan mata boneka itu melotot seolah biji mat aitu keluar dari tempatnya.


“Pa-papa…………ma-mama ta-takut pa………….” Eren memeluk lengan suaminya sambil memejamkan matanya karena ketakutan.


“Takut apaan ma?” tanya Aldo keheranan.


Eren menunjuk boneka sambil terus memejamkan matanya, dia memang phobia boneka yang didalamnya ada jin ataupun setan yang mendiami boneka sehingga boneka itu dapat bergerak dan bahkan bisa berbicara.


“Jangan lebay deh ma, ini Cuma boneka yang hanya diam. Tentu boneka ini tidak akan menakutkan bagi mama” Aldo mendekatkan boneka pada Eren yang belum mau membuka matanya.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………………” Eren lari terbirit-birit keluar dari kamarnya.


&&&


Hari ini Dhiva mendapat giliran lagi ke pasar untuk membeli bahan makan yang diperlukan untuk satu minggu ke depan.


Dengan berbekal uang tiga juta tentu Dhiva akan belanja sesuai yang diperintahkan bik Sumi agar tidak melebihi budget yang telah dipersiapkan sang majikan.


Setelah keluar dari gerbang rumah mewah tersebut Dhiva berjalan sedikit ke pinggir jalan raya agar bisa menghentikan taksi untuk dia tumpangi.


Hap


Seseorang tiba-tiba membekap mulut Dhiva dari belakang dan mengunci tubuh Dhiva agar tidak bisa menoleh ke belakang.


Brakk


Dhiva dipaksa masuk mobil dan disebelahnya sudah duduk seorang lelaki yang memakai topi dengan kepala menoleh ke samping sehingga Dhiva tidak sempat melihat wajahnya.

__ADS_1


“Kamu siapa?” tanya Dhiva lantang.


Pertanyaan Dhiva hanya diacuhkan oleh cowok tersebut, hal itu tentunya membuat Dhiva menjadi naik pitam, sudah diculik dan sekarang dipaksa duduk dengan seseorang yang tidak dikenal apalagi satu mobil.


Satu


Dua


Tiga


Dhiva berhitung dalam hati dan berharap cowok itu akan menoleh ke arahnya setelah hitungan ketiga dalam hatinya.


Benar sekali jika cowok itu menoleh saat hitungan ketiga dalam hatinya Dhiva.


“Haaaa…..” Dhiva menutup mulutnya karena ini adalah surprise yang sangat ditunggunya beberapa minggu tidak ketemu.


Grep


Cowok itu memeluk erat tubuh Dhiva dan makin erat karena cowok itu sungguh sangat merindukan sosok gadis pujaannya itu.


“Emir…………hiks…………hiks…………..hiks…………….” Dhiva terisak dalam pelukan tunangannya, sungguh momen ini yang paling dinantikan berjumpa dengan sang tunangan untuk melepaskan rindu yang membuncah di dalam dada.


“Sayank, menangislah jika dengan menangis dapat mengurangi beban yang kamu rasakan selama terpisah denganku” Emir membelai rambut Dhiva yang dikuncir kuda.


Emir dengan sabar menunggui Dhiva sampai selesai menangis menumpahkan kesedihannya, walaupun Dhiva berada satu atap dengan kakaknya tapi mereka tidak leluasa untuk saling curhat karena dibatasi dengan adanya CCTV.


“Emir” panggil Dhiva lirih sambil menyeka sisa air matanya.


Emir memandang wajah cantik Dhiva yang tertutup oleh tompel yang tebal, tapi Emir juga sangat senang dengan penyamaran yang dilakukan oleh Dhiva akan memperkecil tunangannya itu dilirik oleh lelaki lain.


“Kamu boleh curhat sayank, ceritakan apapun yang mengganjal di dalam hati kamu”


Dhiva tersenyum manis, senyum yang selalu Emir rindukan saat berjauhan dengan sang tunangan.


“Emir, kadang aku lelah ingin mengakhiri penyamaranku tapi misiku belum terlaksana” ujar Dhiva menerawang jauh. “Kasihan kak Daffa, di rumah itu adalah hak kak Daffa yang dirampas paksa oleh om dan tanteku, jika aku mundur bagaimana dengan masa peninggalan mama dan papa? Pasti mereka akan menangis jika hartanya hanya digunakan dalam jalan yang salah oleh orang yang jahat” lanjut Dhiva lagi.


Emir menggenggam kedua tangan tunangannya, “Sayank apapun keputusanmu pasti aku akan mendukungmu. Bagaimana jika kita menikah dulu?”

__ADS_1


__ADS_2