MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
jualan gado-gado


__ADS_3

Dhiva mengangguk, ia akui memang sejak pertama satu kelas saat SMP dan satu sekolah saat SMA Dhiva pernah punya perasaan yang berbeda jika berdekatan dengan Emir, tapi tentu saja tidak akan menembak duluan. Kadang Dhiva juga bingung dengan perasaannnya sendiri kala itu, apalagi sekarang hanya duduk berduaan dengan Emir, tentu saja akan membuat jantungnya semakin berlompatan kesana kemari.


“Dhiva, aku-aku sangat…………………..” Emir terdiam bibirnya terasa kelu, tentu saja mengatakan sesuatu yang dinamakan cinta pasti sangat membutuhkan nyali yang sangat besar.


“Mau ngomong apa Mir?” Dhiva mencoba menormalkan detak jantungnya.


“Eh itu” Emir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku-aku disuruh papa pulang ke kota” Emir merasa canggung dan bingung memulai darimana.


“Kapan?”


“Kenapa kamu tidak sedih mendengar bahwa aku akan pulang ke kota dan tidak Kembali ke des aini lagi. Ka-kamu seneng ya kalau kita nggak bisa ketemu lagi?”


Dhiva menggeleng cepat, ada hubungan apa kalau dia mencegah Emir untuk pulang ke rumah orang tuanya?


“Kalau kamu nggak seneng aku Kembali ke kota kenapa kamu terkesan cuek denganku?” Emir menelisik manik mata Dhiva. Mata sipit dan mulut mungil itu bila senyum akan sangat ia rindukan.


“Bukan itu Mir, kita hanya sahabat aja mana mungkin aku mencegah kamu pulang ke rumah orang tuamu? Aku nggak ada hak untuk melakukan itu padamu”


Emir tersenyum kecut mendengar kata ‘sahabat’ dari mulut mungil Dhiva.


“Umpama lebih dari sahabat gimana?”


Dhiva menyipitkan matanya, sudah sipit malah tidak kelihatan lagi iris matanya.


Untuk pertama kalinya Emir memberanikan menggenggam kedua tangan Dhiva, ia tahu resiko jika berani menajdi pacar Dhiva pasti akan berhadapan dengan kakaknya yang protektif itu.


“Aku sangat mencintaimu sejak pertama kita ketemu saat SMP dulu, hingga sekarang pun rasa cinta itu selalu ada dalam hati ini Dhiv, bahkan semakin besar Dhiv” Emir memegang dadanya sebelah kiri.


Dhiva melongo tak percaya ucapan Emir yang terkesan mendadak, padahal kode cinta itu sudah lama Emir tunjukkan pada Dhiva, mungkin Dhiva yang takut menyadarinya ataukah bagaimana?


Emir mengeluarkan kotak perhiasan kecil, saat dibukanya ada sebuah kalung berlian yang sangat indah.


“Dhiv, jika kamu juga cinta sama aku, tolong terimalah kalung ini sebagai tanda pengikat diantara kita. Ini peninggalan almarhumah mama aku, jika aku menemukan seorang gadis yang bisa membuatku terikat mencintainya selamanya maka kalung berlian ini adalah hak untuk dimiliki gadis tersebut” ucap Emir Panjang lebar.


“Dan gadis yang kupilih karena aku mencintainya adalah kamu Dhiv”


Dhiva mengangguk, ia terharu ternyata cinta yang dipendamnya itu kini bersambut, lalu Emir memakaikan kalung berlian tersebut di leher Dhiva. Dhiva terlihat cantik sekali, darah konglomerat yang mengalir dalam dirinya semakin menambah kesan elegan padanya.


“Setelah kuliahku selesai dan aku sudah jadi pemimpin perusahaan aku janji aku akan melamarmu untuk jadi istriku”


Emir memeluk Dhiva erat, kini gadis mungil itu sudah jadi kekasih hati yang diikatnya, dan janji Emir yang tak akan melepaskan Dhiva walau apapun yang terjadi.

__ADS_1


“Ekhem-ekhem” suara deheman Daffa membuat Emir langsung memundurkan tubuhnya, ia lupa jika ada bodyguard pribadinya Dhiva yang super protektif itu selalu menjaga keamanan Dhiva dimanapun berada.


“Kamu belum halal sama adekku ya udah berani peluk-peluk aja. Geser dikit, aku yang ditengah” Daffa duduk di tengah diantara Dhiva dan Emir, melindungi Dhiva adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dimanapun berada.


Daffa melirik adiknya yang memakai kalung baru yang pasti pemberian dari Emir, ‘apa mungkin Emir melamar Dhiva?’ batin Daffa tapi tak mampu terucap takut menyinggung hati adik satu-satunya.


“Kak aku pamit, aku akan pulang ke kota. Aku disuruh pulang sama papa, dan aku nggak bisa menolak”


Daffa mengamati wajah Emir, benar sekali raut wajah Emir Nampak sendu bahkan mungkin jika disuruh menangis saat ini juga pasti Emir akan menumpahkan kesedihannya.


“Aku titip Dhiva ya kak. Jagakan dia untukku…”


&&&


Selepas kepergian Emir, Dhiva menangis sejadinya di dalam kamar. Baginya dengan menumpahkan kesedihan lewat tangisan, kesedihan itu sendiri pasti akan berkurang. Baru saja menjalin cinta tapi sudah ditinggal pulang ke kota. Sungguh jarak yang memisahkan membuat hatinya makin sedih jika memikirkannya.


Cklek


Bu Marni membuka pintu kamar Dhiva, Bu Marni mendapati putri bungsunya yang masih terisak bahkan matanya terlihat sembab. Sungguh Bu Marni tak tega melihat semua itu tapi apa daya, dia tidak punya kekuatan untuk menyatukan dua anak manusia itu.


Sebenarnya menikah muda di desa Bu Marni itu sudah lumrah, bahkan kalau umurnya sudah lebih dari dua puluh tahun jika belum mendapatkan pasangan pasti akan jadi gunjingan warga karena tidak laku-laku.


“Anak cantik, anak cantik kalau kebanyakan nangis nanti luntur lo cantiknya. Gimana kalau nanti Emir kesini mendapati wajah putri ibu yang berubah kan repot jadinya, pasti Emir nggak akan ngenalin wajah kamu” goda Bu Marni yang membuat Dhiva mendongak dan menghapus air matanya.


Dhiva tersenyum tipis, ia juga nggak mau kalau sampai ibunya pun ikut sedih memikirkan dirinya.


“Siap-siap yok bantuin ibu dagang dengan kakak kamu, pengen ngilangin suntuk nggak?”


Dhiva menganggukkan kepalanya, ia menguncir rambut lalu menyapu wajahnya dengan bedak bayi untuk menghilangkan jejak air mata yang belum mengering dimatanya.


Setelah menempuh perjalanan yang hanya sepuluh menit lebih akhirnya mereka sampai dipangkalan biasa tempat menjual gado-gadonya.


Dhiva dan Daffa membantu menata dagangan ibunya, sedangkan ibunya hanya duduk-duduk diam ditempat itupun atas saran kedua anaknya.


“Beli gado-gadonya dua dong” ucap seorang gadis yang mukanya tebal karena kosmetik dan juga bulu mata palsu.


Kebetulan yang akan melayani pembeli adalah Daffa mau tak mau ya tetap harus melayani dan nggak bisa menghindar sama sekali.


“Mas kok diem aja sih? Tapi kalau diem tambah super ganteng sih” pembeli wanita itu terus berceloteh tapi tak digubris sama sekali oleh Daffa.


“Ini mbak makasih sudah membeki gado-gado saya. Semoga mbak puas menikmati gado-gado tersebut” Daffa menyerahkan satu kantong kresek pada pembeli wanita itu dan berharap agar pergi dan tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Datang lagi gerombolan ibu-ibu dari pengajian yang sengaja berhenti untuk membeli gado-gadonya Bu Marni. Biarpun mereka dari pengajian tapi dasar tukang julid pasti ada saja bahan yang akan diomongkan.


“Eh ibu-ibu saya akan beli gado-gado dulu untuk putri saya” ucap salah seorang ibu-ibu yang sudah memesan ikut beli gado-gado.


“Saya juga bu, saya akan membelikan gado-gado untuk anak lelaki saya di rumah” seorang ibu-ibu ikut menimpali.


“Bu Marni sini dong ikut bantu bungkusin gado-gado daripada bengong nggak bantuin anaknya” ujar seorang ibu-ibu yang ikut-ikutan julid, seenggaknya yang julid itu satu saja eh tenyata malah semakin banyak


Ternyata banyak orang yang juid dengan Bu Marni, bukan karena kecantika dirinya juga bukan karena hartanya karena Bu Marni hidupnya pun pas-pasan. Tapi kejulidan mereka karen Bu Marni dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan seorang putri yang sangat cantik, entah ngidam apa Bu Marni sampai punya anak begitu.


“Bu Marni itu di kota jadi selingkuhan juragannya sendiri ya? Itu anak Bu Marni kok glowing-glowing amat ya anak-anaknya?” kali ini sungguh pedas ucapan tersebut tapi Bu Marni enggan untuk meladeninya.


Dhiva tersenyum tipis, ia juga nggak mau kalau sampai ibunya pun ikut sedih memikirkan dirinya.


“Siap-siap yok bantuin ibu dagang dengan kakak kamu, pengen ngilangin suntuk nggak?”


Dhiva menganggukkan kepalanya, ia menguncir rambut lalu menyapu wajahnya dengan bedak bayi untuk menghilangkan jejak air mata yang belum mengering dimatanya.


Setelah menempuh perjalanan yang hanya sepuluh menit lebih akhirnya mereka sampai dipangkalan biasa tempat menjual gado-gadonya.


Dhiva dan Daffa membantu menata dagangan ibunya, sedangkan ibunya hanya duduk-duduk diam ditempat itupun atas saran kedua anaknya.


“Beli gado-gadonya dua dong” ucap seorang gadis yang mukanya tebal karena kosmetik dan juga bulu mata palsu.


Kebetulan yang akan melayani pembeli adalah Daffa mau tak mau ya tetap harus melayani dan nggak bisa menghindar sama sekali.


“Mas kok diem aja sih? Tapi kalau diem tambah super ganteng sih” pembeli wanita itu terus berceloteh tapi tak digubris sama sekali oleh Daffa.


“Ini mbak makasih sudah membeki gado-gado saya. Semoga mbak puas menikmati gado-gado tersebut” Daffa menyerahkan satu kantong kresek pada pembeli wanita itu dan berharap agar pergi dan tidak banyak bertanya lagi.


Datang lagi gerombolan ibu-ibu dari pengajian yang sengaja berhenti untuk membeli gado-gadonya Bu Marni. Biarpun mereka dari pengajian tapi dasar tukang julid pasti ada saja bahan yang akan diomongkan.


“Eh ibu-ibu saya akan beli gado-gado dulu untuk putri saya” ucap salah seorang ibu-ibu yang sudah memesan ikut beli gado-gado.


“Saya juga bu, saya akan membelikan gado-gado untuk anak lelaki saya di rumah” seorang ibu-ibu ikut menimpali.


“Bu Marni sini dong ikut bantu bungkusin gado-gado daripada bengong nggak bantuin anaknya” ujar seorang ibu-ibu yang ikut-ikutan julid, seenggaknya yang julid itu satu saja eh tenyata malah semakin banyak


Ternyata banyak orang yang juid dengan Bu Marni, bukan karena kecantika dirinya juga bukan karena hartanya karena Bu Marni hidupnya pun pas-pasan. Tapi kejulidan mereka karen Bu Marni dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan seorang putri yang sangat cantik, entah ngidam apa Bu Marni sampai punya anak begitu.


“Bu Marni itu di kota jadi selingkuhan juragannya sendiri ya? Itu anak Bu Marni kok glowing-glowing amat ya anak-anaknya?” kali ini sungguh pedas ucapan tersebut tapi Bu Marni enggan untuk meladeninya.

__ADS_1


“Tolong ibu-ibu jika sudah membeli pulang saja, jangan pernah kalian ucapkan kata-kata sampah di depan siapapun itu!”


Rombongan ibu-ibu julid itu akhirnya pulang dengan penuh kekecewaan, gara-gara pria itu akhirnya bubar. Huh dasar!


__ADS_2