
Bagas terpaksa mengikuti langkah kaki Eren, dia sebenarnya iba dengan gadis itu, gadis manis yang membuatnya berdebar-debar dan panas dingin.
Cklek
Eren menutup pintu dengan pelan, dia ingin terkesan manis didepan brondong yang dia taksir.
Jangan sampai brondongnya badmood hingga menolaknya untuk b*rc*nt*.
"Hai tampan... " Eren memanggil Bagas dengan suara yang sangat manjahh...
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik karena perawatan mahalnya, sekarang sedang memakai handuk kimono nya.
"Kemarilah tampan, apakah kamu tidak pernah berhadapan dengan wanita sedekat ini?"
Jarak Eren dan Bagas hanya satu meter saja, Bagas makin muak melihat Eren yang sudah terlihat sangat gatal dihadapannya.
Bagas membenarkan sedikit kerah bajunya, sepertinya masih aman.
Eren membuka tali kimononya, dia memang benar-benar ingin disentuh oleh pemuda tampan yang tentu tenaganya lebih perkasa dibandingkan dengan suaminya.
Eren membuka kimononya asal, wow pakaian yang hanya layak dipakai oleh Wanita penggoda, justru dipakai oleh seorang ibu rumah tangga untuk menggoda babunya sendiri.
__ADS_1
Pakaian tipis seperti jarring ikan, dan mungkin itu lebih cocok dengan Wanita n*k*l.
'Jijik banget gue melihat wanita s*nd*l kayak dia!’ gerutu Bagas dalam hati.
Eren berjalan lenggak-lenggok seperti di atas catwalk, Bagas makin bergidik ngeri, bagaimanapun Wanita paruh baya memakai pakaian yang tidak layak untuk menggoda seorang perjaka?
Di dalam kamar Daffa yang masih ditemani oleh Emir dan juga adiknya sedang melihat kearah monitor kecil yang sudah tersambung dengan kamera yang terpasang dalam tubuh Bagas.
“Kak, mak lampir itu mau ngapain?” tanya Dhiva yang agak kebingungan dengan tingkah Wanita berumur sengaja memakai baju yang tidak layak dilihat apalagi untuk ditonton.
“Dek sebaiknya jangan dilihat! Kamu belum layak melihat tontonan kayak gini” ucap Daffa melindungi adiknya agar otaknya tidak terkontaminasi dengan hal-hal buruk.
Dhiva melirik cowok disebelahnya, “Tuh disebelah kakak juga ada orang nggak disuruh keluar aja”
“Ya udah kalian keluar gih, kakak takut jika kalian pakai hati, bisa-bisa perutmu gendut duluan”
“Emang bisa kak?” tanya Dhiva dengan polosnya.
“Ya bisalah, mau coba?” tanya Daffa melirik Emir untuk melihat bagaimana ekspresinya.
“Jangan sayank, jangan dengerin kata kakak kamu, kita coba aja setelah nikah ya”
__ADS_1
“Jangan nikah dulu dik, kakak belum ngambil harta peninggalan papa dan mama”
“Lagian siapa yang akan nikah dulu sih kak” elak Dhiva.
“Yank, tujuanku kesini emang mau ngajak kamu keluar dari rumah ini untuk nikah yank” Emir meraih kedua tangan pujaan hatinya kemudian diletakkan di depan dadanya.
“Yank, tahukah kamu jika tiap waktu aku merindu ingin segera meminangmu, aku tak bisa hidup tanpamu”
Ekhem ekhem
Kedua anak muda yang dilanda asmara menoleh bareng ke arah Daffa.
“Lihat sekitar dong jika akan bermesraan”
“Eh kakak ipar maaf ya………” kekeh Emir.
Akhirnya Emir dan Dhiva keluar dari kamar yang berukuran kecil untuk Daffa, mereka memilih menghindari menonton hal yang tidak patut daripada mengundang kemaksiatan.
Daffa masih melihat dilayar monitor kecil itu, dan sesekali memberi kode pada Bagas, mengakhiri jebakannya atau masih melanjutkannya?
"Cukup, kembali" kode dari Daffa lewat sambungan ponsel yang tidak bisa dilihat orang Eren.
__ADS_1
'Akhirnya dengan rekaman itu, kalian akan menderita! Tunggu pembalasan gue!" seringai Daffa yang mungkin sangat mengerikan di hadapan para rivalitas.