
Ssstttt
Bagas meletakkan jari telunjuknya ke depan mulutnya.
Ketiga anak muda itu manggut-manggut, mereka faham jiwa yang berteriak-teriak itu nenek lampir yang mencari mangsa.
"Keluar lo bang!" titah Daffa.
"Gimana bang udah lo siapin alat untuk menjebak nenek lampir?" tanya Emir pelan agar tidak berisik hingga akan menimbulkan kecurigaan dari luar.
"Gue pergi dulu" pamit Bagas, seperti akan maju ke medan perang pamitnya lebay banget.
"Hati-hati ya bang ini step awal kita untuk membalaskan dendam kita kepada orang-orang jahat seperti nenek lampir dan suaminya" Daffa menyemangati, Daffa sangat percaya pada Bagas, tapi tidak percaya dengan Eren.
Enaknya diapain ya Eren dan Aldo?
Bagas keluar dari kamarnya, dia berjalan tegap melangkah ke ruang tengah tempat Eren duduk santai disana.
Belum juga sampai ke ruang tengah, Bagas tidak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah samping.
Bruk
Awwww...
__ADS_1
Jerit gadis itu.
"Eh maaf-maaf" ucap Bagas yang memegang kedua bahu gadis itu.
Cukup lama keduanya dalam posisi tersebut, tangan Bagas yang menjadi tumpuan nya.
Dug dug dug dug
'Kenapa dengan jantung gue?' monolog Bagas di dalam hati.
'Siapa dia? Kenapa ada cowok tampan seperti dia di rumah ini?' gadis itu juga membatin.
'Kenapa gue jadi gini? Apa yang terjadi dengan gue? Padahal didekat Dhiva fine-fine aja, udah kayak kakaknya sama adiknya, tapi ini.... ' Bagas menggelengkan kepalanya udah mengontrol suasana hatinya.
"Ini nyonya tadi saya nggak sengaja menabrak gadis ini hingga hampir jatuh jadi saya menolongnya" jawab Bagas tegas, dia tidak akan melempar kesalahan pada orang lain apalagi pada seorang gadis.
"Biarin aja jatuh" ujar Eren sinis.
Deg
Hati Shelva sungguh sangat sakit mendengar perkataan sang mama yang lebih tajam dari pisau.
Entah kenapa mamanya kadang baik kadang juga jahat, Shelva ngerasa jika dia dekat dengan cowok tampan sang mama pasti akan bersikap buruk padanya.
__ADS_1
"Maaf nyonya itu bukan sifat saya, jadi saya tidak akan membiarkan gadis ini jatuh" pembelaan Bagas membuat Shelva terharu.
Shelva tidak menyangka pertemuan pertama dengan cowok dewasa ini akan membuatnya tertarik karena sikapnya yang sebagai sosok pelindung untuknya.
"Oo berani kamu menentang saya? Kamu kerja disini digaji oleh suami saya, saya bisa saja memecat kamu!" suara lantang Eren membuat penasaran Bagas.
Bagas sudah menyelidiki Emir, Daffa dan Dhiva, tapi dia tidak menyelidiki lebih jauh keluarga Aldo dan Eren, mungkin dengan masuk ke rumah Aldo dia lebih leluasa membaca setiap karakter setiap orang disana.
Bagas melirik Shelva yang berdiri ketakutan sambil meremas ujung bajunya, seperti takut terkena hukuman atau apapun.
"Kalau boleh tahu siapa gadis ini nyonya?"
Eren semula yang memelototi Shelva langsung saja membuang muka, dia tidak mau Bagas mengetahui tentang anaknya.
"Dia! Dia adalah anak yang tidak diinginkan!"
Jleb
Sakit sungguh sangat sakit, tidak seharusnya seorang ibu berkata sepi itu pada anaknya, darah dagingnya sendiri.
"Bagus kalau begitu nyonya, dengan begitu saya bisa menikahinya" ucapan Bagas sengaja untuk memancing kemarahan Eren, jika dia marah pasti ada yang disembunyikan darinya.
Bagas meraih jemari Shelva, dia bertekad akan membawa keluar Shelva, pasti gadis itu akan mau dibawanya kemana saja.
__ADS_1
"Kamu! Kamu hanya akan jadi budakku! Pemuasku! Jadi sampai kapanpun kamu tidak akan menikah dengan gadis buruk itu!" tunjuk Eren dengan kilatan amarah dimatanya.