MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
lorong sunyi


__ADS_3

Semenjak dari kamar gelap kosong hati Diva masih diliputi rasa penasaran, foto yang terpajang begitu sangat membuatnya terkesan untuk segera mengetahui sosok yang terpajang disana.


Jika ingin masuk Kembali ke kamar tersebut pun sangat tidak mungkin bagi Dhiva, kamar itu sulit diakses, dan juga kuncinya akan sulit disabotase.


Duarrr


“Hah hah, apa-apaan sih kamu ngagetin aja” Dhiva menatap sekilas wajah Ika sambil memonyongkan bibirnya.


“Ah elah dikagetin gitu aja ngambek. Awas ngambek itu jauh dari jodoh!” ledek Ika, tapi tak mempengaruhi Dhiva sama sekali.


“Serius amat sih neng? Kenapa kok nggak nanggepin candaanku sih?” tanya Ika yang sewot sendiri.


“Kamu nanya bertanya-tanya?”


“K*mpr*t kamu!” umpat Ika.


“Ka” panggilan Dhiva menghentikan Langkah Ika yang akan beranjak ke dapur. “Kamu tau nggak kamar yang kemarin aku dikunciin non Lea?”


Ika berbalik badan menatap serius wajah Dhiva, pertanyaan Dhiva cukup menarik perhatian Ika karena selama Ika bekerja di rumah mewah ini tidak pernah sekalipun memasuki kamar seperti yang dipertanyakan oleh Dhiva.


“Ipah apa yang kamu lihat disana?”


“Aku melihat foto keluarga yang agak usang tapi bukan foto keluarga tuan besar Aldo”


“Benarkah?”


Dhiva menganggukkan kepalanya, walaupun dia mencari tahu jawaban dari mulut Ika tapi tetap saja Ika tidak pernah mengetahui hal tersebut. Ika memang tergolong baru di rumah mewah tersebut, rumah mewah yang menyimpan penuh dengan misteri di dalamnya.


“Kita tidur dulu yuk, biar bisa bangun pagi” ajak Dhiva yang berlalu ke dalam kamarnya yang terbilang sempit.


&&&


“Dhiva…………….bangun sayang………………….” Suara seorang perempuan yang amat lembut terdengar di telinga sedang memanggil-manggil nama Dhiva.


Dhiva menyipitkan matanya dan menajamkan pendengarannya mencoba mendengarkan sekali lagi suara lembut seorang perempuan yang mengganggu tidur malamnya itu.

__ADS_1


“Dhiva sayang…………..keluarlah dari kamarmu sayang…………….”


“Siapa kamu?” Dhiva masih terpaku di depan pintu kamarnya, sekelebat ada bayangan Wanita cantik dengan rambut digerai sepinggang yang berwarna hitam legam, senyuman itu


Sangat manis dengan lesung pipi menambah kesan Wanita cantik itu walaupun sudah dewasa tapi masih mempesona.


“Sini sayang………….ini mama…………….” Bayangan itu melambai-lambaikan tangannya mengajak Dhiva berjalan mengikutinya.


“Mama……….benarkah ma? Dhiva kangen banget sama mama” Dhiva berlari-lari kecil menghampiri mamanya tapi bayangan itu menghilang begitu saja akan dipeluk oleh Dhiva.


“Mama, mama dimana?” tanya Dhiva sambil menoleh kanan dan kiri tapi mamanya hilang bagai ditelan bumi.


“Sayang…………………..” panggilan halus dan mendesah berat Sekarang ada di belakang Dhiva.


Dengan segera Dhiva membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara tersebut, bayangan Wanita yang tadi dilihatnya dari kejauhan kini sudah dekat di depan matanya, bahkan matanya seperti berembun menahan air mata yang mendesak keluar.


“Dhiva…………….bolehkah mama peluk kamu sayang…………?” permintaan Wanita cantik di depan Dhiva membuyarkan lamunan Dhiva.


“I-iya” jawab Dhiva terbata, pelukan yang hangat berubah sedikit menjadi dingin, tapi bagi Dhiva tetaplah pelukan hangat karena baru kali ini selain Bu Marni yang selalu memeluknya sekarang ada wanita dewasa yang cantik memeluk dhiva dengan eratnya.


Lama sekali Dhiva berpelukan dengan bayangan Wanita yang mengaku sebagai mamanya, tapi Dhiva tetap saja membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


Ada rasa Bahagia tersendiri di lubuk hati Dhiva, ingin rasanya Dhiva tidak mengakhiri pelukan ini jika diberi kesempatan bertemu lagi dengan bayangan Wanita di depannya ini.


Dhiva mulai memberanikan diri untuk bertanya sesuatu hal yang sangat pribadi pada bayangan Wanita berambut sepinggang itu.


“Ma-mama, apakah Dhiva boleh memanggil dengan sebutan itu? Dan apakah Dhiva boleh bertanya sesuatu yang sangat pribadi pada mama?” tanya Dhiva yang masih berpelukan dengan bayangan wanita itu.


“Boleh sayang” bayangan Wanita itu membelai rambut Dhiva yang dibiarkan tergerai.


“Ma, kenapa selama ini mama tidak pernah menjenguk Dhiva? Dhiva sangat kangen sama mama, Dhiva akan tunjukkan pada musuh Dhiva bahwa Dhiva mempunyai keluarga yang sangat menyayangi Dhiva dan kak Daffa. Mereka semua menganggap Dhiva dan kak Daffa sebagai anak haram ma hiks……….hiks………” Dhiva menangis terisak di dalam pelukan bayangan Wanita itu.


“Sayangnya mama, dengarkan mama saying. Keadaan mama yang tidak baik-baik saja tidak mungkin untuk mengunjungi kalian dan merawat kalian Kembali saying. Jika kamu masih ragu, kamu bisa bertanya pada bik Inah” ujar mamanya Dhiva yang Bernama Sherly sambil melenggap pergi.


“Mama………..tungguin Dhiva………..”

__ADS_1


Bayangan Wanita itu berhenti lalu menoleh ke arah Dhiva yang berlari-lari mengejarnya, Dhiva yang tak mau ketinggalan terus mengejarnya hingga tepat sudah ada dibelakang bayangan Wanita cantik itu.


“Sayang, kamu lihat itu yang ada di dinding itu?” tunjuk bayangan Wanita itu.


Dhiva menoleh mengikuti Gerakan tangan bayangan Wanita yang mengaku sang mama baginya, di dinding itu ada sebuah lukisan Wanita cantik bahkan sangat cantik.


Dhiva mendekat ke arah lukisan itu, lampu Lorong yang Dhiva tempati saat ini memang tidak seterang lampu yang ada di halaman rumah sang majikan, tepatnya lampunya memang agak redup karena mungkin juga untuk menghemat listrik.


‘Kenapa lukisan ini hampir sama dengan wajah mama, Wanita disebelahku yang mengaku sebagai mamaku. Apakah memang benar dia mamaku?’ tanya Dhiva dalam hati.


“Ma, kenapa lukisan ini menangis darah ma? Mama tahu dia kenapa ma?” tanya Dhiva pada bayangan Wanita yang Dhiva yakini masih berdiri di sampingnya.


Hening tak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya untuk bayangan Wanita itu. Saat Dhiva menoleh ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di sampingnya kini. Bukannya Dhiva takut tapi semakin penasaran denga napa yang dirasakannya saat ini.


“Mama………mama dimana……….?” Teriak Dhiva.


“Mama lukisan itu, kenapa wajahnya sangatlah nirip dengan wajah mama?” tanya Dhiva pada Lorong yang kosong.


“Mama……….tunggu Dhiva………….” Teriak Dhiva lagi, hatinya sangat sakit kala baru mengetahui wajah mamanya sekilas tapi sudah menghilang lagi dari hadapannya.


Dari kejauhan ada dua orang yang berlari-lari kecil memanggil-manggil nama Dhiva, dua orang itu Nampak Lelah karena laria-larian hingga nafasnya terdengar ngos-ngosan.


“Dhiva….” Suara panggilan dari seorang lelaki yang sangat dia kenal karena setiap hari suaranya terdengar seperti menempel di telinga.


“Ka-kakak” ucap Dhiva sembari mematung.


Dua orang itu akhirnya sampai juga di depan Dhiva, dugaan Dhiva tidak meleset ternyata yang menyusulnya sampai ke Lorong misteri ini memang Ika dan kakaknya.


“Va, kenapa kamu sampai disini dek?”


“Kakak, adek Bersama mama kak. Tadi mama yang manggil Dhiva hingga sampai disini” ujar Dhiva sembari menoleh ke belakang jikalau ada sosok bayangan Wanita cantik telah muncul di belakangnya saat ini.


“Mama………………”


“Iya kak. Itu lukisan mama………………”

__ADS_1


__ADS_2