MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Merayu Emir


__ADS_3

”Selesai” ucap Bagas sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


“Dengan satu bukti ini kita akan dengan mudah menyingkirkan Aldo dari pemilihan wali kota nanti” Bagas menyeringai, satu persatu bukti yang dia kumpulkan akan bertambah lagi nantinya.


“Bang apakah misi ini akan tetap kita lanjutkan?” tanya Emir saat mereka sudah beranjak dari ruang bawah tanah.


Bagas menghentikan langkahnya sejenak, apakah mungkin ini berkaitan dengan masalah hati? Hati yang tidak muau dipisahkan?


“Apakah kamu ingin menikah Mir?” tanya Bagas yang tidak mau berbasa-basi.


“He….he….he….apakah abang seorang cenayang yang mengetahui apa isi hatiku?” tanya balik Emir.


Bagas yang sudah bisa menebak pertanyaan dari Emir hanya bisa menghela nafas Panjang.


‘Misi belum selesai kenapa Emir justru tidak bisa menahan gejolak hatinya sebentar saja?’ batin Bagas bertanya-tanya sendiri.


“Kenapa melamun bang?” giliran Dhiva yang bertanya pada Bagas.


Ketiga anak muda menghentikan langkahnya, raut wajah yang kecewa tergambar jelas di wajah Bagas, Dhiva akhirnya menyadari hal itu.


“Bang, aku tidak mungkin menikah duluan dan meninggalkan dua abangku berjuang sendirian untuk menumpas kejahatan om dan tanteku” ujar Dhiva meyakinkan Bagas.


Pukk pukk


Bagas menepuk Pundak Dhiva, gadis mungil yang sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Bagas.


“Bagus dek, abang yakin secepatnya kita akan memenjarakan om dan tante kamu agar mempertanggungjawabkan semua perbuatannya”


Akhirnya Bagas bisa bernafas dengan lega mendengar pernyataan Dhiva yang bisa menenangkanah hatinya.


Sebenarnya Emir juga sudah menerima hal tersebut dan menikah dengan Dhiva setelah misi berhasil, dan memang tidak ada tenggang waktu yang ditentukan untuk itu.


“Sabar ya Mir, Dhiva takkan berpaling pada yang lain” ucap Bagas yang menenangkan Emir.


Dengan berhati-hati Bagas, Dhiva dan Emir melalui Lorong-lorong seram itu, tapi karena rasa takutnya sudah hilang entah kemana mmbuat mereka berani menghadapi apapun yang akan terjadi nantinya.


Ketiganya pun sepakat untuk lewat belakang yang dekat dengan pavilion yang bangunannya sama mewahnya dengan rumah utama, hanya yang membedakan adalah ukurannya saja.

__ADS_1


Brukk


Emir menabrak Bagas yang tiba-tiba berhenti secara mendadak.


“Bang” panggil Emir.


Sssstttt


Emir dan Dhiva hanya diam sambil mengikuti kemana telunjuk Bagas mengarah.


Ternyata telunjuk Bagas mengarah pintu pavilion yang dibuka oleh lelaki paruh baya yang memakai setelan jas sedang dipapah oleh Wanita berambut Panjang yang diwarna pirang dengan pakaian yang kurang bahan membuatnya semakin seksi.


“Bukankah itu om kamu sayank” ucap Emir yang menatap mata Dhiva.


“Iya…”


“Bang gimana? Sudah siap untuk mendapat bukti baru lagi?” tanya Emir.


“Lebih dari siap, tapi kita ke dalam dulu, aku mau siapin alat yang lebih lengkap lagi”


@@@


Lea berjalan mendekati Emir sambil ingin membelai wajah Emir yang memang mulus tanpa ada satu jerawat yang menempel di wajahnya.


Dengan segera Emir menepis tangan Lea yang dirasa tidak sopan.


“Wow kamu sombong sekali anak muda, bahkan aku bisa saja membeli kamu dengan sangat murah!” sinis Lea yang mendapat penolakan.


“Berapa kekayaanmu yang bisa membeliku? Aku pun bisa membeli semua kekayaanmu itu tanpa harus ku tawar lagi!” ketus Emir yang tak mau kalah dengan ucapan tajam Lea.


“Sombong sekali kamu bocah! Tapi aku suka dengan gayamu yang sombong hingga membuatku tertantang!”


Lea melirik samping Emir yang kebetulan ada Dhiva yang sedang berdiri disana.


“Siapa kamu cantik banget?” tanya Lea dengan sinisnya, “Ah kamu pasti setan yang nyamar jadi manusia kan? Disini tidak ada gadis cantik selain aku?” tanya Lea lagi yang tidak terima jika ada yang menyainginya.


Dhiva hanya tersenyum miring tanpa mau menanggapi ucapan Lea yang sangat tidak berfaedah sama sekali.

__ADS_1


Dhiva memang melupakan alatnya yang dipakai untuk penyamarannya, sehingga wajahnya yang sangat cantik kali ini akan kelihatan oleh musuh terbesar dalam hidupnya.


“Dengar baik-baik Lea, Wanita yang tergila-gila dengan kehormatan sehingga ingin dan ingin disanjung oleh semua orang termasuk para lelaki! Ingat mimpimu akan segera berakhir, jadi jangan terlalu tinggi untuk menggapai mimpi kamu agar kalau jatuh tidak sakit!” ocehan Dhiva Panjang lebar.


Baru kali ini Dhiva berkata dengan kata-kata yang Panjang selama penyamaran menjadi pembantu di rumahnya sendiri yang direbut oleh orang-orang jahat seperti keluarga tantenya.


“Berani kamu berkata seperti itu Wanita m*r*h*n!” bentak Lea yang tak terima dengan ucapan Dhiva yang memang benar adanya.


Baru saja Lea akan melayangkan tangannya dipipi mulus milik Dhiva tapi sudah ditahan oleh Emir.


“Berani kamu menyakiti tunanganku! Aku pastikan keluargamu akan menderita!” ancam Emir yang kemudian menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam dapur.


𝙳𝚑𝚒𝚟𝚊 tersenyum sinis melihat Lea yang kesal dengan ucapan Emir barusan, memang Wanita rubah seperti Lea tidak pantas untuk diberi hati, makin diberi kasih sayang makin ngelunjak.


𝙴𝚖𝚒𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝙳𝚑𝚒𝚟𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝙻𝚎𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚗𝚊𝚖𝚙𝚊𝚔 𝚖𝚊𝚛𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚊𝚔 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚔𝚊𝚝𝚊𝚊𝚗 𝙴𝚖𝚒𝚛 𝚋𝚊𝚛𝚞𝚜𝚊𝚗.


“Kurang *j*r, maksudnya apa berkata seperti itu?” gerutu Lea yang tak terima dengan perkataan Emir yang seolah mengancamnya dan juga keluarganya.


Lea menghentak-hentakkan kakinya dilantai, dia merasa tak terima sudh direndahkan seperti itu oleh cowok yang umurnya lebih muda darinya.


“Kenapa sulit banget untuk mendapatkan ayah dari anak yang ak kandung ya? Apakah aku bisa membuat bodyguard itu bisa menjadi bapak dari bayi yang ada dalam perutku ya?”


Lea mondar-mondir mencari solusi sendiri dari permasalahan yng dialaminya saat ini, dia merasa tidak tenang jika belum menemukan solusi yang akan dijalaninya nanti.


“Apakah aku harus menggugurkan kandungan ini ya?” gumam Lea yang tak sengaja lewat di depan kamar sang adik.


Shelva yang berdiri di belakang Lea segera mencekal tangan sang kakak, dia yang masih belia pun sudah tahu jika menggugurkan janin itu termasuk dosa besar, bagaimanapun janin itu berhak hidup, karena kesalahan bukan berasa dari si bayi melainkan kesalahan kedua orang tuanya yang dengan sengaja melakukan dosa tapi tidak mau bertanggung jawab untuk merawatnya dan membesarkannya.


“Maksud kakak apa?”


Terkejut!


Tentu saja Lea terkejut bukan main, kehamilan yang seharusnya disembunyikan dulu malah ketahuan oleh sang adik, yang notabene adiknya bagaikan meusuh untuknya.


“Ka-kamu menguping pembicaraan kakak?”


Shelva mengangguk, dia memang tidak bisa berbohong, bahkan terhadap orang yang membencinya sekalipun Shelva tidak akan bisa untuk mmbohonginya.

__ADS_1


“Kakak aku mohon, jangan pernah buang janin yang tak berdosa itu kakak, dia berhak untuk hidup. Apapun dosa yang kakak lakukan tapi dia itu sudah dihadirkan Tuhan dirahim kakak, Shelva mohon semoga kakak mempertahankannya” celoteh Shelva Panjang lebar.


“Tahu apa kamu tentang kehidupan kakak! Kakak berhak menentukan merah birunya kehidupan kakak, kamu tidak berhak mengaturnya, titik!”


__ADS_2