
Semua orang panik dengan kondisi Dhiva yang sempat kejang-kejang sebentar lalu tak sadarkan diri. Dhiva dibawa oleh mobil ambulance yang sedang patrol di sekitar desa tempat tinggalnya.
Daffa dan Bu Marni hanya bisa menangisi keadaan Dhiva tanpa bisa berbuat apa-apa, pikiran mereka sudah buntu hingga mereka hanya mengikuti saja kemanapun Dhiva dibawa asalakan mendapat pertolongan.
Sesampai di depan ruangan IGD disambut oleh dokter dan dua perawat aynga akan menangani keadaan Dhiva.
“Hiks……….Tolong selamatkan anak saya dok” pinta Bu Marni memelas sambil terisak.
“Tolong selamatkan adik saya dok” pinta Daffa, ia benar-benar frustasi melihat adik kesayangannya menderita seperti itu, jikalau pun bisa tergantikan posisi itu, maka Daffa akan meminta dia yang akan menggantikan adiknya terbaring lemas di brankar.
“Insha Allah akan saya usahakan. Mohon ditunggu diluar ya, dan mohon do’anya agar pasien selamat” ujar dokter Wanita yang usianya masih muda sekitar tiga puluhan.
Bu Marni dan Daffa menganggukkan kepalanya, baginya yang terpenting sekarang ini adalah keselamatan Dhiva walaupun harus kehilangan hartanya sekalipun asalkan tidak kehilangan nyawa.
Bu Marni masih menangis terisak, lain halnya dengan Daffa yang mondar-mandir di depan ruang IGD sambil menunggu dokter dan perawat keluar dari ruangan tersebut.
Daffa merasa sudah buntu pikirannya, dia tidak menghubungi siapapun bahkan untuk meminta bantuan pun ia abaikan itu.
Drap
Drap
Drap
Terdengar suara beberapa orang yang mendekati Daffa dan ibunya yang masih berada di Lorong rumah sakit.
“Daf”
“Astaghfirullah” Daffa memegangi dadanya, ia terkejut karena beberapa sahabatnya datan menjenguknya tepatnya menjenguk adiknya ke rumah sakit.
“Apa yang terjadi?” tanya Andra sambil menepuk Pundak Daffa.
“Aku nggak tau, dari tadi dokter dan perawat belum keluar dari ruang IGD” jawab Daffa yang menerawang jauh.
“Kita do’akan saja yang terbaik buat Dhiva, aku yakin Dhiva gadis yang kuat” Bilal menimpali.
Sepuluh menit kemudian
Cklek
__ADS_1
Dokter Wanita dengan diikuti dua perawat keluar dari ruangan IGD lalu menghampiri Bu Marni yang masih duduk di kursi tunggu rumah sakit.
“Bisa bicara dengan keluarga pasien?” tanya dokter
“Ya dok saya ibunya” Bu Marni beranjak dari duduknya menuju dokter Wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya Bu Marni.
“Mohon maaf ibu, putri anda kritis jadi harus dirawat di ruang ICU. Untuk sementara penunggu hanya ada satu orang saja. Apa ada yang perlu ditanyakan lagi?”
“Maaf dokter apa yang terjadi pada adik saya dok?”
“Maaf belum bisa menjelaskan karena hasil observasinya belum keluar, bisa anda tunggu satu jam lagi. Kalau ingin konsultasi bisa keruangan saya nanti”
“Makasih dokter” ucap Daffa.
Daffa dan Bu Marni mengikuti brankar yang membawa tubuh Dhiva dari belakang, mungkin Dhiva akan dipindahkan di ruang ICU seperti apa yang telah dikatakan doktter tadi.
&&&
Di lain tempat, Emir yang barusaja mendapat info kalau Dhiva jatuh pingsan membuat tidak konsentrasi dalam bekerja hari ini, ya memang Emir belajar bekerja demi memantaskan diri menjadi suami Dhiva kelak. Tapi tidak untuk hari ini, ia ingin sekali lari sekencangnya menjumpai Dhiva, gadis pujaan hatinya.
“Papa, Emir izin beberapa hari tidak masuk kerja. Emir akan menjaga Dhiva” pamit Emir dengan wajah yang kusut dan kucel.
“Hati-hati dijalan, banyak rival papa yang menguntit dan menjadi ancaman bagi kita. Jangan lupa bawa ATM kamu yang isinya lumayan itu. Dhiva pasti akan membutuhkan banyak biaya untuk perawatannya” pesan papa Haruga yang melepas putranya Kembali ke desa padahal mereka baru beberapa hari Bersama menghabiskan waktu berdua karena sudah lama terabaikan.
Saat sudah sampai di lobi Emir melihat sosok Lendy yang sudah berdiri disana lengkap dengan pakaian formalnya.
“Tuan muda mau kemana?” tanya Lendy yang belum tau kabar apa-apa karena ia sudah Kembali sebelum acara wisuda selesai.
“Mau ke rumah sakit om, Dhiva kritis dia pasti sangat membutuhkanku”
“Kalau begitu saya antar ke bandara tuan muda, banyak musuh tuan Haruga yang mengincar keberadaan tuan muda”
“Baiklah om, ayo antar saya ke bandara” titah Emir yang berlagak layaknya bos besar yang memerintah anak buah.
Emir duduk disamping kemudi, sesekali diliriknya kaca spion, memang saat berangkat mobil silver itu sudah menguntitnya hingga perjalanan mereka sudah sampai di tengah-tengah rute.
Lendy yang sudah mengetahui aksi mobil di belakang pun langsung menginjak pedal gas dan meliuk-liukkan mobil layaknya sedang lomba di sirkuit dan menerobos jalan diantara beberapa mobil yang melaju disisi kanan dan kirinya.
“Huuuh…………..” Lendy bisa bernafas dengan lega, mobil yang mengikutinya sudah tertinggal jauh dan tak terlihat lagi.
__ADS_1
“Apakah stiap hari seperti ini om?”
“Tidak tuan muda. Tapi saya sebagai bagian dari Pras Corp, saya tentunya harus selalu waspada”
“Om gimana jika saya mundur dari pewaris Pras Corp”
Ciiit
Lendy mengerem mobilnya mendadak, pertanyaan konyol yang dilontarkan tuan mudanya sungguh diluar nalarnya.
“Maaf tuan muda, saya sangat kaget. Jika anda mundur dari pewaris sama saja anda membunuh Tuan Haruga perlahan-lahan” cicit Lendy dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Emir.
“Ayo jalan om”
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima menit akhirnya sampai dibandara halim Perdana Kusuma. Saat berada di pesawat Emir mencoba untuk memejamkan matanya karena hari ini sungguh sangat melelahkan baginya, tapi usahanya lagi-lagi gagal.
Perjalanan yang cukup menguras energi tapi tak membuat Emir Lelah sedikitpun , baginya bertemu dengan kekasih adalah obat terampuh dari obat produksi perusahaan manapun.
Rumah sakit Harapan, itulah tempat dimana Dhiva baring dalam kebisuannya. Tanpa bertanya pada bagian informasi, Emir langsung menuju ruang ICU. Lagi-lagi Emir sudah tahu info tentang Dhiva, semua itu berkat orang suruhannya tapi gagal menjaganya malah membiarkan Dhiva sampai kritis.
&&&
“Sabar ya kak” ucap Emir sambil mengusap Pundak Daffa lembut, sedangkan Daffa hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Dimana ibu kak?”
“Di dalem lagi nungguin Dhiva”
“Maafin aku kak. Aku nggak ikut jaga Dhiva, malah gini jadinya”
“Udah itu bukan salahmu, yang paling disalahkan sip aitu orangnya adalah aku” Daffa menyeka air matanya yang jatuh di pipinya lagi.
“Saya akan ke ruang lab. Dan langsung konsultasi sama dokter, aku tinggal dulu ya”
Emir menggeleng cepat, “Enggak kak, aku juga ingin ikut sama kakak”
Sebenarnya Daffa ingin menolak tapi ia ingat jika Dhiva adalah gadis yang sudah diikat Emir, walaupun dengan lamaran sederhana.
“Tapi kalau kamu ikut ntar jangan mewek ya dengan penejasan dari dokter”
__ADS_1