
Tubuh Wanita yang diketahui Eren Bernama Sherly itu melayang di udara, membumbung tinggi dengan yang yang bergerak-gerak seperti tertiup angin.
“Ka-kamu benar Sherly?”Eren semakin takut dengan sosok Wanita di depannya.
Mata Wanita itu melotot keluar, dadanya terbuka terlihat ada jantung yang menyembul keluar berwarna merah darah.
“Ti-ti-tid” Lesss, tubuh Eren merosot ke bawah, kesadarannya makin menghilang dan akhirnya dia pingsan.
Cling
Sosok Wanita yang menyeramkan itu akhirnya hilang begitu saja, hilangnya sosok itu tak luput dari pandangan dua pasang mata yang mengawasinya.
Daffa dan Azkia saling pandang, mereka seakan tak percaya denga napa yang telah dilihatnya, jaman sudah serba canggih tapi apa yang dilihatnya sungguh tak masuk diakal mereka.
Daffa yang bermaksud menakuti Eren dengan menggunakan peralatan yang sudah canggih tentunya masih kalah dengan penampakan yang mereka lihat, sungguh di luar nalar.
“Daffa apa kamu percaya dengan apa yang barusan kamu lihat?” tanya Azkia pelan agar tidak terdengar oleh penghuni yang lain apabila ada yang melintas.
__ADS_1
“Entahlah Kia aku juga merasa itu hanyalah khayalan ku saja” ujar Daffa sambil menghela nafas Panjang.
“Tapi Kia, apakah itu perbuatan bang Bagas?” tanya Daffa ingin mengambil sisi positif dari apa yang dia lihat.
Azkia menggelengkan kepalanya, jika itu semua perbuatan Bagas kenapa justru Bagas menyuruh dia dan juga Daffa untuk menuntaskan misi tersebut.
“Apakah itu wujud hantunya mama? Aku sungguh tak percaya jika mama sudah meninggal, apa yang sudah diperbuat oleh om dan tante pada kedua orang tuaku?” tanya Daffa lirih, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tanpa Daffa sadari jika air matanya sudah membasahi pipi putihnya.
Terdengar isakan kecil dari mulut Daffa, mungkin rasa kerinduan dan rasa sedihnya yang bercampur jadi satu membuatnya menghilangkan rasa malu dan gengsinya terhadap orang baru seperti Azkia.
Pagi ini Azkia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, perkenalan dengan Daffa kiranya sudah cukup tinggal memberi bumbu agar semakin mengeratkan kedekatannya saja, apalagi Daffa yang tidak mau mengenal cewek sedari dulu.
Daffa pun semakin terkesan dengan Azkia, walaupun baru kenal tapi Azkia tak sungkan untuk memberi dukungan penuh pada Daffa.
“Daff kelihatannya lo gelisah banget ada apa?” tanya Bagas yang tiba-tiba nongol di sampingnya.
__ADS_1
Daffa mengelus dadanya karena saking kagetnya jantungnya berdetak dengan kencang sekali. “Astaghfirullah bang, gue kaget sekali bang”
“Tenang Daf, emang kenapa muka lo kusut banget kayaknya?”
Daffa menoleh sebentar ke arah Bagas lalu menghadap ke depan lagi.
“Bang gue kepikiran sama mama, apakah selama ini arwah mama gentayangan bang, gue takut mama tersiksa bang, gue. .... "
“Sudah, lo nggak usah mikir yang aneh-aneh, gue pasti bantu lo untuk menemukan dimana mama lo berada, dan merebut Kembali apa yang seharusnya menjadi hak lo”
Bagas membuka laptopnya, dia sudah memasang alat penyadap di kamar Eren, jadi apapun yang direncanakan oleh dua orang jahat itu pasti dengan cepat akan diketahui oleh Bagas.
“Daf sepertinya dua orang iblis itu akan keluar nanti malam, bagaimana kalau kita ke ruang bawah tanah?”
“Sepertinya itu ide yang bagus bang, kalau begitu ayo kita siap-siap membawa alat apapun yang dapat digunakan untuk membongkar ruang rahasia yang lain”
"Oke"
__ADS_1