
“Ika, itu orang mau ngapain Ka?” tanya Dhiva keheranan dengan gadis-gadis dan para lelaki muda itu saling berc*uman liar di dalam ruangan dengan bebasnya.
“Va, apakah kamu nggak pernah lakuin hal kayak gitu?” tanya balik Ika.
Dhiva menggelengkan kepalanya, dia yang memang pacarana dengan Emir tanpa ada sentuhan fisik yang berlebihan demi melindungi martabatnya sebagai Wanita agar tetap suci sampai halal.
“Dhiva aku berharap semoga kamu tetap bisa mempertahankan kesucianmu sampai kamu benar-benar menikah dan sudah halal disentuh oleh kekasih halalmu” ucap Ika memelas dengan wajah sendu.
Melihat manik mata Ika, sepertinya banyak sekali kepedihan yang tengah dirasakan oleh Ika.
“Ika maafin aku, bukan maksudku untuk…………….”
“Ssssttttt………..” Ika menyela ucapan Dhiva, “Bukan kamu yang salah kenapa minta maaf? Mungkin aku harus kuat menghadapi ujian berat ini Va” Ika memeluk Dhiva erat.
Sejenak Dhiva dan Ika melupakan kejadian tragis yang mereka hadapi, ada masa depan yang menanti mereka untuk dihadapi dengan kepala dingin dan pikiran terbuka untuk mengungkap kebenaran yang ada.
“Ika, jam berapa ini?” tanya Dhiva.
Ika mengusap layer ponselnya, matanya membelalak ternyata ini sudah tengah malam dan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
“Beneran Ka? Kayaknya para pecinta barang haram itu mulai pada teler Ka” ucap Dhiva sembari menunjuk ke dalam orang-orang yang kelihatan dari bilik kecil kecil itu.
“Kita keluar aja Va secara diam-diam, lagian kita juga sudah punya satu bukti untuk menjatuhkan keluarga tuan Aldo” ujar Ika mantap.
Dhiva menggelengkan kepalanya, firasatnya kini lain karena ruangan yang ada di depannya kini mengatur music yang agak slow sehingga enak didengar oleh para penikmat music.
“Ya Tuhan itu apa Ika?” Dhiva memalingkan mukanya melihat orang-orang yang tak mempunyai malus ama sekali mulai melepas pakaiannya masing-masing.
“Dhiva, biarkan aku yang kotor ini yang akan merekam aksi perbuatan haram mereka. Kamu cukup diam nggak usah melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu” titah Ika yang ingin melindungi Dhiva dari hal-hal yang tak sepantasnya ditonton.
Dhiva membalikkan tubuhnya menghadap pintu bilik kecil itu, memang suara mereka yang di dalam aula tersebut tidak dapat di dengar karena ruangan yang terlalu hingar bingar oleh alunan musik setan.
‘Ya Tuhan, ampuni dosaku selama ini memang telah sangat jauh darimu ya Allah. Hanya inilah yang dapat membantu untuk membasmi orang-orang yang tekah zolim pada kami yang lemah’ ucap Ika dalam hati.
&&&
Di dalam aula sendiri memang sudah tak layak jika dibilang mereka adalah keturunan manusia, lebih tepatnya mereka bisa dibilang sebagai keturunan manusia tapi berperilaku seperti binatang.
Katanya mereka adalah keturunan orang terpandang, konglomerat, berasal dari keluarga terhormat tapi kelakuan putra dan putri mereka justru tak ada bedanya dengan binatang yang memang tak dianugerahi akal oleh Allah.
Jika bukan demi misi yang akan dilaksanakan oleh Ika dan Dhiva, maka Ika pun sudah tak sanggup melihat perbuatan biadab para manusia l*kn*t di dalam aula tersebut.
“Huh! Kenapa sih perbuatan seperti hewan yang mereka lakukan kok nggak ada aparatur yang bisa menangkap mereka secara massal saja!” gerutu Ika sendiri.
__ADS_1
Dhiva yang mendengar keluh kesah Ika hanya tersenyum remeh, karena Dhiva juga pernah mengalami hal tersebut saat dirinya belum mendapat pertolongan dari pihak Emir.
“Va kenapa senyum kamu kok kayak devil banget?”
“Aku udah tau Ka, orang berduit itu lebih menang dan dapat menguasai kekuasaan aparat sekalipun, karena uanglah yang bergerak untuk melindungi nama baik mereka”
“Sepertinya kamu pernah mengalami kejadian serupa ya?” tanya Ika tanpa menoleh ke arah Dhiva.
“Ya! Hal tersebut sudah cukup menjadi pengalaman bagiku” ucap Dhiva sambil merogoh ponselnya yang bergetar di dalam kantong celananya.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Terpampang foto kakaknya dengan senyuman manis dan semakin mempesona.
Dhiva: “Kakak ada apa?”
Daffa: “Kamu dimana dek? Apakah kamu di lantai tiga?”
Huffftt, Dhiva menghembuskan nafas kasarnya.
Daffa: “Sudahlah dek turun, kakak tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian”
Dhiva: “Baik kak”
Tut
Dhiva mengakhiri sambungan telfon dengan kakaknya.
“Ika, ayo turun. Kakakku barusan nelfon nyuruh kita turun aja”
“Baiklah, ini sudah cukup untuk diajukan sebagai bukti walaupun belum semuanya dapat kita buktikan untuk membasmi keluarga Aldo”
Dhiva dan Ika meutuskan untuk mengakhiri pengintaian yang telah mereka lakukan sedari sore itu. Mereka berjalan mengendap-endap untuk mencapai tangga tapi tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mengetahui Ika dan Dhiva.
“Haaaiii……………siapa lo………….?” Terdengar suara seorang pria tapi dengan suara yang khas saat seseorang itu sedang teler.
Deg
Jantung Ika dan Dhiva berdetak dengan kencang, tanpa menunggu aba-aba dari salah satunya mereka pun mengambil Langkah seribu agar cepat menuruni anak tangga yang cukup Panjang itu sampai ke lantai dasar.
__ADS_1
&&&
Hah hah hah
Hah hah hah
Hah hah hah
Dengan nafas yang terengah-engah mereka akhirnya sembunyi di balik pot bunga yang cukup besar sehingga siapapun yang akan mencarinya dapat dipastikan tidak akan menemukan keberadaannya.
“Va semoga orang tadi tidak menemukan kita ya” ucap Ika yang dalam ketakutan.
“Ya Ka, aku nggak mau kalau kita jadi bulan-bulanan orang-orang biadab itu jjika kita sampai ketahuan” Dhiva menoleh mengamati wajah Ika yang memang Nampak sangat ketakutan. “Kita berdoa saja ya semoga kita selamat dan dilindungi oleh Allah”
“Aamiin……” ucap Ika yang mengaminkan doa teman sekaligus sahabat barunya itu.
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara Langkah kaki orang yang jarang-jarang, apakah mungkin orang yang teler tadi sedang mencari keberadaan Dhiva dan Ika?
“Haaii…….dimana kalian…..?”
Cekuk cekuk cekuk, terdengar suara cegukan dari suara laki-laki yang mencari Dhiva dan Ika dari balik pot bunga.
Deg
Dhiva melongokkan wajahnya sedikit untuk mengetahui apakah benar itu si lelaki l*kn*t yang mengikutinya kini?
Dhiva menutup mulutnya yang hampir saja bersuara, karena laki-laki tadi tidak menghadap Dhiva tetapi malah membuka resleting celananya mungkin akan buang air kecil di depan Dhiva.
Cuuurrr
Hampir saja air seni itu mengenai Dhiva kalau saja Dhiva tidak bergeser sedikit saja memepet Ika yang masih duduk dengan lutut yang ditekuk.
Huffftt
‘Bau banget sih ini kenc*ng! makan apa sih ini orang? Apa makan kadal ya tiap harinya?!’ gerutu Dhiva dalam hati sembari menutup mulut dan hidungnya.
‘Itu setan atau apa sih kencing sembarangan?!’ gerutu Ika juga dalam hati sambil memelototkan kedua matanya agar dapat dibaca oleh Dhiva tentang suara hatinya.
__ADS_1
“Hah kemana sih itu bocah dua itu ngilang?” suara lelaki itu yang perlahan menghilang