MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
keluarga sombong


__ADS_3

Episode 21


Hari ini adalah hari pertama Daffa dan Dhiva bekerja sebagai pembantu di rumah orang tuanya sendiri, andaikan papa dan mamanya masih tinggal di rumah ini mungkin nasib Daffa dan Dhiva tidak akan menderita seperti ini.


Sesuai dengan penyamaran awal, Daffa membuat tompel lebar di pipi kanannya sedangkan Dhiva membuat tompel besar di pipi kirinya. Daffa dan Dhiva sengaja tampil lebih culun lagi agar wajahnya yang memang mirip seperti mama dan papanya tidak mudah dikenali oleh siapapn di rumah itu.


“Hai, namaku Ika. Kamu pembantu baru ya disini?” tanya Ika seorang pembantu yang sudah bekerja di rumah ini sekitar tiga bulan yang lalu.


Daffa dan Dhiva bersalaman dengan Ika yang dengan ramahnya memperkenalkan diri.


“Aku Ipah dan ini kakakku Udap” jawab Dhiva.


“Kak Udap aku udah tanya sama bik Inah tadi kakak kebagian kerja menjadi tukang kebon dan Ipah ikut bersih-bersih dan memasak dengan aku dan bik Sumi “ terang Ika lalu keduanya manggut-manggut mendengarkannya.


“Iya makasih”


Daffa sudah beranjak ke halaman mungkin akan mengikuti arahan dari pak satpam sedangkan Dhiva mengekor Ika yang akan ke dapur membantu masak.

__ADS_1


Keluarga Aldo memang selalu masak berbagai jenis olehan masakan, mereka yang terbiasa makan di restoran mahal tidak mau makan asal-asalan di rumah, jadi pembantu yang bekerja sebagai koki di rumahnya harus selalu belajar menu baru sesuai dengan makanan di restoran yang sedang ngetren.


“Bik Sumi, saya bantu ya” tawar Ika, “ Ini juga teman baru aku Ipah Namanya juga akan membantu bik Inah kerja”


“Eh ada gadis manis. Boleh-boleh sini bantuin bibik ya masak capcay, stik daging, sushi dan gurami asam manis”


Dhiva yang baru pertama mendengar menu masakan yang aneh-aneh ini dia merasa heran dengan keluarga omnya yang suka menghambur-hamburkan uang sesuka hati.


“Pah kenapa ngelamun? Heran ya dengan menu masakan tadi?” tanya Ika sambil menyenggol lengan Dhiva.


“Oh itu ya, jika tuan dan nyonya lagi berbaik hati ya dikasih ke kita-kita, tapi jika hati mereka sudah gelap ya makanan yang masih banyak itu dimasukin ke tong sampah nak” jelas bik Inah yang tanpa ditutup-tutupi.


Dhiva menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ternyata selain perebut harta kedua orang tuanya juga tukang menghamburkan uang dengan berfoya-foya semaunya.


Satu jam sudah selesai memasak, kini giliran Dhiva dan Ika membersihkan dapur beserta peralatan yang digunakan untuk memasak.


&&&

__ADS_1


Dhiva dan Ika membantu bik Inah menghidangkan makanan tadi yang sudah dimasak di meja makan, bagi Ika jika melihat hal tersebut orang kaya mah bebas mau ngapain asalkan ada uangnya.


Tapi beda dengan Dhiva, dia justru sangat sedih melihat hal tersebut, dia kasihan sama kakek dan papanya yang telah bekerja keras memajukan perusahaan hingga mempunyai ratusan cabang di berbagai kota justru kekayaannya di pakai om dan tantenya untuk berfoya-foya saja.


“Dhiva kok kamu ngelamun, kangen ibu ya?” tanya Ika yang membuyarkan lamunan Dhiva.


“Eng-enggak Ka. Kita terus ngapain habis ini?” Dhiva mengalihkan pembicaraannya agar Ika tidak banyak bertanya padanya.


Keduanya menunggu majikan mereka makan di runang makan sedangkan Dhiva dan Ika, keduanya masih menunggui.


“Hei gadis tompel sini lo!” bentak seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh satu tahun.


“Kenapa lo kaget ya? Dasar orang kampung udik makanya kaget melihat kami makan masakan yang mahal”


Dhiva hanya diam tidak mau berdebat dengan anak om dan tantenya, jika sampai misii ini gagal, bisa-bisa om dan tantenya akan membawa bodyguard untuk memukuli mereka berdua.


Dhiva memberanikan diri melirik orang-orang yang sedang makan diruang makan, 'ada seorang lelaki paruh baya mungkin itu om ku dan disampingnya mungkin itu tante ku. itu ada satu pria muda dan 2 gadis mungkin itu sepupuku' batin Dhiva.

__ADS_1


__ADS_2