MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
berangkat ke kota


__ADS_3

Ibu nggak apa-apa nak, ibu hanya takut jika ibu kangen pada kalian, jarak kita yang berjauhan pasti akan sangat sulit bagi ibu untuk melepas rasa kangen yang tertahan” ucap Bu Marni yang menyeka air matanya yang tidak bisa diajak kompromi.


“Bagaimana kalau kak Daffa dan Dhiva berkemas sekarang aja? Besok pagi kita langsung berangkat ke Jakarta” saran Emir sembari memandang Bu Marni meminta persetujuannya, mengingat Bu Marni lah yang merawat Daffa dan Dhiva dari kecil.


Bu Marni menganggukkan kepalanya, bagaimanapun juga dia tidak mau egois jika melarang Daffa dan Dhiva menemukan masa depannya dimana tempat asalnya.


Setelah membantu Daffa dan Dhiva membereskan bawaannya, rasa Lelah Bu Marni membawanya ke kamar untuk mengistirahatkan raganya.


Di tatapnya langit-langit kamar yang telah using, karena memang yang ditempati adalah bangunan yang sudah lama dan mungkin juga sudah minta dipugar Kembali, tapi apalah daya dananya belum ada.


Bu Marni mencoba memejamkan matanya tapi matanya seolah enggan untuk terpejam walaupun hanya sebentar saja.


Sayup-sayup Bu Marni mendengar suara isakan tangis dari arah kamar Dhiva, seketika itu juga hati Bu Marni ikut teriris, rasa cinta yang sangat besar melebihi cintanya pada diri sendiri membuat Bu Marni seakan tak rela melepas kepergian kedua anak angkatnya.


“Dhiva” Bu Marni menghampiri Dhiva yang masih dalam posisi tengkurap sambil membelai rambut Dhiva yang panjangnya sepinggang, tapi yang dibelainya masih enggan untuk membalikkan badannya.


“Sayank, jika kamu keberatan Kembali ke kota nggak pa-pa hiduplah dengan ibu walaupun kita hidup sederhana tapi ibu masih bisa menghidupi kamu nak”

__ADS_1


Dhiva membalikkan badannya, ditatapnya manik mata ibu angkatnya itu lalu menghambur ke dalam pelukan sang ibu.


“Ibu, Dhiva takut ibu kenapa-napa jika Dhiva tinggal sendiri bu, hiks……….hiks………hiks………” tangis Dhiva pun pecah tapi tidak untuk Bu Marni, dia akan menyimpan kesedihannya itu agar tidak diketahui oleh Dhiva dan juga Daffa.


“Hei ibu nggak pa-pa sayank, ibu akan baik-baik saja di rumah sendirian. Sudah jangan nangis lagi ya, tambah jelek tuh kalau nangis terus” goda Bu Marni.


“Ayo tidur gih, biar besok nggak kesiangan” ajak Bu Marni sambil mengelus-elus rambut Dhiva seperti kebiasaan Dhiva di waktu kecil.


&&&


“Papa kenapa sih? Tiap kali marah dan ada masalah selalu saja pembantu yang jadi sasaran. Untung masih ada ruang rahasia pa, jika tidak ada terus bagaimana nasib keluarga kita ke depannya pa? Apalagi jika sampai ada yang melapor Tindakan kriminal papa” Eren mendengus kesal dengan ulah suaminya, tentu saja Aldo yang tega membantai pembantunya jika membuat masalah sedikit saja.


‘Ma, sekarang kamu ini sudah tidak hot seperti dulu lagi, mau nggak mau harus ku lampiaskan pada pembantu. Dasar pembantu diajak enak-enak nggak mau! Yach ku bunuh aja’ Aldo membatin sambil menyeringai tanpa sepengetahuan istrinya.


Eren masih saja mondar-mandir di dalam kamar, dalam kegusarannya itu memikirka gimana caranya mengambil pembantu lagi untuk membantu pembantu yang sudah tua-tua itu mengurus rumah peninggalan kakek Bimantara yang luas dan megah.


Jika meminta pada pihak Yayasan pasti akan dicurigai pasalnya mereka baru dua hari yang lalu meminta pembantu yang berakhir di pistol Aldo.

__ADS_1


“Mama stop! Papa pusing melihatnya dari tadi mondar-mandir terus!” bentak Aldo.


“Mama ini pusing pa, gimana caranya dapat pembantu jika kemaren aja kita baru saja meminta pembantu dari Yayasan. Bagaimana kalau mereka mencurigai kita?”


“Ya udah tunggu aja sampai ada orang yang mau melamar kerja jadi pembantu. Gitu aja kok repot!”


“Bener juga ya pa. mama kok nggak kepikiran sama sekali”


&&&


Keesokan harinya Daffa, Dhiva dan juga Emir berpamitan pada Bu Marni, mereka bertiga sudah siap berangkat ke Jakarta menyambut masa depan yang entah bagaimana nantinya.


“Baik-baik ya disana sayank, jangan lupa kabari ibu ya” Bu Marni memeluk Daffa dan Dhiva secara bergantian.


“Kami pamit ya bu. Doakan agar kami bertemu dengan mama dan papa” Daffa, Dhiva dan juga Emir tak lupa untuk salim kepada Bu Marni.


Taksi online yang dipesan pun sudah tiba di depan rumah sederhan Bu Marni, sehingga perpiasahan itu mau tak mau tetap tak dapat dihindari.

__ADS_1


“Dadah ibu, assalamu’alaikum”


__ADS_2