
Emir memunguti pecahan figura tapi pikirannya melayang membayangkan bagaimana keadaan Dhiva saat ini hingga tanpa dia sadari jarinya tergores pecahan figura itu.
"Awww... " Emir meringis menahan sakit di jarinya.
"Mir jari kamu berdarah nak?" tanya papa Haruga sambil mengambil tisu yang diatas meja.
"Nggak parah kok pa, biar nanti juga sembuh sendiri" Emir berjalan ke pojok ruangan lalu mengambil anti septik dan obat luka yang terdapat dalam kotak P3k.
"Dhiva...................... " jerit Emir yang amat kencang sangat mengejutkan papanya juga sekretaris nya yang diluar ruangan.
"Emir kamu kenapa nak?" tanya Papa Haruga sambil terus menepuk-nepuk pipi putranya.
"Papa nggak seharusnya Emir biarin Dhiva tinggal di rumah itu pa. Emir sanggup menghidupi Dhiva tanpa dia harus mengorbankan dirinya bertahan di rumah itu"
"Mir, sudah jangan menyalahkan diri sendiri, jika kamu tidak rela Dhiva disana akan mendapat siksaan, Papa ngijinin kamu ikut kesana menemani Dhiva"
"Ayah serius?"
Papa Haruga menganggukkan kepalanya tanda setuju.
&&&
"Tuan muda apa yang kau lakukan pada Ipah?" Ika mendekati Dhiva yang tergolek tak berdaya itu.
"Itu hukuman untuk orang yang sudah berani nentang gue!" jawab Dion ketus tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ba-bagaimana jika Ipah meninggal tuan?"
"Lo tau kan jika orang udah koit diapain?"
"Dikub-kubur tuan" jawab Ika tergagap.
"Bagus lo tau!"
Ika menutup mulutnya, begitu sangat keji perilaku majikannya itu seperti nya nyawa hanya sekedar mainan buatnya.
Ingin rasa hati melawan dan menginjak-injak mulut sang majikan yang tajamnya melebihi pedang samurai, tentunya Ika pasti akan kalah karena tenaganya sangatlah kecil dibandingkan sang tuan muda yang kekar.
Dipandang nya punggung sang majikan yang berjalan menuju kamarnya.
'Ya Tuhan bagaimana ini? Semoga Ipah nggak kenapa-napa' gumam Ika.
Saat hendak memapah tubuh Dhiva, tampak di ujung lorong ada Daffa yang sedang menyapu lantai. Ika yang merasa tak mampu membawa Dhiva mau tak mau harus memanggil Daffa yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.
"Kak Daffa.... kak" panggil Ika tapi Daffa sepertinya belum mendengar panggilan Ika.
Ika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia semakin gelisah melihat Dhiva yang tidak kunjung siuman.
Ika berlari-lari kecil menghampiri Daffa yang masih dengan aktivitasnya.
"Kak Daffa, maaf bisa ngangkat tubuh Ipah"
Daffa menelisik manik mata Ika, dicari kebohongan dimata itu tapi tak ditemukan.
"Cepat kak, kasihan Ipah dia pingsan"
"Apa...? Kok bisa.....!"
__ADS_1
"Ceritanya panjang kak. Nanti saya ceritakan yang sebenarnya" sambung Ika lagi.
Drap drap drap
Daffa berjalan begitu cepat hanya dalam hitungan detik sudah sampai diruang tengah dimana Dhiva pingsan tadi.
"Dek bangun, bangun dek" Daffa menggouang-goyangkan tubuh Dhiva tapi belum juga ada respon.
"Kak ayo kita bawa Ipah ke kamarnya" ajak Ika.
Daffa membawa tubuh Dhiva ala bridal style ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ika mengambil minyak angin lalu dioleskan pada leher dan juga pelipis Dhiva.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Dhiva sadar dan membuat sang Kakak menyunggingkan senyumnya.
"Kakak" panggil Dhiva saat tersadar dari pingsannya.
"Dek apa yang terjadi padamu? Katakan sejujurnya pada kakak?" Daffa mengintograsi adiknya agar tidak ada yang disembunyikan tentang apapun yang telah dialaminya.
"Bukan Ipah kak yang berurusan dengan tuan muda, tapi saya kak" Ika menyela jawaban Dhiva sebagai bentuk rasa bersalah nya karena telah menyelamatkan kehormatan nya.
Daffa menoleh sekilas ke arah Ika, terlihat jelas di wajahnya ada ketakutan yang luar biasa dari gadis itu.
"Memang apa yang dilakukannya padamu hingga adekku jadi korban nya?"
Ada rasa kesal, marah yang campur aduk jadi satu dalam benak Daffa. Jika memarahi Ika justru akan semakin memojokkan gadis itu, jika urusan nya dengan majikan mau tak mau Daffa juga harus berpikir seribu kali agar penyamaran nya tidak terbongkar.
"Kak, udah. Jangan diperpanjang masalah ini, perjalanan kita masih panjang"
"Tapi dek"
"Oke, tapi kalau sampai kakak melihat sesuatu terjadi disini, kakak janji akan mengobrak-abrik tempat ini"
"Tapi Kak...... "
"ssssttt.... sudah" ujar Ika agar suasana tidak diantara dua bersaudara.
&&&
Selang beberapa hari semenjak kasus yang menimpa Ika dan Dhiva suasana rumah kembali damai karena majikan beserta anak-anaknya sedang berlibur ke luar kota.
Daffa dan Dhiva mulai mempelajari seluk-beluk rumah mewah itu, begitu banyak ruangan dan begitu banyak lorong yang terdapat di dalamnya.
Saat sedang menyusun strategi tiba-tiba kedua Bersaudara itu dikejutkan dengan suara jeritan dari seorang gadis yang terdengar sangat memilukan.
"Jangan tuan muda, tolong...jangan lakuin itu padaku"
Begitu mendengar suara jeritan itu, Dhiva dan kakaknya berlari kecil mencari sumber suara.
"Kak sepertinya suaranya di kamar tamu?"
"Iya dek, ayo"
Daffa dan adiknya menguping didepan pintu kamar tamu, terdengar jeritan permintaan tolong dari seorang gadis.
Ternyata pintu kamar tamu tidak terkunci juga tidak tertutup rapat, jadi Daffa dengan mudah mengintip dari balik pintu apa yang terjadi.
__ADS_1
Brakk
Daffa menggebrak kan pintu lebih keras hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan mengejutkan penghuni rumah.
"Baj*ng*n! B*ngs*t! Kamu bukan manusia melainkan hewan!"
Bugh
Bugh
Daffa melayangkan tinjunya pada Dion yang sudah bertelanjang dada.
"Lo, lo jangan sekali-kali ikut campur urusan gue! Cepat lo pergi dari kamar gue!"
Daffa menatap nyalang pada Dion, amarah kian membuncah saat melihat Ika yang setengah tel*nj*ng.
Srett
Daffa melemparkan selimut pada Ika agar segera menutupi tubuhnya agar tidak dinikmati oleh sembarang mata pria jahat.
Bugh
Satu tendangan mengenai pundak kanan Daffa.
"Lo tau tendangan apa itu?"
"Cih! Dasar penjahat kelam*n!" Daffa meludah di depan Dion hingga membuat Dion semakin geram.
Bugh
Bugh
Kali ini tendangan mengenai perut Daffa hingga terhuyung ke belakang.
"S*t*n! Ibl*s!" umpat Daffa.
Daffa mengangkat kursi hendak dilemparkan pada Dion tapi...
"Jangan kak!" teriak Dhiva yang masih berdiri didepan pintu kamar tamu.
"Apa kamu bilang? Kenapa kamu menghalangi kakak untuk membunuhnya?"
Dhiva menghampiri kakaknya sembari menundukkan kepalanya.
"Maafin Dhiva kak"
"Dia pantas mati dek!"
"Kak, Dhiva nggak ingin kakak menjadi seorang pembunuh, Dhiva nggak ingin kakak berakhir dipenjara"
Daffa menurunkan kursi tadi yang masih terangkat diatas kepala.
"Maaf dek, kakak sudah membuat kamu bersedih" Daffa memeluk erat adiknya, dia merasa sangat bersalah pada adiknya, karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa menjaga Dhiva.
"Hah! Kalian akan dapat balasan dari gue!" ancam Dion berlalu meninggalkan kamar tamu.
Ika yang masih bingung antara nama Ipah dan Dhiva, kenapa temannya seperti menyembunyikan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Ipah, kenapa nama kamu jadi Dhiva? Apa yang kamu sembunyikan dariku?"