MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Kisah Shelva


__ADS_3

“Ada apaan sih Dion manggil-manggil mama?” teriak Eren dari kejauhan.


“Ma ini lo Shelva pingsan ma” ucap Dion yang agak panik karena belum juga mencambuk tapi adiknya sudah pingsan duluan.


Eren mendekati Dion dan Shelva dengan santai tanpa ada beban dan rasa khawatirnya sedikitpun, bagi Eren gadis remaja yang tergeletak tak berdaya itu bukan apa-apa dan bahkan bukan siapa-siapa baginya selama suaminya tidak ada di rumah.


“Bi Sumi…………….” Panggil Eren dengan berteriak sekencangnya.


Begitu mendengar teriakan Eren, bi Sumi tergopoh-gopoh menghadap Eren.


“Ada apa nyonya?” tanya Sumi sambil menundukkan kepalanya.


“Ambil air satu ember! Cepat!” bentak Eren dengan kasarnya.


Siapapun penghuni rumah ini pasti sudah tahu betapa bengisnya Eren dan suaminya yang tak punya hati, juga dengan kedua anaknya kecuali si bungsu yang memang tidak terlahir dari Rahim Eren.


Bik Sumi melaksanakan perintah dari Eren dengan membawa air satu ember, entah apa yang akan dilakukan dengan air satu ember itu yang pasti bik Sumi sama sekali tidak mengetahuinya.


“Bawa sini cepat! Lelet banget sih jadi orang!” Eren menarik ember yang dibawa bik Sumi hingga airnya muncrat tercecer di lantai.


“B*g* banget sih jadi pembokat! Cepat ambil air lagi!”


Untuk kedua kalinya bik Sumi mengambil air sesuai perintah sang majikan, memang majikan yang sangat zolim pada para pembantunya. Entah kapan sang majikan akan mendapat balasan yang setimpal dari perbuatannya.


Eren menarik lagi ember dari tangan bik Sumi kali ini untung air di ember tersebut tidak jadi tumpah, mungkin keberuntungan sedang berpihak pada bik Sumi.


Byuurrr


Air satu ember tepat mengenai tubuh Shelva hingga basah kuyup, gadis itu seolah menggigil karena kedinginan. Matanya yang semula masih terpejam perlahan sedikit-sedikit mulai terbuka.


“Bangun pemalas!” bentak Eren sambil kakinya menendang-nendang pantat Shelva.


Karena Shelva tak kunjung-kunjung sadar dari pingsannya, Eren berteriak—teriak seperti orang kesetanan.

__ADS_1


“Dasar anak pelakor! Sekali hina ya tetap hina selamanya!”


Cling


“Hii………………hii…………..hii…………………hii……………….hii………………hii………………hii……………………” tubuh Shelva menjelma menjadi arwah penasarannya Sherly, arwah penasaran Sherly tertawa cekikikan di depan Eren.


“Pergi lo! Pergi!” Eren berteriak histeris karena ketakutan, dia pun sekarang sadar jika Wanita cantik yang tak lain adalah arwah Sherly ternyata sekarang muncul di dunia nyata bukan hanya mimpi sekarang.


Eren mundur selangkah tetapi arwah Sherly juga maju selangkah mengikuti pergerakan Eren yang sedang ketakutan.


“Hii…………hii………….hii……………Eren-Eren, kenapa kamu takut padaku Eren? Bahkan kamu begitu beringas saat menghancurkan aku Eren!”


“Eren, kamu tunggu disini saja ya, sebentar lagi putra dan putriku akan menghancurkan hidupmu Eren. Hii……………….hii…………….hii…………….hii……………….hii……………………”


Puk


Eren terlonjak kaget saat ada yang menepuk pundaknya, serasa jantungnya sudah copot dan loncat entah kemana.


Eren menoleh ke arah Dion yang berdiri di sampingnya, Eren kini sudah bisa bernafas dengan lega karena Dion pasti akan menjaganya dari hal-hal yang membuatnya ketakutan.


“Hah-hah Dion, untung kamu nak” ucap Eren seperti orang kesusahan.


“Mama lihat apa sih tadi kok sampai mundur-mundur gitu? Mama takut ngelihat Shelva?” tanya Dion sambil menelisik manik mata mamanya.


Eren menggeleng pelan, bukan Shelva yang ditakuti melainkan arwah penasaran yang namapk di depan Shelva bahkan menutupi badan Shelva sepenuhnya.


“Dion ambilin air, mama sangat haus” titah Eren dengan segera dilaksanakan oleh putra semata wayangnya itu.


Suasana hening karena Shelva masih tergolek pingsan di lantai, mereka masih berada di ruang keluarga tapi letaknya agak jauh dari dapur dan ruang makan, mungkin saking besarnya rumah keluarga Bimantara ini makanya ada beberapa ruang dan kamar yang tidak dipergunakan oleh mereka.


Eren merasakan jika hawa di rumah besar itu akhir-akhir ini menurutnya sangat tidak enak, terutama semenjak dia bermimpi ketemu dengan Sherly beberapa malam yang lalu.


Tiba-tiba bulu kuduk Eren meremang, hawanya agak sedikit dingin dari yang tadi, di dekat telinganya dia merasakan ada hawa dingin yang meniup telinganya yang kedua kalinya.

__ADS_1


“Ereeen………………” bisikan yang mendesah perlahan membangkitkan sisi ketakutannya semakin menusuk hati.


“Pe-pe pergi!” bentak Eren tapi gagal total karena suaranya yang gemetaran sangat menjatuhkan harga dirinya yang sombong dan angkuh.


Ma ini airnya” Dion menyodorkan gelasnya ke tangan mamanya, Dion agak panik karena melihat mamanya seperti orang yang ketakutan akan ha ghoib yang tak kasat mata. Sudah dua kali ini Dion melihat mamanya ngomel-ngomel sendirian dan seperti bicara dengan hal yang berbeda alam dengan dirinya.


&&&


Sepeninggal Eren dan Dion, Shelva dipapah oleh Ika dan Dhiva yang sejak tadi mengintip dua majikannya yang tidak punya hati menyakiti keluarga tercintanya.


“Ka, non Shelva kita taruh dimana?” tanya Dhiva saat sudah sampai di depan kamar bik Inah.


“Kita taruh saja di kamar bik Inah aja, non Shelva itu kesayangannya bik Inah. Ayooo” ajak Ika yang melangkah duluan ke dalam kamar yang dituju.


Dhiva merasakan sakit di ujung hatinya melihat Shelva yang tak berdaya tapi diacuhkan oleh kakak dan mamanya.


Melihat Shelva seakan menciutkan niat awal Dhiva yang ingin merebut Kembali harta-harta peninggalan kakek dan papanya. Padahal Shelva anak mereka tapi kok


‘Jangan pernah menyerah Dhiva! Kamu harus menegakkan kebenaran demi ayah mama, papa dan kakek!’ Dhiva menyemangati dirinya sendiri.


Dhiva masih menunggui Shelva di kamar bik Inah sampai bik Inah Kembali ke kamarnya setelah melaksanakan perintah dari sang majikan siapa lagi kalau bukan macan betina, Eren.


Dhiva memang sudah mengenali bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan bik Inah yang mempunyai gangguan pada pita suaranya, walaupun begitu bik Inah bisa mengerti apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya, sedangkan bik Inah akan menjawabnya dengan menulis di kertas kecil.


“Bik, bisa monta tolong, kasihan non Shelva” ucap Dhiva sembari memandang wajah bik Inah yang mulai keriput itu.


Dengan segera bik Inah mengambil kertas lalu menulisnya dengan cepat, “Non Shelva sudah mempunyai penyakit jantung bawaan sejak kecil, kasihan dia yang hanya anak dari seorang pelakor” tulisan yang jelas membuat Dhiva menganga.


“”Non Shelva sudah biasa mendapat perlakuan buruk dari dari mama sambungnya, hanya tuan besar saja yang sayang padanya tapi tuan besar jarang pulang” lanjut tulisan bik Inah lagi.


“Bik tolong tangani non Shelva ya, Ipah ma uke dapur dulu bantuin bik Sumi masak” pamit Dhiva pada bik Inah.


Bik Inah menganggukkan kepalanya, saat matanya beradu pandang dengan mata Dhiva, bik Inah seolah melihat tatapan teduh milik juragannya dulu yang tiba-tiba hilang entah kemana sehingga kepemilikan terpaksa dialihkan oleh adik majikannya yang sangat kejam dan beringas begitu pula dengan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2