
Tok tok tok
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum” sapa Daffa, tapi belum ada jawaban dari dalam. Daffa tetap menunggu ibu dan adiknya untuk membuka pintu, mungkin malam yang sudah larut hingga membuat Bu Marni dan Dhiva seudah terlelap di alam mimpi.
‘Ck! Lama banget sih bukain pintunya!’ gerutu Daffa yang emang sudak tak sabar untuk masuk rumah, maklum perjalanan yang Panjang dan pertarungan yang lumayan menguras tenaga sangat melelahkan dirinya hari ini.
Tok tok tok
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum” kali ini suara Daffa lebih kencang terdengar daripada tadi.
Terdengar suara orang berjalan di dalam rumah tapi suara Langkah kaki itu terdengar cukup pelan, mungkin baru bangun tidur jadi nyawanya belum terkumpul sempurna.
Cklek
“Wa’alaikumsalam” jawab Bu Marni yang masih mengucek-ucek matanya karena masih ngantuk.
Dengan segera Daffa meraih punggung tangan ibunya untuk disalim, memang Daffa adalah contoh anak yang sangat berbakti pada ibunya.
“Ibu” tak lupa pelukan hangat selalu ia dapatkan dari ibunya, pelukan sayang dan semangat agar bisa menjalani hidup yang semakin keras.
“Eh jagoan ibu udah pulang. Ayo masuk bersih-bersih badan lalu tidur ya sayang” Daffa mengangguk lalu masuk ke dalam ruang tengah sekedar untuk mengambil air minum dulu dari rasa haus yang sudah ia tahan dari tadi.
“Dhiva udah tidur atau belum bu?” tanya Daffa sembari meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
“Ya sudahlah, tad ikan Dhiva bantu dorong gerobak ibu, mungkin dia sangat kecapekan”
“Kalau begitu biar saja Dhiva tertidur, ini ada martabak telor kesukaan ibu, makan dulu bu sebelum dingin”
Daffa meletakkan dua bungkusan dari kantong kresek yang berwarna hitam itu di atas meja, Daffa sangat sayang pada ibunya disini ia belajar menjadi orang yang sederhana dan menghargai sesuatu.
Setelah bersih-bersih ia menuju kamarnya untuk beristirahat, untuk menceritakan tentang kemenangannya mungkin dapat diceritakan besok pagi setelah rasa lelahnya berkurang banyak.
&&&
Inar matahari masuk ke dalam kamar Emir melalui lubang-lubang kecil pada dinding kamar yang terbuat dari bahan kayu jati.
__ADS_1
Emir yang menatap silau mau tidak mau memang harus bangun untuk menunaikan kewajibannya.
‘Astagfirullah sudah jam tujuh, kenapa nenek tidak membangunkanku? Kan aku melewatkan kewajibanku’ desis Emir yang kesal pada dirinya sendiri karena tidak menunaikan kewajiban paginya.
Emir beranjak dari tempat tidurnya menuju meja belajarnya, di atas meja ada sebuah amplop khusus yang masih rapi dan belum terbuka sama sekali.
‘Ada amplop, milik siapa ini? Ah tapi kalua milik orang lain kenapakok ada disini? Bodo amat milik siapa ini kek kalua di meja aku berarti juga amplop itu milikku?’ batin Emir.
Dibukanya perlahan, seketika matanya membelalak melihat tulisan tangan papanya itu, akhirnya Emir membaca dengan seksama isi dalam serat tersebut.
Dear Emir
Assalamu’alaikum Wr, Wb.
Apa kabarmu Emir sayang? Maafin papa yang sekian lama baru bisa menanyakan kabar, apalagi hanya lewat surat. Tentu itu akan membuatmu marah dan sangat membenci papa kan?
Papa mohon kamu Kembali ke rumah, papa sudah tua nak, papa ingin kamu yang memimpin perusahaan papa, dan setelah Kembali kamu bisa langsung belajar dengan asisten kepercayaan papa.
Sebenarnya ini mungkin nggak adil buat kamu ya sayang? Papa bukannya mau mengorbankan masa depan kamu hanya menjadi pemimpin tapi papa ingin kamu bisa memamntaskan diri jika ingin bersanding dengan calon istri kamu nanti. Papa tidak ingin ada hinaan dari keluarga istri kamu nanti.
He…hee….he….
Papa seperti sedang banyak memohon sama kamu ya? Papa seperti anak kecil ya?
Salam sayang
Papa Amron Prasetyo
Wassalamu’alaikum wr,wb.
Emir melipat Kembali surat tersebut lalu memasukkan ke dalam amplop. Emir mendadak gusar, ia tidak ingin berpisah dengan gadis cantik yang berwajah oriental itu, senyumnya dan mata sipitnya selalu menari—nari dalam pelupuk matanya.
‘Sebaiknya aku ke rumah Dhiva, aku ingin dia tahu perasaanku dan aku ingin tahu reaksi dia bagaimana jika mengetahui aku akan Kembali ke kota tempat asalku berada?’ gumam Emir seraya memakai pakaiannya.
Setelah berpamitan pada neneknya akhirnya dia pergi ke rumah Dhiva sambal menunggangi kuda besinya melaju di jalan pedesaan yang masih lengang.
&&&
Emir memarkir motornya tepat di halaman rumah Bu Marni, ia tersenyum lega melihat Dhiva, Daffa dan ibunya sedang bercengkerama di teras rumah.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum” sapa Emir yang langsung dijawab kompak oleh ketiga orang tersebut.
“Mari duduk nak Emir, sini dekat dengan Daffa” Bu Marni menunjuk kursi yang masih kosong di sebelah Daffa.
“Gimana keadaan kakak?” tanya Emir sambal menatap wajah Daffa yang masih kelihatan pucat.
Daffa tersenyum simpul, melihat senyuman Daffa berarti pertanda sakit yang dirasakan oleh Daffa sudah berkurang atau bahkan sama sekali sudah tidak terasa.
“Selamat ya kak udah jadi juara kelas sedang” Emir mengulurkan tangannya yang disambut oleh Daffa.
“Kamu juga selamat Mir, ternyata kamu yang tadinya lembek bisa jadi juara juga di pertandingan kelas ringan”
Mereka terkekeh bersamaan, latihan yang diadakan selama dua minggu akhirnya memperoleh hasil juga dan tidak mengecewakan perguruan silat yang menaunginya.
“Wah anak ibu juara ya? Kenapa kamu nggak cerita Daf?” tanya Bu Marni.
“Tadinya mau aku surprise-in bu, jadi gagal deh karena Emir udah cerita duluan” Daffa menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda ia meminta maaf pada ibunya.
“Wah kakak curang ya” Dhiva menepuk lengan Daffa agak keras sedikit dan tak kalah lagi jeweran dari ibunya yang membuat telinga Daffa jadi merah.
“Ampun ibu, maadin Daffa ya bu…………” ucap Daffa yang masih meringis menahan sakit.
“Itu hukuman untuk anak ibu yang bandel”
Wle…………
Dhiva menjulurkan lidahnya meledek Daffa yang sudah kena hukuman dari ibunya.
“Kak, bolehkan aku bicara sebentar dengan Dhiva?” Emir memohon dengan wajah memelas kali aja dapat izin dari sang kakak.
Daffa melihat Dhiva yang juga sedang menatapnya, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Daffa dan ibunya memilih masuk ke dalam rumah, mereka menghormati permintaan Emir dan entah apa yang akan dibicarakan mereka berdua.
“Dhiva” panggil Emir, dari pancaran mata Emir dapat dilihat Dhiva jika lelaki yang duduk di depannya itu memendam kesedihan yang mendalam.
“Ya Mir ada apa?”
“Maaf jika kejujuranku terlalu cepat kamu dengar. Sebelum Kembali ke rumah orang tuaku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”
__ADS_1
Dhiva mengangguk, ia akui memang sejak pertama satu kelas saat SMP dan satu sekolah saat SMA Dhiva pernah punya perasaan yang berbeda jika berdekatan dengan Emir, tapi tentu saja tidak akan menembak duluan. Kadang Dhiva juga bingung dengan perasaannnya sendiri kala itu, apalagi sekarang hanya duduk berduaan dengan Emir, tentu saja akan membuat jantungnya semakin berlompatan kesana kemari.
“Dhiva, aku-aku sangat…………………..”