
Ekhem ekhem…
Suara deheman membuyarkan tatapan dua insan yang masih saling berhadapan tanpa ada yang mau memundurkan lagi.
“Maaf” ujar Daffa sambil melepas pegangan tangannya.
“Iyah…” jawab gadis itu dengan lembutnya membuat Daffa semakin ingin melompat ke udara saking gemas dan senang dengan tingkah gadis itu.
“Udahan dulu ya tatap-tatapannya, pandang-pandangannya, entar meleleh loh” goda Bagas.
Daffa dan gadis itu saling mencuri-curi pandang, bahkan keduanya saling melempar senyum masing-masing.
“Bro kenalin ini adek sepupu gue Namanya Azkia Rahmadina”
“Dek kenalin ini yang seringa abang ceritain Daffa Pratama Bimantara, putra almarhum om Angga Bimantara”
Gadis yang Bernama Azkia manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari abang sepupunya, mungkin ini adalah awal yang bagus saat kenalan, dan bisa dilanjutkan lagi ke dalam tahap yang serius.
“Azkia” gadis itu memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan cowok yang wajahnya sering dilihatnya dilayar ponselnya.
“Daffa” pemuda tampan itu juga mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Azkia sebagai tanda perkenalan.
Azkia yang sudah jatuh dalam pesona Daffa saat melihat wajah Daffa pertama kali masih menggenggam erat jabatan tangan Daffa, rasanya saat ini ingin dilamar juga oleh pemuda yang dalam khayalannya kini menjadi nyata.
__ADS_1
“Kia”
“Daffa”
Ucap mereka bersamaan hingga mereka menyunggingkan senyum karena rasa canggungnya.
“Maaf” ucap mereka bersamaan lagi.
“Kamu aja dulu” ucap Daffa.
“Iyah…senang berkenalan denganmu” kata Azkia dengan malu-malu.
“Iya sama” ujar Daffa yang tak kalah malunya.
Daffa membulatkan mulutnya, ada rasa bangga dalam hatinya kala Namanya disebutkan, mungkin dirinya sudah dikenal oleh orang-orang yang dekat dengan papanya dulu.
”Ce-cerita apa?” tanya Daffa mendadak gugup, dia sudah biasa menghadapi gadis cantik dulu saat masih bersekolah bahkan dia dulu menjadi idola gadis-gadis seusianya karena wajahnya yang rupawan, tapi kalau debaran kencangnya baru kali ini Daffa merasakannya.
“Cerita kalau….” Kata Azkia yang belum selesai udah orang yang menyela pembicaraannya.
“Dek ayo menyingkir dulu dari sini, kayaknya itu suara mobil om Aldo yang baru pulang dari luar kota” ujar Bagas sambil menarik tangan Azkia diajak ke kamar salah satu pembantu yang masih kosong.
@@@
__ADS_1
“Mama………..” panggilan yang hampir sama dengan teriakan menggema dari ruang tamu hingga ke ruang tengah membuat orang yang berada di ruang tengah semua menyingkir kecuali Eren yang masih terduduk di lantai.
Drap drap drap
Suara Langkah kaki dari bos besar memenuhi ruangan ruangan tengah yang besar dan luas itu.
“Mama…………..” Aldo berlari kecil menghampiri sang istri yang belum bangkit dari duduknya di lantai.
“Papa……….mama takut hiks……hiks……..hiks………..” Eren yang selalu terlihat garang itu menangis terisak didekapan suami tercintanya.
“Mama tenang, mama kenapa?” tanya Aldo dengan suara yang direndahkannya.
“Papa, kenapa Angga dan Sherly hidup lagi pa? hiks…….hiks……..hiks………” tanya Eren yang masih dalam isak tangisnya.
“Mama jangan aneh-aneh deh, papa baru pulang dari luar kota kenapa mama kok ngomong ngelantur kayak gini sih?” tanya Aldo yang tubuhnya terasa capek banget dari perjalanan jauh.
“Beneran pa, mama nggak bohong, bahkan penampilan mereka sama dengan saat kita mencelakainya dulu pa” kata Eren yang sudah tidak menangis lagi.
“Sudah ma jangan halu, papa mau ke kamar dulu mau istirahat” ucap Aldo lagi yang tidak mempedulikan Eren yang dianggapnya berhalusinasi.
Sepeninggal Aldo, Eren merasakan berdiri bulu romanya, ada apa ini padahal belum malam.
“Eren………….hiii……………hiii……………..hi……………”
__ADS_1