MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
merasa bersalah


__ADS_3

Aldo masih belum mengetahui jika Daffa dan Dhiva sudah menampakkan wujud aslinya, Daffa yang berwajah sangat tampan seperti papanya yaitu Angga, sedangkan Dhiva terlihat sangat cantik seperti Sherly, mamanya.


Eren masih syok, rasa takut mulai menghantui nya, padahal dulu setelah melenyapkan Sherly, Eren tak berfikiran negatif akan didatangi penampakan Sherly dan juga Angga.


Tetapi kenapa setelah 18 tahun lamaran justru sosok yang menyerupai Angga dan Sherly muncul lagi dihadapannya??


"Mama, mama kenapa?" tanya Aldo sambil menepuk-nepuk pipi Eren yang sebelah kanan.


Eren yang masih larut dalam lamunannya sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Aldo.


"Ma!" panggil Aldo sambil teriak dengan kencang.


"Pa-papa" balas Eren yang gelagapan karena panggilan Aldo tidak kira-kira.


"Mama ngelamunin apa sih? Dari tadi mama tidak menghiraukan panggilan papa, apalagi pertanyaan papa!" ungkap Aldo dengan kesalnya.


"Ma-maaf pa, mama bingung, mama takut. Kenapa Angga dan Sherly tiba-tiba muncul di rumah ini pa?" raut wajah Eren terlihat sangat kusut dan tegang, mungkin efek dari ketakutannya.


"Sudahlah ma jangan aneh-aneh, ayo kita ke kamar dulu, papa capek mau istirahat"


Aldo meninggalkan Eren yang masih termangu ditempatnya.

__ADS_1


@@@


"Kak, apakah kita akan menyamar lagi?" tanya Dhiva dengan pelan saat memasuki kamar kakaknya.


"Iya dek, Aldo belum mengetahui siapa kita sebenarnya. Jadi kita menyamar lagi untuk mengecoh mereka" jelas Daffa yang diangguki oleh sang adik.


Ternyata masih banyak trik dan strategi yang harus mereka jalankan untuk memuluskan nya.


Cklek


Emir rupanya menyelonong masuk ke dalam kamar Daffa, dia dengan sengaja menemui tunangannya ingin mengungkapkan unek-unek nya yang sudah dipendam nya selama ini.


"Sorry kak ganggu"


"Kak, rasanya aku akan bisa to the point saja, aku akan menikahi Dhiva dan mengajaknya tinggal di tempatku" ucap Emir tanpa mengalihkan pandangannya dari calon kakak ipar.


Dhiva memberi kode pada Daffa agar diam saja, jika Daffa bersuara sedikit saja bisa memperkeruh keadaan.


"Mir, aku mau menikah denganmu tapi... "


"Tapi apa Dhiv?" tanya Emir menyela perkataan sang kekasih.

__ADS_1


"Setelah misi selesai" ungkap Dhiva.


Bahu Emir merosot, tapi dia tidak mau egois, justru disini dukungan sangat penting untuk sang kekasih hati.


"Gimana?" tanya Daffa dengan serius.


Emir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah demi kamu sayank, apapun akan aku lakuin" jawab Emir mantap.


"Ma.... "


Suara Dhiva tertahan karena kakaknya sudah menghalangi Dhiva yang mendekati Emir dengan maksud ingin memeluk tunangannya.


“Eh jangan ambil kesempatan dong” Daffa menatap tajam Emir, biarpun sudah ada tanda pengikat yang berupa cincin tunangan tapi Daffa tidak akan membiarkan Emir bebas menyentuh adiknya.


“He……he……he……sorry ya kak” kata Emir sambil memundurkan kakinya.


Daffa menepuk pelan pundak Emir, sebenarnya dia juga tak enak hati menegur calon adik ipar tapi demi kebaikan Bersama harus dia lakukan itu.


“Kamu yang sabar ya, sebentar lagi misi ini akan selesai”

__ADS_1


“Aku juga minta maaf kak, seharusnya aku harus sabar dan membantu untuk menuntaskan misi ini bukan malah mendesak Dhiva agar mau menikah denganku” Emir menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah pada kekasihnya dan juga calon kakak iparnya.


__ADS_2